
Tidak hanya jadi amukan kedua orang tuanya. Ron juga menjadi sasaran amukan kedua orang tua Frida. Karena membatalkan pertunangan di hari H yang membuat mereka semua malu pada tamu undangan. Namun pria itu masih bisa bersikap tenang.
Bagaimana tidak tenang kalau target sudah mengenai sasaran. Walaupun dengan penampilan berantakan, raut wajah Ron terlihat sangat bahagia.
"Nah kan bubar jadinya," Deandra yang dari awal menyaksikan kekacauan di ballroom menghela napas berat.
"Kita pulang Sweetheart," ajak Edric menggendong putrinya yang tertidur. Jovie sudah pulang duluan karena bisa menebak bagaimana akhirnya drama ini.
"Itu tadi gimana Ayang?" Tanya Deandra ketika mereka sudah sampai di mobil.
"Ya batal, mau gimana lagi Sayang." Edric menyahut sambil memindahkan putrinya ke pangkuan sang istri.
"Ih kasihan Ayang, gimana perasaan ceweknya coba dibatalkan sepihak gitu. Mana banyak orang, Ron tega banget."
"Terus mau gimana lagi, hm. Masa aku yang harus gantiin posisi Ron," Edric mengerling genit.
"Edric!!" Pekik Deandra.
"Sttt, bercanda Sayang. Jangan teriak-teriak nanti Calla bangun." Tegur Edric dengan kekehan, menepuk-nepuk sang putri yang terkejut karena suara menggelegar Deandra.
"Siapa suruh ngeselin!!"
"Cup, cup udah mau anak dua masih suka ngambekan." Kekeh Edric sambil mengusap pipi Deandra lalu menutup pintu mobil dengan pelan.
"Ngurus Calla juga masih suka rusuh, serius Ayang mau nambah lagi?" Deandra menoleh ke arah sang suami yang sudah duduk dibalik kemudi.
"Biar sepasang Sayang, mau ya." Bujuk Edric menepuk puncak kepala wanitanya dengan sayang.
"Ayang ish, katanya aku boleh ngejar impianku. Kalau hamil gimana aku mau lanjut kuliah lagi," gumam Deandra sendu. Menatap putrinya yang tengah tertidur pulas.
__ADS_1
"Oke setelah Dea lulus S2," Edric mengalah tapi dalam hatinya berjanji akan membuat istrinya itu hamil secepatnya.
"Janji gak akan bikin aku hamil sebelum lulus S2," Deandra beralih menatap Edric.
"Gak bisa janji Sayang, kalau dikasih gimana? Masa mau digugurkan." Ucap Edric lembut yang membuat Deandra terdiam. Cukup lama mereka mengobrol sebelum akhirnya pria itu melajukan mobilnya.
Keesokan paginya.
"Ron," Edric mengernyitkan alis saat melihat pria yang pagi-pagi sudah berada di mansionnya. "Mau apa kau kemari, belum puas sudah membuat kekacauan tadi malam, hm?" Tanyanya dingin diikuti tatapan tajam.
"Aku tidak ada urusan dengan kau Edric, aku hanya ingin bertemu Lea." Jawab Ron, tidak merasa terintimidasi oleh tatapan elang mantan bosnya.
"Hei kau lupa Ellea Hansel itu adikku. Kalau ingin bertemu dengannya tentu saja kau harus berhadapan denganku!!"
"Edric... Ron!!" Tegur Mom Linn.
Oh Tuhan, setelah melewati masa Ellea dan Deandra yang sering bertengkar. Apakah akan ada season dua, edisi Edric dan Ron yang jadi suka bertengkar juga.
Ron tersenyum penuh kemenangan pada Edric, segera meluncur ke kamar Ellea. Setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar tidak ada jawaban. Ia berinisiatif membuka pintu kamar Ellea yang tidak dikunci.
"Hei masih belum bangun," Ron membuka tirai membiarkan cahaya matahari masuk.
"Mom, kepalaku pusing." Gumam Ellea masih dengan mata terpejam. Mengira yang masuk ke kamarnya Mom Linn.
"Kau sakit," Ron mendekati tempat tidur menempelkan punggung tangannya di kening Ellea. Panas tubuh gadis itu tinggi. "Kan kau kelelahan gara-gara lari tadi malam," gumamnya yang membuat Ellea membuka mata.
Gadis itu langsung melompat bangun, tidak peduli dengan kepalanya yang berat. Menutup wajah dengan selimut karena malu.
"Hei kenapa ditutup, cantik tahu. Aku pasti tidak akan bosan melihat wajahmu saat bangun tidur," gombal Ron menarik selimut yang menutupi wajah Ellea. Gadis itu melotot dan berteriak nyaring memanggil sang mommy.
__ADS_1
"Kenapa kau itu suka sekali teriak-teriak?" Gerutu Mom Linn.
"Mom kenapa Ron dibolehkan masuk. Aku belum mandi ish, malu." Rengut Ellea mengabaikan omelan sang mommy.
"Sejak kapan putri Mom punya urat malu," ledek Mom Linn yang mendekat saat menyadari wajah pucat Ellea.
"Baru saja Mom, tadi aku beli urat malu dalam mimpi." Sahut Ellea asal membaringkan tubuhnya kembali.
"Demam, makanya ngelindur." Beritahu Ron pada Mom Linn sambil merapikan selimut Ellea.
"Aku gak ngelindur Ron, sana pergi ish." Usir Ellea, tidak tahukah dia setengah mati menahan malu.
"Yakin aku diusir lagi, hm." Goda Ron dengan kerlingan jahil.
Ellea hanya menjawab dengan pelototan mata. Dalam hatinya, "berani kau pergi aku sunat dua kali."
"Cuci muka dan gosok gigi dulu, Mom ambilkan sarapan sama obat." Ujar Mom Linn yang diangguki Ellea. Gadis itu bangun kembali dibantu Ron. Baru menyentuhkan kaki ke lantai langsung berteriak. Membuat wanita setengah baya yang sudah sampai pintu kamar terkejut.
"Apalagi?" Geram Mom Linn mengira putrinya sedang usil.
"Sakit Mom, kakinya bengkak." Rengek Ellea dengan mata berkaca-kaca menunjuk kakinya yang lecet-lecet. Salah siapa lari-larian tidak menggunakan alas kaki.
"Kau itu ada-ada saja!" Mom Linn menghela napas panjang sambil geleng-geleng kepala.
"Biar aku bantu," Ron berinisiatif menggendong Ellea namun gadis itu menolak.
"Gak mau, aku mau Edric saja." Ujar Ellea yang masih malu pada Ron.
Entah kenapa dia jadi secanggung ini, mungkin karena lama tidak bertemu dan tidak terbiasa bermanja-manja dengan Ron lagi. Atau malu karena ketahuan memiliki perasaan pada pria itu.
__ADS_1
"Oke Mom panggil kakakmu," putus Mom Linn meninggalkan putrinya yang kikuk berada di samping Ron.