
Setelah membawa Deandra ke restoran Thailand sesuai keinginan wanita itu, Edric meninggalkannya sebentar ke toilet.
Deandra yang ditinggalkan Edric memilih memesan makanan lebih dulu. Perutnya sudah sangat lapar. Sampai pesanannya datang, Edric tidak juga kembali. Tidak biasanya sang suami meninggalkannya lama kalau hanya ke toilet.
Sambil menunggu Edric Deandra menyantap neua yang, mengabaikan rasa cemas yang ada di hatinya. Daging sapi rib import yang direndam dengan bumbu khas Thailand dan dipanggang itu tidak mampu mengalihkan kecemasannya.
Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang. Deandra menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari pengawalnya tapi tidak ada. Ia baru ingat kalau kedua pengawalnya Edric suruh pulang lebih dulu membawa barang belanjaan mereka.
“Baby, I miss you so much.”
Suara yang sangat Deandra kenal menyapa telinganya. Tangan kekar pria itu memeluknya dari belakang, membuatnya spot jantung.
"Om," lirih Deandra dengan suara gemetar. Berusaha menghilangkan ketakutannya, ia melepaskan tangan pria yang sudah lama tidak ditemuinya itu. Namun sang pria semakin mengeratkan pelukannya.
Hatinya semakin tidak tenang karena Edric belum juga kembali. Pasti semua ini ada hubungannya dengan Om Azmi. Edric tidak akan meninggalkannya lama kalau tidak ada apa-apa. Deandra teringat dengan ancaman Om Azmi yang bisa saja mencelakakan suaminya.
__ADS_1
"Om apakan Edric!" Tuduh Deandra sengit, menggigit tangan yang melingkar di lehernya sampai terlepas.
"Awww sakit Baby," ringis Azmi terpaksa melepaskan pelukannya. Menarik kursi lalu duduk di samping Deandra.
"Kenapa Dea mengkhianati Om?" Tanya pria itu dengan lembut sambil mengelus-elus perut Deandra. Seharusnya yang bersemayam di perut ini anaknya, bukan anak Edric.
"Om," Deandra tidak berani menatap mata pria dewasa itu. Pria yang dulu memenuhi seluruh ruang di hatinya.
"Apapun semua akan Om berikan untuk Dea Sayang. Asal kembali bersama Om," ucap Azmi menarik Deandra dalam pelukan.
"Edric tidak ada disini, jangan khawatir." Azmi tersenyum menarik gadisnya yang tidak gadis lagi dalam pelukan.
Tentu saja ia sudah menjauhkan pria itu sebelum mendekati Deandra. Karena tidak ingin kesempatan bertemu pujaan hatinya ini gagal lagi. Sudah lama Azmi menantikan kesempatan ini, setelah beberapa kali gagal membuat Edric jauh dari sisi Deandra.
"Om apakan Edric?" Pekik Deandra emosi, tidak peduli suaranya melengking sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Om Azmi. Tapi tenaganya kalah kuat dengan pria seusia Dadnya itu.
__ADS_1
"Sayang jangan berteriak," Azmi mengelus-elus pipi Deandra agar tenang.
"Jawab Om. Om apakan Edric!!" Sengit Deandra dengan tatapan membunuh. Tapi Azmi tidak merasa terintimidasi sama sekali, malah semakin merindukan gadisnya yang begitu pemberani.
"Om jawab atau aku akan berteriak!!" Ulang Deandra.
"Sttt, tidak ada. Om tidak apa-apakan Edric," jawab Azmi agar Deandra mau tenang. Tapi wanita hamil itu tidak percaya begitu saja.
"Om bohong, lepasin!!" Teriak Deandra mencoba mendorong tubuh Azmi kembali. Namun suaranya tidaklah keluar karena Azmi lebih dulu membekap mulutnya dengan tangan.
"Diam atau om buat baby ini keluar sebelum waktunya!!" Ancam Azmi yang membuat Deandra langsung bungkam.
Deandra hanya bisa menurut, tahu Om Azmi tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ia tidak ingin calon anaknya ini kenapa-kenapa.
Azmi bersikap seolah sedang bercanda dengan Deandra sehingga tidak ada yang curiga padanya.
__ADS_1
"Pintar," ucapnya mengelus-elus rambut Deandra lalu melepaskan pelukan setelah wanita yang sedang hamil itu tidak berani memberontak lagi.