
"Hoam," Ellea keluar kamar dengan tampang masih acak-acakan sambil menutup mulutnya saat menguap. Gadis itu sudah bisa berjalan tanpa menggunakan alat bantu.
Karena berjalan masih dengan mata merem melek ia menabrak orang yang dipikirnya tiang.
"Aww sakit!!" Pekiknya sambil memegangi jidat. "Untung tidak benjol," gumamnya berbicara sendiri.
"Mom sejak kapan ada tiang listrik di ruang makan!" Teriaknya yang kemudian membuka mata bertepatan dengan Jovie yang membalikkan badan.
Para penghuni meja makan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sang gadis. Sedang Deandra sudah mendengus ingin melempar sendok tapi cepat ditahan Edric.
"Aaaa, kenapa Kak Jo bisa ada disini!" Pekiknya lagi sambil menutup wajah karena malu masih belum mandi. Si empunya malah tertawa gelak mengacak-acak rambut Ellea gemas.
Ellea sudah tidak menghindari Jovie lagi, karena hanya membuatnya lelah saja. Pria itu selalu muncul di hadapannya, jadi lebih baik ia bersikap biasa saja.
"Kak Jo, jangan sentuh rambutku yang cantik ini. Kau menyentuh rambutku tapi malah hatiku yang tersentuh." Hanya suara Ellea yang menggema di ruangan itu.
"Kalau cantik itu mandi dulu baru sarapan. Ini iler masih menempel!!" Jovie mencubit pipi gadis itu lalu menariknya ke wastafel. Ia mencuci wajah Ellea dengan sedikit brutal.
"Kak Jo aku gak bisa napas ih, mati nanti!!" Protes Ellea mengap-mengap.
Jovie tidak menghiraukan, mengusap wajah Ellea lalu melapnya dengan ujung piyama yang gadis itu gunakan.
"Kak Jo wajahku jerawatan nanti!!" Rengek Ellea dengan suara nyaring. Deandra sampai menutup kuping karena suara menggelegar adik iparnya yang tidak berhenti mengoceh itu.
__ADS_1
"Kalau jerawatan tinggal dibuang wajahnya," sahut Jovie enteng menarik Ellea untuk duduk di meja makan.
"Kak Jo sudah ku bilang jangan sentuh aku. Ini hatiku yang engap-engap," candanya yang tidak ditanggapi Jovie.
Ya, Jovie memilih bersikap biasa walau hatinya sudah terisi penuh oleh Ellea. Tapi ia tidak ingin membuat gadisnya ini menghindar seperti dulu lagi. Biarlah seperti ini, agar dia bisa melihat senyuman berbinar Ellea setiap saat.
"Kak Jo kenapa ada disini pagi-pagi, mau culik aku ya!!" Ujar Ellea tidak berhenti mengoceh walau Jovie tidak menanggapi.
"Kalau tidur itu jangan seperti orang koma," Edric menyentil kening sang adik yang tidak tahu menahu dengan kehebohan yang terjadi tadi malam.
"Kenapa salah tidurku?" Jawab Ellea sinis pada Edric dengan hidung dikerut-kerutkan.
"Eee, ini anak!!" Gemas Edric, ingin menoyor kening sang adik kembali. Namun Ellea cepat bersembunyi di balik bahu Jovie.
"Suapin," pinta Ellea manja yang diangguki Jovie.
"Manja... Manja," Edric sudah siap menyentil kening Ellea namun tangan Jovie dengan cepat melindungi kening sang gadis.
Mom Linn menghela napas panjang melihat putrinya yang semakin manja pada Jovie. Sedang Dad Harry tidak berkomentar apa-apa. Melihat Ellea sudah ceria kembali saja ia sudah bersyukur.
"Daddy, Edric nakal. Kening aku ini salah apa sih. Tadi sudah kejedot tiang listrik," oceh Ellea. Ia tahu kalau sang kakak tidak suka pada Jovie.
"Edric, biarkan adikmu sarapan dulu. Jangan diganggu," tegur Dad Harry.
__ADS_1
"Aku ini gak ganggu Dad, nanti kalau ada yang sakit hati dan nangis-nangis ngadunya ke siapa?" Sindir Edric, membuat sang adik merajuk.
"Gak nafsu sarapan!!" Rajuk Ellea berdiri dari tempat duduknya.
"Edric!!" Tegur Mom Linn diikuti pelototan, hal sensitif seperti itu dibahas di meja makan.
"Eits, bercanda Sayang." Edric menarik tangan sang adik sampai terduduk di pangkuannya sambil mengulum senyum.
"Jangan ngambek, tambah jelek nanti wajahnya. Ayo aku yang suapin," bujuk Edric menarik kursi di samping kanannya lalu mendudukkan Ella disana.
"Jadi aku jelek?" Rengut Ellea.
"Cantik Sayang, ayo kita sarapan." Jawab Edric dengan cengiran, kemudian menoleh ke perut sang istri dan berbisik di sana. "Dedek jangan cemburu ya, Daddy suapin Aunty Elle yang manja ini dulu."
"Iya, dedek gak cemburu kok. Kan Aunty Elle jelek," sahut Deandra dengan menirukan suara anak kecil membuat Edric tergelak.
"Ish, aku sumpahin tuh baby mirip Aunty-nya yang cantik ini!" Kesal Ellea.
"Aku gak kesal weee, jadi gak akan mirip!" Balas Deandra seraya menjulurkan lidahnya.
"Eeee nanti bertengkar ini," Edric dengan sigap menengahi keduanya sebelum terjadi peperangan di meja makan.
"Dea, Elle makan!" Dad Harry akhirnya buka suara. Dia sudah seperti punya anak kembar, ada saja hal yang dijadikan bahan pertengkaran.
__ADS_1