
Li Hua bersujud pada hari ketiga saat persis keluar dari dalam hutan.
Dapat keluar hidup hidup baginya adalah anugrah luar biasa. Sejauh ini tak ada yang selamat menembus hutan. Layak dia merayakan kemenangan ini sebagai orang pertama yang selamat sejauh ini.
Kesenangan tak berlangsung lama. Ketika mereka telah sampai jalan utama menuju ibukota pusat. Rombongan berpapasan dengan kereta mewah yang dikawal rombongan pasukan berkuda.
Salah satu pengawal berbalik menuju Mao Yu dan Li Hua. Dia mencegat mencegat mereka berdua.
"Serahkan monyet kecil. Tuan Putri menginginkan menjadi peliharaannya." Dia menghardik Mao Yu.
Mao Yu memandangi Little Kong yang sedang tidur tengkurap di pantat kuda.
"Bawa saja dia, kerjaannya hanya makan." Mao Yu menimpali.
Little Kong terbangun menunjukkan ekspresi marah. Dia meloncat-loncat menyatakan protes kepada Mao Yu.
Tingkah laku Little Kong diperhatikan sangat lucu oleh Tuan Putri di dalam kereta, menjadikan dia lebih menginginkannya lagi.
"Suatu kehormatan jika monyetku disukai oleh tuan putri. Jika tidak keberatan siapa tuan putri yang berkenan merawat Little Kong?" Mao Yu bertanya.
"Putri Kedua Klan Xin. Xin An..." Pengawal menjawab dengan bangga.
"Oh, Putri dari Klan Xin. Ehmm... Kami sangat miskin belakangan ini, tidak keberatankah tuan putri kalian membayar kami untuk monyet ini ?" Mao Yu menambahkan.
"Sebutkan harganya..." Pengawal menjawab.
"Aku mendengar Klan Xin adalah yang terkaya, Bahkan menguasai Guild Dagang Night Lily di Benua. Kurasa 100.000 emas cukup murah." Mao Yu mempertimbangkan harga. Dia juga menyatakan dalam hatinya klan ini sungguh sombong dan selalu membawa masalah.
"Kamu ngelantur... " Pengawal kembali menghardik duo.
Suara gadis dengan sangat lembut terdengar di dalam kereta. Dari suaranya yang merdu sudah terbayang betapa cantiknya dia.
"Habisi orangnya, ambil monyetnya..." Xin An memerintahkan.
20 orang pengawal berkuda kini mengepung duo. Li Hua yang baru merasakan kehidupannya telah kembali kini dihadapkan dengan zona kematian sekali lagi.
Namun kali ini lawannya adalah manusia. Dia tidak segila seperti di dalam hutan. Li Hua segera menarik saber dari cincin penyimpanannya. Dia mengambil sikap waspada, siap mati melindungi tuannya.
Mao Yu duduk di atas kuda dengan tenang. Seolah tak merasa telah terjadi apapun.
__ADS_1
"Aku menginginkan kereta dan kuda-kuda kalian." Mao Yu menghasut seluruh kerumunan pengawal.
"Lancang..." Pemimpin pengawal meneriakkan kemarahan.
Sekumpulan pengawal ini merasa darah mereka telah mendidih dipermainkan anak muda di depannya. Sejauh mereka melayani Klan Xin, mereka selalu dipandang dengan hormat. Tak ada seorang pun yang berani meremehkan mereka.
"Turunlah dari kuda, kita hajar di tanah." Mao Yu memberikan Li Hua sebuah perintah.
Mao Yu mengeluarkan tongkat jo dan meloncat dari kuda menyerang pengawal yang paling dekat dengannya. Begitu juga dengan Li Hua dia meloncat dari kuda dan memulai mengatur posisi dan kuda-kudanya.
Dalam satu tatapan LIttle Kong, seluruh kuda sontak memasuki fase histeris. Para pengendara tak dapat mengendalikan keanehan yang terjadi pada kuda mereka.
Kuda mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi untuk membuang penumpang di atasnya. Beberapa meloncatkan kaki belakangnya untuk melemparkan penunggang dari punggungnya.
Tongkat Mao Yu berhasil mengenai kepala pengawal yang menjadi sasarannya. Dia tidak dapat mengantisipasi serangan Mao Yu karena sibuk mengendalikan kudanya yang menggila. Dia jatuh tersungkur ke tanah dalam keadaan pingsan.
Li Hua memanfaatkan beberapa pengawal yang jatuh dan masih kehilangan keseimbangan dengan menyabetkan saber pada titik serangannya. Peluang singkat dimanfaatkan dengan baik oleh Li Hua, dia dapat menumpas tiga pengawal.
Mao Yu terus memutar tongkatnya mencari pengawal yang sedang dalam keadaan jatuh. Dia dengan memukulkan tongkatnya secara bertubi-tubi. Mao Yu cukup beruntung dapat menumpas saat mereka dalam kondisi tidak siap.
