
Selesai melakukan pertemuan dengan Mr. Dominic dan membuat pengusaha asal Inggris Raya itu mau bekerjasama dengan R-Group Edric langsung kembali ke Indonesia.
Satu minggu tidak bertemu Deandra terasa sangat lama. Wanita yang sering ia buat kesal itu ternyata mampu membuatnya rindu dan ingin cepat pulang.
Apa ia sudah jatuh cinta pada Deandra? Entahlah, Edric masih belum yakin kalau ini perasaan cinta. Mungkin ia hanya kesepian karena terbiasa mendengar suara ketus Deandra dan wajah cemberut wanitanya itu.
Setelah menempuh perjalanan selama belasan jam dari Bandara London Heathrow akhirnya mereka tiba di Bandara Soetta. Selama perjalanan yang dilakukan Ron hanya tidur.
Berbeda dengan Edric yang hanya bisa terpejam sebentar. Karena dalam mimpi pun wajah Deandra selalu hadir menghantuinya. Ia tidak memberitahu wanitanya itu kalau pulang malam ini.
"Ron, aku besok akan berangkat siang ke kantor. Minta Alva untuk memimpin meeting, jangan menunggu aku." Ujar Edric, karena orang kepercayaan yang membantunya di Hansel group itu tahunya dia pulang malam ini. Pasti akan mengira dia besok pagi sudah ada di kantor.
"Siap Tuan," jawab Ron yang masih mengantuk menatap jalanan kota Jakarta di malam hari dengan tubuh lelah.
Edric mengawasi cctv tersembunyi yang ada di kamarnya. Walau tidak menghubungi Deandra, ia selalu memantau kegiatan istrinya itu.
__ADS_1
Deandra sudah tertidur dengan lelap. Edric tidak sabar ingin melepas rindu pada wanitanya itu. Mobil yang ia tumpangi berhenti sejenak mengantar Ron terlebih dahulu ke apartemen sebelum membawanya pulang ke mansion Hansel.
Sesampainya di mansion Edric disambut Pak Man, kepala pelayan. "Pak Man, tolong kunci kamar cadangan." Pintanya, karena kamar itu Deandra kunci dari dalam.
"Ini Tuan," Pan Man sudah menyiapkan sebelum sang majikan sampai di mansion.
"Terima kasih," ucap Edric. Walaupun pada pelayan mereka selalu diajarkan Mom Linn untuk mengucapkan tiga kata ajaib maaf, tolong dan terima kasih. Jadi Edric tidak sungkan mengatakannya pada para pelayan di mansion.
Dengan tidak sabaran pria itu masuk ke kamar kemudian membersihkan diri sebelum mendekati Deandra.
"Sweetheart," panggil Edric naik ke atas tempat tidur dengan perlahan selepas mandi. Langsung berbaring di samping Deandra, walau tahu wanitanya ini tidak akan menjawab panggilannya.
"Sweetheart kau masih bisa mendengar suaraku?" Tanya Edric sambil mendusel-dusel leher Dea. Sesekali memberikan sesapan lembut di sana.
Deandra merasakan seperti sedang bermimpi namun ini nyata. Ia seperti dejavu karena kejadian ini pernah dialaminya.
__ADS_1
"Geli Om, jangan gelitiki Dea."
Deg!
"Om, jadi kau menganggap aku ini si pria brengsek itu!" Gumam Edric emosi. Namun ia ingin mengetahui sedalam apa perasaan Deandra pada pria tua itu sampai membawanya ke alam mimpi.
"Yang mana geli Sayang?" Edric seolah berperan sebagai manusia brengsek itu. Ia memberikan elusan di tempat yang ditunjukkan Dea.
"Awas kau!! Karena sudah berani berimajinasi dengan lelaki lain. Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan besok pagi!" Umpat Edric dalam hati. Hatinya marah namun sialnya dia menikmati peran ini.
"Nyaman Sweetheart?" Tanyanya sungguh-sungguh, entah Dea sadar atau tidak saat ia tanya seperti itu.
Wanita itu mengangguk pelan, "Dea rasanya melayang-layang Om, bahagia."
"Ck, lagi-lagi kau pikir aku ini Om-mu tersayang itu." Edric mengepalkan tangannya yang lain dengan kuat. Padanya Deandra tidak pernah berucap manja seperti itu. Di saat bersamaan ia dibuat meremang karena wajah tergoda Deandra.
__ADS_1
Perlahan Edric mengungkung tubuh Deandra. Ia akan memberikan wanitanya ini pelajaran karena berani memimpikan pria lain.
"Om jangan perkosa Dea!!" Teriak Deandra ketakutan saat Edric sudah berada di atasnya dan ada benda keras yang menyapa area sensitifnya. Deandra membuka mata perlahan dengan napas memburu.