Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Buru-buru


__ADS_3

Beberapa orang berdiri di tengah puing-puing bangunan kediaman Klan Xin.


"Peluru ini dari bahan khusus, Aku tidak bisa menghentikan sama sekali." Xin Ba berucap.


"Kakek, Bahkan Night Lily tidak memiliki peluru yang seperti ini." Xin Bang menambahkan.


"Kita tidak boleh sembarangan untuk segera membalas. Mereka masih menyimpan banyak misteri. Tunggu hingga seluruh kekuatan kita bersatu." Xin Ba meraih vas kesayangannya dari reruntuhan puing.


"Mereka semua dalam perjalanan menuju kemari. Tengah malam kita sudah bisa bergerak." Xin Bang mengantisipasi.


***


Di hutan pedalaman sebelah timur ibukota pusat.


Seekor iblis angsa berukuran besar terkapar tak berdaya di depan Mao Yu dan Kong Kecil.


Iblis angsa mulai bangun dengan kesulitan dan merapikan bulu-bulunya yang kacau. Kemudian menunduk patuh di hadapan mereka berdua.


Kong Kecil baru saja memukuli dan menjinakkannya.


"Kita harus naik dan cepat-cepat menjemput Yang-er, Aku khawatir pasukan dari Wilayah Archipelago telah merangsak maju sampai ke pemondokanku." Mao Yu gusar.


"Juga dia dulu pernah bilang ingin naik angsa dan terbang ke langit. Semoga tampilan angsa ini tidak mengecewakannya." Mao Yu berkata dengan buru-buru.


"Hanya inilah angsa terbaik yang berada di sini Tuan." Kong Kecil menjelaskan.


Dalam waktu singkat angsa besar telah terbang ke angkasa membawa dua penumpang.


Berada di punggung angsa sangat lembut rasanya. Bulunya seperti permadani kualitas wahid. Udara pun hanya bergerak semilir ringan. Angsa memberikan perisai pelindung angin di punggungnya.


"Angsa lebih cepat..." Mao Yu mendesak.


"Ini sudah maksimal Tuanku." Iblis Angsa menjawab.


Oh sungguh malang nasibku. Mimpi apa aku semalam. Badan sudah babak belur kini diminta untuk terbang dengan lebih cepat lagi. Rasanya tulangku mau lepas semua. Iblis angsa mengeluh di dalam hatinya.


"Kong Kecil berikan pil penyembuhan dan peningkatan tenaga." Mao Yu membuat permintaan.


Kong Kecil segera mengeluarkan pil berwarna hijau. Dia menuju kepala Iblis Angsa dan mencekokkan pil ke dalam mulutnya.


"Ohhoukkk.... " Iblis Angsa tersedak.


"Jangan mengeluh, Telan dengan benar. Mengikuti tuan muda adalah berkah seribu kehidupan." Kong Kecil memukul kepala Iblis Angsa.


Aduh sungguh kejam mereka menyiksaku. Apes... Apes.... Rasanya aku ingin menangis. Hiks,

__ADS_1


"INN INNIIII...." Iblis Angsa terkejut


Iblis Angsa merasakan luka di sekujur tubuhnya langsung pulih dalam sekejap. Energi di dalam tubuhnya pun naik berkali-kali lipat. Dia juga merasakan hendak menerobos menjadi iblis binatang buas tingkat 9.


"YAHOOO...." Iblis Angsa berteriak.


Sebuah bayangan putih melintasi langit seperti meteor menuju hutan pemondokan Mao Yu dulu.


Mereka menempuhnya dalam waktu dua jam perjalanan.


***


Di sebuah gubuk kayu seorang anak perempuan kecil sedang dipangku oleh neneknya. Dari cahaya matanya kita tahu bahwa gadis kecil ini nampak ketakutan.


Nenek membelai kepalanya sambil bercerita untuk memberikan rasa nyaman.


"Selamat pagi Nenek Zi, Selamat pagi Yang-er..." Mao Yu mengagetkan mereka berdua dari samping gubuk.


Mata Feng-er melebar, dia segera meloncat dari pangkuan neneknya. Kemudian memeluk dengan bahagia seorang pemuda yang menyapanya.


"Kakak telah kembali, Yangg-er takut di sini." Akhirnya dia melepaskan perasaan yang dia tahan kepada Mao Yu.


Nenek Zi merasa bahagia melihat Mao Yu telah kembali. Dia merasa sedikit lega.


"Nenek, di mana tua-tua yang lain? Sepi sekali di sini ?" Mao Yu menggendong Yang-er yang menangis. Wajahnya dia tenggelamkan ke dada Mao Yu dengan terisak-isak.


