
Pagi yang cerah
Tiga Gou duduk dengan menghadap arah yang sama. Lidah terjulur dan ekor yang bergerak-gerak.
Mereka semua menghadap pada seekor kura-kura yang bertengger di atas batu.
Kura-kura tampaknya memberikan ceramah dan arahan pada Tiga Gou.
Entah apa yang dibicarakan mereka bisa mengerti apa tidak. Mao Yu hanya menghela nafas menyaksikan kejadian ini. Tampaknya kura-kura berbicara tentang urutan senioritas.
Hei kalian, aku punya kakek buyut sebesar dunia di padang pasir yang luas.
Namun Tiga Gou hanya menjulurkan lidahnya.
***
Di Sekte Pedang Dewa, Dunia keenam.
Tua Ji dan Zhao Ren hampir tiba di pintu gerbang sekte.
"Ren-er, Kamu tinggal di sisiku. Tak boleh ada satu luka pun di tubuhmu bahkan gigitan nyamuk." Tua Ji berkata dengan serius.
"Paman Ji, jika boleh aku ingin mendaftar sebagai murid biasa saja. Aku ingin berkembang dari pengalaman." Zhao Ren menyampaikan gagasannya.
"Kultivasimu sangat rendah, bahkan sekte akan menolakmu jika kamu masuk dengan jalur normal." Tua Ji khawatir.
Persaingan di dalam sekte sangat sengit. Dia takut terjadi sesuatu kepada Ren-er, Tuan Muda Mao Yu akan mengamuk dan tamatlah kita.
Tua Ji akhirnya membawa Zhao Ren turun.
"Kamu mempraktekkan kultivasi apa? Bagaimana? Coba tunjukkan padaku..." Tua Ji ingin melihat kemampuan Zhao Ren.
Zhao Ren berkonsentrasi. Dia mengalirkan energi ke meridian sesuai apa yang diajarkan tuan muda kepadanya.
Sepertinya aku harus membantu meningkatkan kutivasinya dulu. Tua Ji membatin.
"Hmmm.... " Tua Ji mengamati.
Dia memperhatikan energi mengalir pada suatu jalur. Semula itu harmonis. Namun tiba tiba ada sentakan cepat terjadi di mana jalurnya berubah arah dengan sekejap, lalu dengan sekejap lagi.
Tua Ji ingin berteriak pada Zhao Ren. Dia melakukan kesalahan, penyimpangan energi kultivasi. Bahaya... Dapat membuat kerusakan permanen pada dantian dan meridian.
Dia bisa menjadi manusia fana setelahnya. Tak bisa berkultivasi lagi.
Namun Tua Ji hendak berteriak dia terdiam dengan mulut menganga.
Jalur yang cepat dan berbolak-balik yang dilakukan Zhao Ren memunculkan energi potensial yang tumbuh eksponensial secara menggila.
Tumbuh berkali-kali lipat dari 1 menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8, 8 menjadi 16 dan seterusnya.
Tua Ji segera melihat pedang besar dan tebal di punggungnya. Dengan menggunakan senjata ini dia akan menggila dalam pertempuran besar.
Ren-er akan mengoyak barisan. Menumbangkan pertahanan, menjatuhkan binatang-binatang besar tunggangan musuh.
__ADS_1
Bahkan tembok benteng tebal dari bahan baja pun akan sobek dan runtuh oleh tebasan demi tebasannya.
Tua Ji merasa pening menyerang kepalanya. Ketika terhuyung-huyung hendak pingsan. Zhao Ren segera menghampiri Tua Ji dan mendukungnya.
"Ah benar kata tuan muda. Paman sering kumat darah rendahnya. Bahaya paman di sini kalau pingsan. Paman bisa dicaplok singa." Zhao Ren berkata dengan lugu.
Tua Ji " ... "
Dia kemudian duduk dan menenangkan dirinya.
"Tuan muda yang mengajarimu ?" Tua Ji penasaran.
"Iya, Bahkan mungkin otakku bebal. Aku terlalu bodoh. Aku sulit sekali melakukannya. Aku yang paling tertinggal dari semuanya." Zhao Ren menjawab dengan pesimis.
Demi surga kamu adalah anak yang sangat cerdas. Satu juta bayi yang lahir bersamaan belum tentu memunculkan seperti dirimu hei bocah.
Kamu memutar balik energi, jika tanpa pengendalian akal dan kecerdasan yang kuat kamu akan langsung meledakkan dantianmu.
Dan apalagi membalikkan aliran energi yang tumbuh berkali-kali lipat itu adalah sebuah gagasan yang konyol.
Bahkan aku leluhur sekte yang disembah jutaan umat tak dapat melakukan hal itu. Juga tidak punya nyali seberani kamu.
Tua Ji merenung dalam.
"Apa nama teknik ini ?" Tua Ji makin penasaran.
