
Edric bukannya menerima uluran tangan Deandra malah menarik istrinya yang sudah beranjak dari sofa itu sampai terduduk di pangkuannya.
"Edric!" Pekik Deandra terkejut memukul bahu prianya itu.
Duduk dengan posisi seperti ini membuat jantungnya bekerja keras dan otak mesumnya berkeliaran kemana-mana mengingat sisa percintaan panas mereka tadi malam. Pipi wanita itu mendadak bersemu merah.
"Kau kenapa?" Goda Edric mendekatkan bibirnya ke pipi Deandra yang kemerah-merahan. "Mau mengulangnya lagi?" Pria itu seolah tahu kemana arah jalan pikiran wanitanya.
Deandra tidak sadar sudah menganggukkan kepala. Menelan salivanya dengan susah payah saat Edric kembali menggodanya dengan menyisiri leher jenjang miliknya. Tubuhnya seketika menegang menginginkan lebih.
Atmosfer dalam kamar berubah menjadi panas padahal matahari baru menampakkan sinarnya dan pendingin ruangan masih bekerja dengan baik.
"Apa si junior sudah sukses membuatmu ketagihan. Jadi kau sampai tidak bisa mengendalikan diri seperti ini." Edric menggoda dengan kekehan kecil. Ia bisa melihat Deandra yang gelisah meminta untuk disentuh. Namun pria itu menahan diri untuk tidak memberikan sentuhan. Ia ingin bermain-main sebentar, jarang-jarang Edric bisa melihat wajah wanitanya ini memberikan tatapan memohon.
"Aku tidak kuat," Deandra membenamkan wajahnya ke dada bidang Edric. Namun pria itu tidak mendiamkannya saja. Ia mengembalikan wajah Deandra agar bisa ditatapnya dengan puas.
"Bilang kau mau apa dulu?" Edric menggoda dengan seringaian jahil.
Deandra tahu dia sedang dikerjai oleh Edric, tapi tidak bisa melakukan protes. Karena tubuhnya sangat menginginkan sentuhan itu.
__ADS_1
"Bebaskan aku sekarang Edric." Mohon Deandra dengan tatapan berkabut gairah. Tangan Edric hanya menempel di atas perutnya tapi terasa seperti memberikan sengatan listrik.
"Bukan begitu caranya. Honey, I Love You. Bilang seperti itu baru aku akan membebaskanmu," Edric tersenyum penuh kemenangan. Padahal dirinya juga sudah susah payah menahan diri agar tidak meluncuti istrinya ini sekarang.
"Love you Mr. Arrogant," gumam Deandra langsung menyosor benda kenyal milik sang suami karena sudah tidak sabaran lagi.
Edric tersenyum geli mendengar panggilan yang disematkan Deandra. Dia membiarkan saja wanita itu bermain sendirian, tidak berniat memberikan balasan.
"Edric please," Deandra mendesah kecewa karena Edric tidak membalan ciumannya.
Pria itu menggeleng pelan, "apa kau tidak bisa merasakan bahasa cinta yang aku berikan?" Tanya Edric tepat di telinga wanitanya.
"Apa yang kau pikirkan saat aku menyentuhmu?" Edric kembali bertanya, karena hanya seperti ini mereka bisa bicara dari hati ke hati tanpa membawa suara yang tingginya beroktaf-oktaf. Karena masing-masing dari mereka tidak pandai mengendalikan emosi.
"Aku merasa kau menyentuhku karena hanya tergoda dengan tubuhku dan untuk menyalurkan hasratmu. Saat itu aku merasa sangat dicintai, tapi setelahnya aku kehilangan semua rasa cintamu itu." Ucap Deandra jujur dengan suara sendu karena Edric mempermainkannya yang sudah menunggu untuk dipuaskan.
"Aku tidak pernah menyalurkan hasratku pada siapapun termasuk Alice. Kaulah satu-satunya wanita yang pernah aku sentuh. Jika aku tidak pernah mengungkapkan kata cinta bukan berarti aku menyentuhmu tanpa cinta. Sekarang kau mengerti Sweetheart." Edric mengakhiri ucapannya dengan mengecup singkat bibir Deandra.
Deandra mengangguk pelan lalu bertanya untuk memastikan perkataan Edric yang ambigu. Dalam hatinya merasa sangat bahagia karena ucapan Edric barusan, yang menegaskan hanya dialah satu-satunya wanita yang pernah pria itu sentuh. "Apa itu artinya kau akan memberikan cinta untukku?"
__ADS_1
"Kau artikan saja sendiri," Edric menurunkan Deandra dari pangkuannya.
"Edric!" Deandra mendesah kecewa saat Edric menurunkannya dari pangkuan setelah membuatnya panas dingin seperti ini.
"Kau benar-benar menginginkannya sekarang. Sebentar lagi kau ke kampus?" Edric bertanya dengan serius. Padahal ularnya juga sudah sangat ingin keluar dari sarang dan memasuki gua sempit yang penuh kehangatan itu.
Deandra mengangguk cepat, "aku sepertinya mau haid jadi seperti ini. Menurut artikel yang pernah aku baca perubahan hormon sebelum haid menyebabkan wanita semakin bergairah."
"Kau ini, mau minta bercinta saja studi kasus dulu." Edric menuntun Deandra ke tempat tidur.
"Biar kau tidak mengiraku perempuan murahan!" Sungut Deandra dengan wajah muram.
"Hei sudah jangan bahas itu, kalau ada perkataanku dulu yang masih membuatmu tersinggung maafkan aku." Ucap Edric serius, mendudukkan Deandra disisi tempat tidur.
"Tapi aku masih selalu ingat itu. Kau tidak sudi menyentuh tubuhku yang sudah digerayangi pria lain ini."
"Aku sudah minta maaf untuk itu kan, dan aku juga sudah mematahkan ucapanku itu. Aku menyentuhmu, bahkan selalu menginginkannya." Edric berucap lembut, "sesi kali ini sebentar saja. Aku tidak ingin kau tidak konsen belajar karena kepikiran junior kebanggaanmu ini."
"Aku bolos saja ya."
__ADS_1
"No Sweetheart," Edric membaringkan Deandra perlahan. Kalau sama-sama terbuka seperti inikan enak. Mereka tidak perlu adu kekuatan suara. Cukup beradu di tempat tidur.