
"Gara-gara kau Elle kabur!" Kesal Jovie menyalahkan Ron karena gagal membawa Ellea ikut bersamanya. Sangat aneh orang-orangnya tidak bisa menemukan gadis itu.
"Kau yang membuatnya pergi. Harusnya kau tidak pernah muncul dihadapannya lagi. Karena kau hidupnya jadi susah!" Ron tidak mau kalah, mendorong tubuh Jovie yang menghalangi langkahnya.
"Kau lupa, karena siapa Elle memilih pergi dari mansion." Jovie mengangkat satu sudut bibir tersenyum miring. "Kau lah penyebab utama penderitaan Elle!" Tunjuknya murka pada Ron, karena perjodohan itu gadisnya jadi terasingkan dan sekarang entah sedang ada dimana.
"Itu terjadi karena kau yang keterlaluan padanya. Demi menjauhkan kau darinya perjodohan itu terjadi!" Balas Ron, dua pria itu tidak ada yang mau mengalah, saling menyalahkan atas kaburnya Ellea.
Baik Jovie maupun Ron tidak ada yang berhasil mendapatkan informasi keberadaan sang gadis. Sementara di tempatnya berada Ellea tengah menyandarkan punggungnya ke sofa sambil memikirkan nasib hidupnya ke depan. Ia tidak mungkin menumpang lama di tempat orang lain.
"Tutup akses semua orang yang mencari keberadaannya, jangan sampai ada yang tahu dia ada bersamaku." Ucap Sari saat menerima telepon dari seseorang. Ia tertawa geli mendengar laporan kalau dua pria yang memperebutkan Ellea itu seperti kebakaran jenggot mencari gadis pujaannya.
Ellea melirik sekilas kala mendengar Sari berbicara dengan seseorang yang entah siapa, keningnya mengernyit heran. Siapa sebenarnya orang yang bersamanya saat ini. Kalau dilihat dari penampilan dan tempat tinggal hanya seperti orang biasa. Tapi kalau orang biasa tidak akan mungkin bisa menghalangi Jovie dan Ron yang mencari keberadaannya.
"Kau boleh tinggal disini sepuasnya kalau bisa membuat asisten kakakmu itu dekat denganku." Ujar Sari sambil memutar-mutar ponsel di tangan dengan bibir senyam-senyum tidak jelas.
__ADS_1
"Dasar tidak waras!" Desis Ellea dalam benaknya. "Siapa kau?" Tanyanya penuh selidik.
"Aku Sari," jawab gadis itu santai dengan senyuman yang tidak luntur dari bibirnya.
"Bukan itu yang kutanyakan, jangan pura-pura bodoh. Siapa yang kau telepon tadi?" Decak Ellea kesal, jangan sampai dia ditolong orang stres.
"Emm, itu hanya preman daerah sini," Sari semakin menyengir lebar.
Bungsu Hansel itu menghela napas lelah, fix sekarang dia sedang bersama orang yang tidak waras.
"Kau," Ellea menggeram tertahan. Bagaimanapun caranya dia harus cepat mendapatkan uang agar bisa segera pergi dari kota ini.
...🌹🌹🌹 ...
"Eugh," Deandra melenguh terbangun dengan kepala yang terasa berat. Tubuhnya terasa sakit semua.
__ADS_1
Sang pria yang merasakan pergerakan wanita dalam pelukannya ikut membuka mata. "Sweetheart," senyuman tersembul dari bibir sexy pria tampan calon ayah itu.
"Edric,,," Deandra yang ingin mempertanyakan kenapa Edric bersamanya tertahan. Suaranya hilang, tenggorokannya seperti terbakar.
"Kau sakit?" Cemas Edric mendengar suara parau wanitanya.
"Badanmu demam," serunya setelah menempelkan punggung tangan di kening Deandra. Pria itu melompat dari pembaringan duduk dengan siaga di samping sang istri. "Kita ke dokter Sayang." Edric sangat khawatir pada calon bayinya.
Deandra ingin sekali berteriak pada sang suami yang sangat berlebihan. Dia cuma demam untuk apa ke rumah sakit, tapi sayang suara emasnya hilang sebab semalam terlalu banyak berteriak dan menangis.
"Aku tidak mau ke rumah sakit Edric!" Ucapnya dengan suara kecil seperti kucing kejepit.
"Oke, kita panggil dokter saja." Pria itu tidak mendebat istrinya, memijat kening sampai kepala Deandra dengan lembut. "Kau boleh marah padaku tapi jangan sampai sakit seperti ini." Edric berujar dengan sendu, karenanya sang istri sampai sakit.
"Kalau kau tidak menginginkan kehadirannya maukah kau membesarkannya disini sampai lahir. Setelahnya biar tanganku yang merawat dan membesarkannya nanti, kau masih bisa melakukan apa yang kau mau dan mengejar impianmu." Lanjutnya dengan memohon.
__ADS_1
Edric tidak ingin membebani Deandra dan merampas masa mudanya untuk merawat anak mereka nanti. Ia sangat mencintai wanitanya ini, juga pada calon anak mereka. Jadi sebisa mungkin mengambil jalan tengah yang terbaik agar sang istri tidak merasa tertekan dengan kehamilannya yang bisa membahayakan janin dalam kandungan.