
"Damn!!" Edric menghempaskan ponsel saat mendapatkan kiriman video dari orang yang tidak dikenal. Emosinya langsung meledak melihat manusia brengsek itu menyentuh pipi Deandra.
“Ron!!” Panggil Edric dengan teriakan.
"Ya Tuan," Ron yang baru berjalan beberapa langkah meninggalkan ruangan Edric bergegas balik arah, "apalagi salahku?" Tanyanya dalam hati.
"Cari siapa pemilik nomor ini!" Edric melempar ponselnya pada Ron.
Sejurus Ron menarik napas lega, dengan cepat menangkap ponsel yang melayang ke arahnya sebelum ponsel itu menyapa lantai.
"Pantas saja Tuan Edric kebakaran jenggot, ternyata ini penyebabnya." Gumam Ron yang hanya berani terucap dalam hati. Dengan lincah jemarinya menyalin angka-angka itu ke ponsel pintarnya.
"Posisi terakhir nomor ini ada di kampus Nona Ellea Tuan," beritahu Ron setelah hasil pencariannya muncul.
"Elle," gumam Edric. Apa Ellea yang menyembunyikan Deandra, mereka menghilang di waktu yang hampir bersamaan. Edric dibuat berpikir keras, pasti Ellea ada hubungannya dengan perginya Deandra dari mansion dan sampai sekarang adiknya itu juga tidak pulang.
"Temukan pemilik nomor itu dan bawa dia kehadapanku!" Perintah Edric.
"Baik Tuan," Ron mengangguk mengerti dan segera meninggalkan ruangan tuannya.
__ADS_1
...🌹🌹🌹 ...
"Rasakan kau Edric!" Tawa Ellea pecah setelah misinya berhasil. Ia penasaran bagaimana raut wajah kakaknya tersayang itu ketika melihat istri tercintanya didekati sang mantan.
Gadis itu keluar dari persembunyian menarik tangan Azmi dari pipi Deandra. "No pegang-pegang Uncle!! Ingat, Uncle cuma minta untuk bertemu Dea bukan buat megang-megang. Kalau mau pegang gak gratis!!"
Deandra mengumpat dalam hati dengan mata melotot pada Ellea, "sial dia ingin menjualku!"
Si empunya hanya tersenyum, tidak peduli pada tatapan tajam Deandra.
"Kau tidak berhak melarangku untuk memegangnya gadis kecil. Atau kau juga mau dipegang, hm." Azmi tersenyum ingin menepuk pipi Ellea namun segera ditangkis gadis itu dengan berani.
"Aku tidak takut dengan ancamanmu anak kecil," Azmi berdiri mendekati gadis yang sedari tadi bersikap berani padanya.
"Oh ya," Ellea tersenyum tipis bertepuk tangan sebanyak dua kali. Dan dalam waktu kurang dari dua puluh detik para pengawal yang berjaga disana berkumpul. Jumlahnya kurang lebih tiga puluh orang.
"Silahkan Uncle hadapi mereka," ujar Ellea dengan senyuman kemenangan lalu menarik Deandra untuk mengikutinya. Mana mungkin dia membiarkan istri kakaknya disentuh pria lain.
Azmi tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak ingin mati konyol menghadapi tiga puluh orang sendirian.
__ADS_1
"Kau ingin bermain-main denganku gadis kecil, tunggulah kejutan dariku!" Serunya dengan seringaian tipis, memilih meninggalkan villa daripada melawan orang sebanyak itu.
"Kau gila Elle, bisa-bisa nyawamu dalam bahaya!" Sentak Deandra setelah mereka berada di kamar.
"Jangan berlebihan, om kesayanganmu itu tidak akan mencelakaiku." Sahut Ellea dengan yakin.
"Kau belum mengenalnya Elle! Dia bahkan tidak segan untuk menyakiti perempuan. Kau mengerti tidak kalau aku itu mengkhawatirkanmu," ucap Deandra serius.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku kakak ipar." Senyuman manis menyembul di bibir tipis Ellea.
Deandra hanya bisa menghembuskan napas dengan kasar. Susah bicara pada orang yang tidak memiliki rasa takut. Hanya satu yang adik iparnya itu takuti, patah hati.
"Dari mana kau mendapatkan pengawal sebanyak itu?" Deandra mengalihkan pembahasan. Di villa ini hanya ada lima petugas keamanan dan dua pengawal yang khusus menjaga mereka. Jadi mustahil Ellea bisa mengumpulkan orang sebanyak itu dalam waktu kurang dari satu menit.
"Siapa bilang mereka pengawal, mereka itu security tetangga dan para tukang ojek yang aku bayar." Ujar Ellea tertawa gelak, ide ini sudah ia pikirkan sejak hari pertama bucin kakak iparnya itu membuat kegaduhan di luar villa karena memaksa ingin bertemu.
"Kali ini aku acungi jempol otak pintarmu," Deandra ikut tertawa sampai geleng-geleng kepala. Ia pikir yang terjadi tadi hanya ide dadakan Ellea.
"Sudah seharusnya kau mengakui kecerdasan otakku ini!" Seru Ellea sombong.
__ADS_1
"Ck, tidak bisa dipuji langsung terbang!" Decak Deandra, adik iparnya ini membuatnya semakin rindu pada Edric. Senyuman angkuh itu sangat mirip dengan milik Edric.