
"Sayang," Edric bergelayut manja di tangan Deandra yang sedang sibuk dengan laptopnya. Sudah semingguan ini istrinya itu bersikap dingin bahkan dia terpaksa harus puasa.
"Aku sibuk Ed," sahut Deandra acuh.
"Kapan kau tidak sibuk kalau sedang bersamaku," pria itu terkekeh kecil memainkan rambut sang istri. Tahu Deandra hanya ingin menghindarinya. "Minggu depan kita liburan ya Sweetheart," ajaknya. Berharap wanita itu berhenti marah.
"Minggu depan ujian," jawab Deandra singkat.
"Setelah ujian libur kan? Kita liburan setelah kau ujian saja." Edric tetap bersabar menghadapi wanitanya.
"Aku tidak bisa!" Tolak Deandra tanpa perlu berpikir panjang.
"Dea bisanya kapan Sayang?" Kapan baby-nya bisa tumbuh kalau wanitanya ini selalu menghindar.
"Tidak ada waktu."
Edric menghela napas lelah menyandarkan kepala ke sofa sambil menunggu Deandra selesai mengerjakan tugas. Kalau dia tinggal tidur duluan pasti akan bertambah marah.
__ADS_1
Semakin hari hubungan suami istri itu semakin berjarak. Deandra yang semakin dingin dan Edric kehabisan cara untuk membujuk wanitanya. Tapi dia tetap memperlakukan wanitanya itu dengan baik.
"Apa? Kau mencuekinya selama satu bulan ini? Kau gila Dea! Kalau Edric lelah membujukmu dan kembali pada ulat bulu itu bagaimana?" Seloroh Sari kesal, tidak habis pikir pada isi kepala wanita yang duduk di sampingnya ini. Ada pria setampan Edric malah disia-siakan.
"Kalau dia kembali pada mantannya berarti tidak mencintaiku, sesimpel itu." Jawab Deandra santai walau hatinya mengatakan tidak rela kalau Edric kembali pada Alice.
"Bukan masalah cinta atau tidak cinta, lelaki punya harga diri. Kalau terus diacuhkan mereka juga bisa lelah dan mencari perempuan lain yang lebih menghargainya," omel Sari.
"Aku juga lelah Sari, kau selalu saja membela Edric. Kau saja sana yang jadi istrinya!!" Kesal Deandra, punya teman bukan membelanya malah membela orang lain.
"Serius kau ingin memberikan Edric padaku? Tentu saja aku tidak menolak!" Seru Sari heboh sendiri.
"Kau pusing lagi?" Gadis itu menghentikan kehebohannya. Khawatir pada Deandra yang setiap hari mengeluh pusing.
Istri Edric itu mengangguk lemas, nafsu makannya pun juga berkurang.
"Kau kena azab karena durhaka sama suami nih!" Celetuk Sari asal.
__ADS_1
Deandra tidak berniat menanggapi ucapan Sari. Menyandarkan kepala ke kursi taman sambil menunggu jemputan. Tidak berapa lama mobil Edric terparkir.
"Panjang umur pangeran tampan sudah datang!" Seloroh Sari, membuat Deandra membuka matanya kembali.
"Aku duluan," pamit Deandra. Edric sudah menunggunya di depan pintu mobil. Namun baru berjalan beberapa langkah wanita itu hampir limbung kalau tidak cepat ditangkap Edric.
"Bawa Dea ke dokter," suruh Sari pada Edric. Tidak memberi tahu kalau wanita itu sering mengeluh pusing.
Edric mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Sari. Setelahnya membawa Deandra ke mobil.
"Kau belum makan siang Sweetheart?" Tanya Edric khawatir seraya memasangkan seatbelt.
Deandra menggelengkan kepala, nafsu makannya mengalami penurunan drastis.
"Kita mampir makan siang dulu." Ujar Edric, sudah terbiasa pada sikap Deandra yang dingin padanya. Bahkan wanitanya itu hanya bisa dipeluk saat tertidur saja.
"Aku tidak ingin makan, aku ingin cepat tidur!" Ucap Deandra malas.
__ADS_1
"Oke kita langsung pulang," Edric mengalah. Mengikuti saja keinginan wanitanya tanpa protes. Sebisa mungkin menghindari hal yang bisa membuat Deandra marah-marah.