
"Ed, kau kenal mobil itu? Sepertinya mengikuti kita." Deandra melirik ke arah spion, merasa ada yang mengikuti.
Edric menggelengkan kepala, "mungkin hanya satu arah." Jawabnya tenang, berbeda dengan Deandra yang sangat yakin mobil itu mengikuti mereka.
"Mobil kita tidak kenapa-kenapa kan Ed. Tidak seperti di sinetron-sinetron remnya blong lalu menabrak pohon." Celetuk Deandra, saat yang muncul di kepalanya adegan kecelakaan di sinetron.
"Kepalamu ini kebanyakan diisi sinetron," Edric mengacak puncak kepala Deandra. Ternyata istrinya yang angkuh ini menggemaskan juga.
"Mana pernah aku nonton sinetron Edric," sungut Deandra.
"Kau tidak akan bilang seperti itu kalau tidak pernah lihat sinetron," ejek sang suami.
"Ya sudah kalau tidak percaya," wanita itu mencebikkan bibir.
"Uh merajuk," Edric mencubit gemas pipi Deandra. Membawa istrinya itu ke kantor Hansel Group, karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan dengan segera.
"Aku tidak merajuk Edric, cuma ngambek." Jawab Deandra dengan cengiran lebar.
Pria itu memarkirkan mobil lalu melepaskan seat belt tapi tidak langsung keluar. "Kau kenapa jadi sangat menggemaskan, hm. Aku jadi ingin melahap pipi bakpao mu ini." Edric menggigit gemas pipi Deandra. Ada apa dengan istrinya ini jadi terlihat sangat menggoda. Atau dia saja yang sudah mulai kecanduan.
"Kan aku memang menggemaskan," Deandra mengerutkan hidungnya sambil tersenyum.
Jujur, hatinya nyaman dan bahagia berada didekat Edric. Walau tidak tahu hatinya sudah mencintai suaminya itu atau belum.
"Apa kau sudah mencintaiku, apa disini sudah tidak ada nama perempuan lain lagi?" Tanyanya meletakkan telapak tangan di dada Edric.
__ADS_1
"Bohong kalau aku tidak menyimpan nama perempuan lain disini." Sahut Edric yang membuat Deandra memajukan bibirnya cemberut.
"Lalu kenapa kau bersikap seolah mencintaiku kalau masih ada Alice disini?"
"Kau cemburu?" Edric sengaja menggoda istrinya.
"Tentu saja aku cemburu, kau tidur denganku tapi malah memikirkan perempuan lain!" Seru Deandra kesal. "Kenapa kau memperlakukanku seperti ini Edric?"
"Selama ini yang aku lakukan untukmu itu apa?" Edric menghirup aroma vanilla yang sangat ia suka dari tubuh wanitanya. "Rasanya aku ingin mengajakmu ke tempat tidur sekarang juga."
"Aku butuh jawaban bukan pertanyaan Edric," ucap Deandra serius.
Edric mengusap-usap pipi wanitanya, membuat Deandra semakin meremang. Tangan itu seperti memiliki arus listrik. "Kau ingin jawaban seperti apa?"
"Katakan apa kau mencintaiku?"
"Perempuan butuh kepastian yang keluar dari mulut lelakinya Edric. Katakan agar aku tidak menerka-nerka jawaban sendiri." Ucap Deandra seraya mengusap dada bidang Edric.
"Aargh, kau membangunkannya Sweetheart." Edric menempelkan wajahnya di ceruk leher Deandra. Kalau tidak cepat dikendalikan semua bisa-bisa akan berakhir dengan acara bercocok tanam.
"Oh ya," wanita itu tersenyum licik. "Kau pikir aku tidak kalang kabut saat kau mengendus-endus leherku seperti ini." Runtuk Deandra dalam hati.
"I love You, itu kan yang ingin kau dengar dari mulutku."
"Kau tidak tulus mengucapkannya Edric. Semua juga bisa bilang I love you."
__ADS_1
"Yang tulus itu bagaimana Sweetheart, apa kita perlu melakukannya disini agar kau percaya."
Deandra menggelengkan kepala, di tempat tidur saja tubuhnya serasa remuk bagaimana kalau di mobil. Dia pasti akan kesulitan bergerak.
"Aku butuh pengakuan cintamu Edric, bukan ingin...." Deandra meneguk salivanya dengan susah payah saat Edric berpindah posisi duduk jadi mengungkung tubuhnya.
"Ingin apa, hm?" Edric menahan tubuhnya agar tidak menyakiti Deandra. Menurunkan sandaran kursi, ia tidak akan melakukan di mobil walau miliknya sudah siap terbang. Hanya ingin menggoda istrinya ini saja.
"Edric, aku..." bibir Deandra tercekat karena kenakalan Edric mengecup lehernya.
"I love you Sweetheart," bisik Edric yang membuat Deandra bertambah meremang dengan gelenyar-gelenyar aneh di tubuhnya. Pria itu menepuk pipi Deandra yang sudah pasrah apapun yang ingin ia lakukan.
"Aku ada meeting," bohong Edric yang membuat Deandra mengumpat dalam hati.
"Tidak bisa Edric, kau sudah memulainya. Selesaikan!!" Geram Deandra sampai ingin menangis karena kesal sudah dipermainkan Edric.
"Uh kau ternyata sangat agresif," Edric tersenyum menggoda.
"Please Mr. Arrogant," Deandra memohon karena dia tidak bisa keluar mobil dengan keadaan seperti ini.
Mendengar panggilan sayang yang dikhususkan untuknya Edric mengangguk, "di ruanganku saja. Tahan sebentar, disini badanmu nanti sakit." Pria itu merapikan penampilan istrinya lalu membawa keluar mobil.
"Jangan mengerjaiku lagi, ini sangat tidak nyaman." Lirih Deandra menggandeng tangan Edric. Lututnya berasa lemas karena kejahatan yang dilakukan Edric tadi.
"I'm sorry," pria itu menepuk-nepuk tangan Deandra dengan penuh sayang.
__ADS_1
"Babe!" Panggil Alice pada Edric.
"Bagus, akhirnya kau keluar juga!" Edric sudah bisa menebak kalau Alice akan muncul lagi setelah tahu siapa yang berada dibalik wanita itu.