"Aku tidak ingat tuan meyebut namanya. Tapi aku ingat dia mengatakan sesuatu saat aku sedang berlatih, dan anehnya kata itu menancap dengan kuat di kepalaku hingga saat ini." Zhao Ren tampak berfikir dalam.
"Dengan pedang besarmu, kamu nanti akan berada di paling depan mengoyak barisan depan musuh saat tuan mudamu menyerbu surga."
"Jadi aku menamainya sendiri teknik ini dengan nama Pedang Pengoyak Surga. Apa terlalu berlebihan? Hahaha... Kurasa iya kan Paman ?" Zhao Ren terkekeh-kekeh.
"Tebasan Pengoyak Surga.... Memang layak sesuai sebutannya..." Tua Ji bergumam.
"Apa katamu barusan? Tuan Muda ingin menebas surga ???" Tua Ji tergagap-gagap. Pandangannya segera memudar.
"Pamaaan... " Zhao Ren berteriak.
Tua Ji pingsan.
***
Di Sekte Awan Biru, Dunia kesembilan.
Nyonya Han membawa Zhao Yan ke kediamannya di pulau mengapung paling tinggi dari semua gugusan pulau yang melayang di langit.
Mereka mendarat pada sebuah taman bunga yang luas.
"Ah Yan-er kita tiba di rumahku. Semoga kamu betah ya..." Nyonya Han tidak berani untuk tidak bersikap ramah.
Adegan seluruh pulau mengapungnya runtuh menjadi hujan batu di tanah terus terbayang bayang dalam pikirannya.
"Bagaimana tidak betah tempat ini indah sekali." Zhao Yan melihat pemandangan ini dengan takjub.
__ADS_1
Baginya seperti dia sedang berada di dalam surga.
"Oya Yan-er meski tempat ini indah, dunia luar sangat bahaya. Dengan kultivasimu sangat bahaya jika kamu berkeliaran sendirian. Kamu harus terus dekat sama Bibi." Nyonya Han sangat perhatian.
Zhao Yan mengangguk dengan senyum manis.
"Oke Zhao Yan mari kita regangkan tubuh kita. Tunjukkan kemampuanmu, barangkali bibi bisa memberikan sedikit masukan." Nyonya Han ingin melatih Zhao Yan.
"Tentu." Zhao Yan mengeluarkan tombak.
Hmmm... Jadi Yan-er pengguna tombak. Nyonya Han membatin, perasaannya sangat antusias dengan senyum lebar. Dia akan memamerkan beberapa gerakan teknik tinggi untuk memukaunya.
Dengan ketakjuban Zhao Yan, tentu dia akan mendapatkan penilaian tinggi olehnya. Sehingga tidak mengecewakan tuan mudanya di dunia pertama.
"Aku akan menekan ranahku sesuai ranahmu saat ini, supaya adil. Ok..." Nyonya Han sudah tidak sabar untuk unjuk kemampuan.
Zhao Yan membuat langkah dengan tombaknya. Dia berjingkrak-jingkak dengan aneh. Nyonya Han geli sekali melihatnya.
Tombak mulai menjulur ke depan menyerang Nyonya Han. Tidak ada yang istimewa sama sekali dalam serangan Yan-er.
Mereka saling serang dan menangkis seperti umumnya. Namun Nyonya Han masih memberi kemudahan bagi Zhao Yan
Sepintas Nyonya Han mulai melihat keanehan pada langkah Yan-er. Dia merasa pikirannya seperti dihipnotis oleh gerakan perpindahan kakinya.
Shooo...
Shooo...
Mata tombak menuju titik vitalnya. Dia segera mengeluarkan pedang dan menangkisnya.
Setelahnya sebuah tusukan menuju ke perut. Dia tidak bisa mengatasi dengan ranah kultivasinya saat ini. Dia bisa langsung tertusuk karena tidak cukup kuat untuk mengelak.
Shooo...
Shooo...
Dia segera menaikkan kultivasinya di atas ranah Zhao Yan saat ini. Dia sedikit kebingungan dengan tusukan terus menerus di luar kemampuan pengamatannya.
Zhao Yan terus mengayunkan tombaknya bertubi-tubi. Nyoya Han terpaksa menaikkan ranah di atasnya lagi. Dan seterusnya lagi.
Dia sangat heran dengan cara bertombak Zhao Yan.
Semakin liar gerakan kaki Zhao Yan semakin kuat dan cepat dia memutar tombak untuk menusuk bagian-bagian vitalnya.
Sementara Nyonya Han terus menerus menaikkan kultivasi untuk mengimbangi permainan tombak.
Hingga suatu langkah tiba-tiba Zhao Yan menghilang dari pandangannya. Rasa teror mencekamnya hingga dia melepas semua belenggu pembatasan kultivasi ke keadaan semula.
Shooo...
Sebuat tusukan kuat dari belakang menuju tengkuk Nyonya Han. Sepersekian detik akhirnya dia mampu menghindarinya.
Jika terlambat. Maka tamatlah dia.
__ADS_1