
"Sudah siap?" Tanya Edric yang menunggu di ruang tengah bersama Ron saat Ellea keluar dari kamar dengan pakaian rapi dan wajah berbinar.
Gadis itu mengangguk riang, seperti tidak memiliki masalah apapun. Secepat itu dia bisa mengendalikan diri.
"Ini ponselmu, tapi kau harus lanjut kuliah jangan hilang-hilangan lagi. Aku tidak akan membantu kalau kau kena drop out." Ujar Edric mengembalikan ponsel dan semua fasilitas Ellea.
"Siap Tuan," Ellea mengambil ponsel kesayangannya yang sudah berbulan-bulan tidak dibelai.
"Ayo Ron," katanya menarik tangan pria yang tidak mengatakan apapun. Hanya tersenyum padanya.
"Kau yakin ingin menikah denganku?" Tanya Ron ragu saat mereka sudah berada di mobil. Kurang yakin dengan perkataan Edric tadi, karena beberapa kali ia dikerjai gadis ini. Ketika ingin bertemu malah gadis menyebalkan teman Deandra yang muncul.
"Memangnya siapa yang kau harapkan? Sari?" Sindir Ellea dengan tawa gelak. Teringat saat ia mengerjai Ron dengan Sari.
Ron berdecak, sanggupkah dia menghadapi kenakalan gadis ini. "Pakai ini," katanya mengalungkan kalung milik Ellea pemberiannya yang sempat gadis itu buang saat marah padanya.
"Masih kau simpan?"
__ADS_1
Pria itu mengangguk mengacak puncak kepala Ellea. Dalam hatinya berjanji untuk selalu membahagiakan dan membuat gadis ini tidak menyesal menikah dengannya.
...🌹🌹🌹 ...
Seperginya Ellea dan Ron Edric mencari sang istri ke kamar.
"Kenapa kau menyuruh Elle menerima Jovie. Kau tahu aku tidak suka pada pria brengsek itu?" Edric menatap dingin Deandra yang baru berganti pakaian.
"Kau masih tidak bisa menerima kenyataan kalau sahabatmu itu yang meniduri Alice?" Deandra berdecak, tersenyum miring pada Edric yang tiba-tiba marah padanya.
"Elle berhak mengejar pria yang dicintainya? Apa itu salah? Kalau ini bukan tentang Alice kenapa kau harus melarang Elle bersama Jovie!!" Tegas Deandra tidak mau kalah.
"Seperti kau yang juga ingin mengejar Om kesayanganmu itu?" Sindir Edric kesal.
"Ya, aku akan mengejar Om kesayanganku itu kalau saja kau tidak menikahiku!!" Teriak Deandra marah, karena selalu dikaitkan dengan masa lalunya.
Edric menarik napas panjang berulang kali. Harusnya ia yang marah, tapi kenapa malah istrinya yang jadi marah.
__ADS_1
"I'm sorry," lirihnya memeluk Deandra. Tidak seharusnya ia membuat istrinya yang sedang hamil ini emosi.
"Ini bukan tentang Alice. Aku tidak ingin Elle mendapatkan pria brengsek seperti Jovie. Pada wanita yang menjadi milikku saja dia berani merebutnya. Bagaimana nanti kalau mereka menikah, siapa yang bisa menjamin Jovie tidak bermain di belakang Elle." Jelas Edric panjang lebar, membawa Deandra duduk di sisinya.
"Aku sudah memiliki kau dan calon anak kita. Tidak ada Alice lagi di hatiku Sayang," ucapnya sambil mengelus-elus perut sang istri.
"Aku tidak suka kau selalu mengungkit Om Azmi!" Ujar Deandra ketus, masih kesal pada Edric.
"Kalau kau tidak suka maka aku juga. Kau selalu saja mengaitkan dengan Alice kalau aku berbicara perihal Jovie," sebut Edric.
"Itu karena kau memang membenci Jovie sebab Alice!" Cetus Deandra, Edric menghela napas panjang wanita memang selalu benar.
"Maaf, aku salah." Ucap Edric mengalah, daripada perdebatan ini tidak ada akhirnya.
"Jadi benar kau marah pada Jovie karena Alice!!" Seloroh Deandra dengan tatapan membunuh.
"Oh Tuhan," pria itu mengusap wajah gusar. "Terserah kau saja Sweetheart," ujar Edric lelah menghadapi ibu hamilnya ini.
__ADS_1