
"Pergi Edric. Pergi! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" Usir Deandra mendorong tubuh Edric agar menjauh darinya.
"Honey," Tian memeluk sang putri untuk menenangkan. Ia mengisyaratkan pada Edric untuk pergi memberi waktu Deandra sebentar.
Dengan berat hati Edric keluar dari kamar. Tidak tega melihat istrinya yang terus berteriak dan menangis, pasti sangat melelahkan.
"Cerita sama Daddy kenapa Dea tidak mau hamil," bujuk Tian dengan lembut. Merangkum wajah Deandra yang basah dengan air mata.
Deandra menggeleng pelan, menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Dad Tian.
"Kenapa Dea tidak mau hamil Sayang? Apa yang Dea takutkan. Bukankah sekarang kamu sudah bisa membuat Edric jatuh cinta." Ujar Tian yang dijawab Deandra dengan gelengan kepala.
"Edric tidak pernah mencintai Dea Daddy," adu Deandra sendu. Sejak dulu dia memang tidak pernah bisa mendaptkan hati prianya itu.
__ADS_1
"Apa yang membuat Dea yakin kalau Edric tidak mencintai Dea?" Tanya Tian dengan bibir menyunggingkan senyuman. Ternyata semua perempuan itu sama, sangat suka overthinking yang ujung-ujungnya merugikan diri sendiri.
"Pokoknya Edric tidak cinta sama Dea, Daddy!!" Ucap Deandra lantang, ungkapan cinta dari lelaki itu hanyalah bualan semata agar hatinya luluh.
Edric yang berdiri di depan pintu masih bisa mendengar ucapan Deandra. Pria itu menghela napas dengan kasar. Harus bagaimana lagi dia membuktikan kalau cintanya ini hanya untuk wanita itu. Sudah dibuat hamil saja masih bisa beranggapan dia tidak cinta.
"Kalau Edric tidak cinta sama Dea bagaimana kalian melakukannya sampai dia bisa hadir disini. Apa Edric memaksa Dea?" Tanya Tian realistis.
Deandra menggelengkan kepala, Edric tidak akan melakukannya kalau dia tidak mau. Pria itu tidak pernah memaksanya.
"Dea takut Edric pergi dan meninggalkan bayi ini nanti," lirih Deandra dengan suara kecil. Ia takut anaknya yang lahir nanti memiliki nasib yang sama seperti dirinya tidak memiliki ayah jika Edric meninggalkannya.
"Maafkan Daddy yang tidak menemani Dea sejak lahir," sesal Tian. Semua kenangan pahit pernikahannya ternyata membekas di ingatan sang putri dan membuat trauma tersendiri di hati Deandra.
__ADS_1
"Tidak semua lelaki bajingan seperti Daddy, Sayang. Maafkan semua kesalahan Daddy ini," Tian menguatkan dekapannya.
"Dea gak mau Edric disini!" Keukeuh Deandra yang dituruti Tian karena tidak ingin membuat putri tersayangnya semakin tertekan.
Begitu juga dengan Edric, terpaksa menjauh sebentar sampai Deandra tenang. Pria itu pulang ke apartemen dengan perasaan hampa.
"Dea gak ikut pulang?" Tanya Ellea yang sudah tiba di apartemen lebih dulu saat melihat Edric pulang sendirian.
Suami Deandra itu menggeleng lemas langsung masuk ke kamar. Ellea dapat melihat tatapan terluka sang kakak. Ia kasihan, tapi seandainya dia yang menjadi Deandra mungkin juga akan bersikap seperti itu karena belum siap menjadi seorang ibu.
"Minumlah dulu," gadis itu berinisiatif mengikuti Edric ke kamar dengan membawakan segelas air putih.
Edric yang sudah terpejam membuka netranya kembali. "Aku tidak haus, letakkan saja disana!" Ucapnya acuh lalu menutup mata kembali dengan perasaan yang berantakan.
__ADS_1
Ellea sadar tidak diinginkan kehadirannya, ia bergegas meninggalkan kamar Edric. Hidupnya benar-benar sepi sekarang, hanya Ron yang mau menemaninya.