Beberapa pengawal dapat turun dari kuda dengan menguasai keseimbangan tubuhnya. Mereka mulai melakukan serangan balik.
Mao Yu sangat gesit, dia dengan mudah menghindari tebasan demi tebasan pedang. Namun menghindar terus menerus juga bukan langkah yang tepat. Dia juga harus melakukan serangan.
Mao Yu memutar tongkatnya di udara. Kemudian dengan bertolak kaki yang kuat dia melesat ke depan menuju kerumunan pengeroyok.
Soul Cloak ..... Sebuah pukulan mendarat di dahi membuatnya retak
Soul Cloak ..... Sebuah pukulan mendarat di tengkuk mengantarkan ke alam kematian
Soul Cloak ..... Sebuah tusukan tongkat mendarat di perut membuat pingsan
Soul Cloak ..... Sebuah pukulan mendarat di samping dada membuat tulang rusuk patah
Mereka sesaat tidak dapat melihat di mana Mao Yu berada. Ketika mereka menyadari dia sudah sangat dekat dan sebuah serangan mengenai dan menjatuhkan mereka. Mao Yu dengan mudah mengalahkan mereka semua.
Li Hua berhasil menebas salah satu pengawal. Melihat darah rekannya mengalir menyebabkan konsentrasi yang lain sedikit terganggu. Li Hua memanfaatkan keunggulan dengan membuat serangannya makin menggila. Akhirnya sisa pengawal yang mengeroyok terbunuh juga.
Xin An sangat marah, dia keluar dari kereta, mengedarkan tenaga murni ke pucak kultivasinya. Bermaksud turut dalam keributan.
__ADS_1
Soul Cloak .... Satu serangat tongkat melayang cepat mengenai tengkuknya. Dia jatuh pingsan.
***
LI Hua memastikan seluruh pengawal semuanya mati. Mereka yang masih pingsan ditusuk dengan sabernya sampai mati. Dia juga mengumpulkan seluruh cincin penyimpanan sebagai rampasan perang.
Kuda-kuda yang berhamburan kembali berkumpul menjadi satu. Li Hua mengikat semuanya di belakang kereta. Bagaimana pun kuda tetaplah salah satu aset yang cukup layak.
Mao Yu membangunkan Xin An dari pingsannya. Dia menyiramnya dengan seember air.
Xin An yang siuman merasakan rasa pening di bagian kepalanya. Berangsur-angsur ingatannya pulih, dia lantas menyadari dia tak dapat begerak. Rantai logam dari bahan khusus mengikatnya dengan erat.
"Beraninya kamu... " Xin An mengancam
"Li Hua... Tampar... " Mao Yu mengucapkan perintah.
Plakkk.... Sebuah tamparan renyah mendarat di pipi Xin An.
"Sekali lagi kamu berani mena,..." Xin An mengancam lagi
Plakkk.... Plakkk..... Plakkkk..... Tamparan datang bertubi-tubi hingga kecantikannya berganti menjadi wajah babi. Akhirnya Xin An menyerah dan menahan penghinaan ini. Dia diam namun matanya tetap memandang duo dengan mengancam.
"Li Hua kamu terlalu keras, keluarkan salep Lin Fan. Kita tidak boleh membiarkan putri dalam keadaan seperti ini. Dia harus tetap cantik." Mao Yu berkata setelah cukup lama berfikir.
Ah, Li Hua dengan sigap mengambil salep dan segera mengoleskan dengan tebal ke wajah Xin An. Tuan muda memang brilian pikirnya.
AAAAAWWWWWHHHHHH.....
Rasa panas 100x lipat dari tamparan membakar wajahnya. Dia berusaha menangis namun rasa sakit luar biasa ini menahan suara dan air matanya mengalir. Dia hanya boleh mengeluarkan teriakan. Tangisan tidak diizinkan.
Dia membayangkan wajah cantiknya akan terkelupas dan cacat. Dia sangat ketakutan di dalam hatinya.
Siksaan yang sebenarnya telah terjadi. Kini Xin An terbaring di jalan dengan nafas tersengal sengal. Dia sudah tidak memiliki kekuatan untuk berteriak.
"Li Hua kita tinggalkan dia di sini, semoga ada serigala liar yang lewat dan membantu merawat luka-lukanya. Oya aku ingin naik kereta, kamu bisa jadi kusirnya." Mao Yu tertarik melihat kereta mewah.
"Baik Tuan Muda." Li Hua menjawab.
Kereta mewah yang di belakangnya penuh dengan renteng-renteng kuda yang ditali berjalan menuju ibukota pusat. Meninggalkan Xin An yang tergeletak dirantai tak berdaya di tengah jalan.
__ADS_1