
Kondisi Deandra yang sempat drop membuatnya dilarikan ke rumah sakit. Beruntung Dad Tian datang cepat bersama Dad Harry membawa mereka pulang.
Ia pingsan bertepatan saat Dad Tian datang menjemputnya. Syukurlah ia tidak kenapa-kenapa dan tidak perlu dirawat inap. Dokter mengatakan ia pingsan disebabkan oleh rasa cemas yang berlebihan. Sehingga membuat aliran darah yang menuju ke otak berkurang secara tiba-tiba. Hal ini menyebabkannya hilang kesadaran.
Dad Tian langsung membawa kasus ini ke meja hijau dengan semua bukti-bukti kejahatan yang pernah pria itu lakukan. Om Azmi tidak bisa dibiarkan bebas berkeliaran lagi, karena sangat meresahkan.
"Sayang," panggil Deandra pada sang suami yang tertidur dengan tangan melingkar di perutnya. Edric tidak beranjak sedikitpun dari sisinya sejak mereka sampai di mansion. Alhamdulillah janin yang bersemayam dalam rahimnya kuat.
"Yes Sweetheart," dalam tidurnya Edric masih bisa mendengar sayup-sayup suara sang istri. Dan merasakan tangan yang mengelus-elus rambutnya.
"Terima kasih," ucap Deandra tulus. Tidak ada lagi penyesalan menikah dengan prianya ini. Karena sekarang Edric tidak segan-segan menunjukkan rasa cinta padanya.
"Untuk apa?" Edric membuka mata dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Terima kasih karena sudah sabar menghadapi aku yang cemburuan dan manja ini. Aku yang selalu ngerepotin dan bikin susah," jawab Deandra yang mendapat kecupan cinta di pipi dari sang suami.
"Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Seharusnya aku yang berterima kasih karena kau mau bertahan dengan pria sepertiku ini. Dan terima kasih sudah memberikanku calon buah hati, Sayang." Edric memeluk Deandra dengan penuh cinta.
Sekarang seluruh cinta yang ia miliki hanya untuk istrinya ini. Walau harus mengorbankan nyawanya dia akan berdiri tegak paling depan untuk melindungi Deandra.
Bukannya tersenyum, Deandra malah menangis. Ia menangis bahagia karena perjuangannya mendapatkan cinta Edric berhasil. Walau banyak drama dalam pernikahannya yang belum genap satu tahun ini.
Deandra menggelengkan kepala, tidak dapat bersuara lagi. Hal yang dulu tidak pernah berani ia bayangkan adalah Edric bersikap lembut padanya. Karena takut terlalu berharap dan kecewa sendiri.
Tapi sekarang, pria yang sedang memeluknya ini, pria yang mau mengalah untuknya walau hatinya sedang marah. Pria yang selalu memberikan pelukan saat dirinya membutuhkan.
"Baby nanti ikutan sedih kalau mommy sedih," ujar Edric sambil mengelus-elus punggung sang istri.
__ADS_1
"Edric, kau apakan menantu Mommy!" Tegur Mom Linn yang tiba-tiba menerobos masuk ke kamar pasangan itu dengan suara melengking saat mendengar suara Deandra menangis sesenggukan. Perempuan paruh baya itu datang membawakan semangkuk bubur hangat untuk menantu tersayangnya.
"Mom, dilarang berteriak disini. Suara Mommy menggema, bikin baby kaget." Edric menghela napas kasar bangun dari tidurnya. Tidak jadi ingin romantis-romantisan.
"Kau itu selalu saja membuat menantu Mom menangis!" Geram Mom Linn menjewer telinga Edric setelah meletakkan bubur ke atas nakas.
Deandra menghentikan tangisnya dan terkekeh geli melihat sang suami yang meringis kesakitan.
"Mom," rengek Edric mengusap-usap telinganya yang terasa panas dan pedas.
"Dilarang protes!" Seru Mom Linn menatap tajam Edric. Perempuan paruh baya itu duduk di samping sang menantu. Membantunya untuk bangun, lalu menyuapinya bubur.
Edric tersenyum bahagia karena Mom Linn yang sangat menyayangi Deandra. Di mansion ini tidak ada drama pertengkaran ibu mertua dengan sang menantu. Yang ada dialah yang sering berdebat dengan Dad Tian.
__ADS_1