
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit akhirnya Edric sampai di mansion. Deandra sudah tertidur, begitu juga dengan Ellea.
Usai membersihkan diri pria itu duduk di tempat tidur membuka laptopnya kembali sambil bersandar di headboard. Ia harus bekerja keras untuk mengembalikan Richland Group.
Diusapnya kepala Deandra dengan pelan, "kau harus membayar semua ini. Aku tidak akan melepaskanmu, karena kau sudah membuat hidupku sengsara!!"
"Eugh!!" Deandra melenguh karena terusik gerakan tangan Edric. Netranya membuka perlahan yang disambut tatapan lembut dari mata hazel sang suami.
"Kau baru pulang?" Deandra melirik jam di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kalau mereka tidak tinggal disebuah mansion yang mewah di tengah perkotaan pastilah akan terdengar suara jangkrik yang bersahutan menghiasi dinginnya malam.
Pria itu mengangguk kecil, "tidurlah lagi. Aku masih ada pekerjaan," Edric menepuk pipi Deandra lembut.
"Sudah malam kau masih bekerja, apa tidak lelah?" Deandra bisa melihat raut lelah Edric dari matanya.
Edric menggeleng pelan, "kalau bukan aku siapa yang akan bekerja."
"Apa ini semua karena aku?" Tanya Deandra dengan perasaan bersalah. Karenanya Edric jadi susah, semua ini pasti ada hubungan dengan perbuatan Om Azmi.
"Ini bukan karena kau, jangan dipikirkan. Tidurlah aku akan segera menyusul," Edric tersenyum mengecup kening Deandra sebagai ucapan selamat malam.
__ADS_1
Deandra hanya terkejut sebentar saat Edric mengecup keningnya. Ia tidak ingin terlihat memalukan di depan Mr. Arrogant-nya ini.
"Aku mau menemanimu," bukannya tidur Deandra malah bangun duduk di samping Edric.
"Kau itu bukan menemani, tapi menggangguku saja!" Cibir Edric, hilang sudah sikap manis dan hangatnya tadi. "Mengganggu konsentrasiku lebih tepatnya!" Lanjutnya membatin.
"Ish, kau ini jahat sekali. Aku sudah berinisiatif menemanimu biar tidak mengantuk dan semakin bersemangat." Seloroh Deandra dengan wajah cemberut. Tidak memalingkan tatapannya dari Edric.
"Aku tidak bisa bekerja kalau kau tatap seperti ini." Edric mengusap wajah Deandra dengan usil.
"Aku tutup matanya," Deandra memejamkan mata sebagian. Hilang sudah rasa mengantuknya tadi. Seharian ia menunggu Edric pulang, karena kesepian di rumah. Ellea entah kemana Dea tidak melihat batang hidung adik iparnya itu.
"Kenapa tidur, nanti siapa yang bekerja?" Deandra mengembalikan ucapan Edric, suaminya itu sudah membaringkan tubuh lebih dulu.
"Bisa dikerjakan nanti, berbaringlah aku ingin bicara." Pria itu menepuk bantal di sampingnya. Deandra menurut untuk berbaring, penasaran dengan apa yang ingin Edric bicarakan.
"Lusa aku akan ke Singapura lalu lanjut ke Inggris mungkin selama seminggu di sana. Kau tidak boleh bertemu dengan Om-mu itu selama aku tidak ada. Kalau kau melanggar, aku akan mengurungmu selama satu bulan tidak boleh bertemu siapapun sebagai hukumannya."
Bibir Deandra otomatis mengerucut seperti menggunakan remot kontrol saat mendengar pemberitahuan sekaligus ancaman dari Edric.
__ADS_1
"Aku pikir kau ingin mengatakan cinta padaku. Eh ternyata cuma mau mengamcamku," sungutnya.
"Kau ini terlalu banyak berhayal, aku bersikap baik padamu bukan berarti karena cinta. Dan kalau aku menciummu itu hal yang biasa, wanita manapun bisa aku cium kalau aku mau!" Ucap Edric dengan arrogant, mendorong kening Deandra pelan.
"Iya-iya aku tahu. Kau itu tampan, kaya, berkuasa. Jadi bisa sesuka hatimu memperlakukanku! Sedang aku disini tidak boleh melakukan apa-apa. Awas saja kalau sampai aku melihatmu mencium wanita lain. Kepalamu ini akan kumasukkan ke sarang tawon," ucap Deandra menggebu-gebu.
"Jadi aku tidak boleh mencium perempuan lain?" Edric menahan senyum menggoda Deandra.
"Tentu saja tidak boleh! Aku ini istrimu, untuk apa kau mencium perempuan lain kalau sudah ada aku. Dasar pria hidung belang!" Deandra mencubit kesal hidung Edric yang tidak bersalah.
"Apa kau cemburu?" Edric menaikkan satu alisnya semakin menggoda.
"Aku cemburu? Kalau kau bisa mencium wanita lain sesuka hatimu akupun bisa melakukannya pada pria lain. Aku melarangmu mencium wanita lain bukan karena cemburu." Deandra tertawa sinis mengembalikan ucapan Edric.
"Berani kau ingin mencium pria lain!" Edric menjepit bibir Deandra. Ia tidak akan membiarkan pria manapun menyentuh miliknya. "Jangan pernah berani berpikir seperti itu, karena kau akan mendapatkan hukuman tidak bisa keluar kamar selama dua hari!"
"Edric kau sangat suka mengurungku. Aku ini bukan binatang peliharaan!"
"Kau memang bukan binatang peliharaan, kau istriku. Istri Edric Hansel, ingat itu. Jadi jangan berani melawanku, aku bisa melakukan apapun padamu." Edric menepuk pipi Deandra lalu membawanya dalam pelukan.
__ADS_1
Deandra yang diperlakukan manis kembali dibuat melongo. Pria jenis apa yang menjadi suaminya ini. Sebentar-sebentar manis, semenit kemudian perlakuannya bisa berubah drastis.