"Ditambah pasukan dari luar wilayah sudah memasuki perbatasan. Tinggal menunggu waktu hingga mereka tiba di sini. Kami sangat takut." Nenek Zi akhirnya menangis tersedu-sedu.


Melihat neneknya menangis. Yang-er juga lebih keras lagi menangisnya.


Mao Yu merasa prihatin banyak hal terjadi setelah kepergian singkatnya. Mao Yu berusaha menenangkan mereka berdua.


Dia bercerita tentang kisah perjalannya ke kota. Hingga menyampaikan rencana untuk memboyong mereka berdua bersamanya.


Di belakang pemondokan, Little Kong sedang memarahi Iblis Angsa. Memberikan pengarahan untuk bersikap lembut kepada keluarga tuan muda.


Terutama untuk patuh terhadap adik tuan muda. Tidak berbicara kotor dan berbuat yang aneh-aneh.


Iblis Angsa mengangguk-angguk dengan patuh. Jelas dia hanya bisa menurut, karena Mao Yu mengancamnya akan berakhir menjadi opor angsa di atas meja makan jika membantah.


"Jadi ini angsa yang kakak maksud. Whoahhh... besar sekali." Yang-er dan Bibi Zi takjub.


Iblis Angsa membuka sayapnya lebar lebar ke angkasa dengan kepala mendongak. Menunjukkan betapa cantik dan anggun dirinya di hadapan Yang-er.


Dia juga merendahkan kepalanya mendekati Yang-er agar dia dapat mengelusnya.

__ADS_1


"Kerja bagus." Kong Kecil mengacungkan jempol.


Iblis Angsa " ... "


"Kakak, lembut sekali... Whoahh....Kita akan menaiki ini ?" Yang-er sangat senang dan seperti masih tidak percaya.


Mao Yu mengangguk. Dia melihat ketakutan dan kesedihannya Yang-er kini telah hilang.


"Lihat, Ini Kong Kecil monyet peliharaan kakak. Bermainlah bersamanya nanti di rumah." Mao Yu memperkenalkan Kong Kecil.


"Nguk.. nguk..."


Kong Kecil tampak gembira dengan meloncat-loncat. Dia menghampiri Yang-er dan hinggap di pundaknya.


Yang-er tertawa senang terbahak-bahak melihat aksi monyet ini. Tak henti-hentinya dia mengelus dan mencium monyet lucu ini.


Iblis Angsa kemudian dengan elegan merendahkan tubuhnya. Mao Yu membantu Nenek Zhi dan Yang-er naik ke punggungnya.


Dengan sebuah kepakan sayap yang kuat, mereka membubung tinggi ke langit dan terbang menuju mansion.


***


Di Mansion Tua leluhur


Sesuai dengan arahan Li Hua, Pak Tua Shi menuju kuil. Dia diberikan tempat tinggal berupa pondok kecil di samping kuil.


Pak Tua Shi berjalan dengan tergesa-gesa hingga sebuah kuil muncul di depannya. Dia meneskan air mata dan langsung bersujud kepada kuil. Ada sesuatu di hatinya kini telah terobati.


"Leluhur sekarang aku dapat di sini untuk berbakti secara langsung padamu." Pak Tua Shi bergumam.


Pak Tua Shi bangkit. Dia melihat bangunan kuil sangat bersih dan terawat. Sumur tua dihiasi kain-kain putih bergantungan. Aroma dupa semerbak yang terus menerus terbakar dari dalam kuil.


Dalam hati Pak Tua Shi sangat bersyukur tuan rumah ini memperhatikan kuil dengan baik.


Namun setelah berkeliling memeriksa kuil. Dia menemukan sebuah keanehan terjadi.


Dia tidak dapat mendekat ke sumur tua. Dalam jarak dua meter dari bibir sumur seolah ada energi halus yang menolaknya.


Jika dia memaksa untuk lebih mendekat rasa pusing akan menimpa kepalanya hingga dia merasa akan pingsan.


Pak Tua segera mengambil langkah mundur dengan terhuyung-huyung.


Pak Tua Shi masih penasaran. Dia mengulangi beberapa kali dan hasilnya tetap sama. Dia berfikir ada misteri apa di balik sumur tua ini.


Saat duduk bersila merenung agak jauh dari sumur. Pak Tua Shi melihat rombongan Li Hua, Fang Yi dan Jing Jun dengan berpakaian putih memasuki kuil. Mereka menyalakan dupa dan beribadat.

__ADS_1


Sungguh lega hati Pak Tua Shi melihat kuil ini memiliki kehidupan dari jemaat yang beribadat.


__ADS_2