
"Stop!!" Teriak Ellea malu jadi tontonan, dua pria itu memperebutkannya di parkiran. Padahal karena dua orang itu jugalah hidupnya jadi susah sekarang.
Ellea mendorong tubuh Jovie yang merengkuhnya dan menjauhi kedua lelaki itu. Mengelus dadanya yang masih berdegup kencang sambil bergumam dalam hati. "Oh hati, tolong bekerjasamalah."
Sekarang bukan saatnya memikirkan perasaan. Ia harus bisa mengumpulkan uang yang banyak agar bisa pergi dari kota ini untuk mencari kebebasan dan kebahagiaannya sendiri.
"Elle..."
"Lea..."
Panggil Jovie dan Ron bersamaan, dua lelaki itu bergerak cepat mengejar Ellea.
Ellea tidak menghiraukan, berlari keluar parkiran dan mencegat motor yang lewat di depannya. Setidaknya ia bisa kabur dan membuat dua pria aneh itu kehilangan jejak dirinya karena harus mengambil mobil terlebih dahulu kalau ingin mengejar.
"Hei, kau tidak punya mata!" Decak si pengendara motor kesal karena dipaksa berhenti.
"Aku masih punya mata," sahut Ellea melompat naik ke jok belakang motor lalu menepuk bahu si pengendara. "Cepat bawa aku pergi dari sini, aku dikejar penculik!" Perintahnya sesuka hati padahal belum minta ijin untuk ikut.
__ADS_1
Si pengendara motor mengumpat, tapi langsung menjalankan motornya dengan cepat.
Sementara Jovie dan Ron ngos-ngosan mengejarnya. Ellea lupa kalau dua orang pria itu bisa saja dengan mudah menemukan keberadaannya.
...🌹🌹🌹...
"Apa? Kau kehilangan Elle, siapa yang mengijinkan kau membiarkannya bekerja Ron?" Murka Edric saat mendengar penjelasan mantan asistennya itu.
Ia tidak khawatir Ellea diculik, tapi lebih khawatir adiknya itu jatuh ke pelukan Jovie yang sekarang sedang gencar mengejarnya. Membujuk wanitanya yang satu ini saja belum berhasil, malah direpotkan mencari Ellea lagi.
"I love you Sweetheart," bisik Edric lalu mengecup seluruh wajah Deandra yang tertidur dengan mata sembab. Kemudian beralih mengecup di perut datar sang istri, "Daddy sayang kalian. Pintar-pintar sama Mommy ya Sayang."
Kalau bisa ia tidak ingin istrinya ini stres, tapi mau bagaimana lagi kalau penyebab stresnya itu kehamilannya. Edric hanya bisa berharap Deandra mau membuka hati untuk menerima anaknya sampai lahir nanti.
Deandra menggagapi guling hidup yang setiap malam selalu ia peluk, tapi tidak ada. Wanita itu tidur dengan gelisah, namun aroma maskulin yang selalu menenangkan indera penciumannya terasa sangat dekat.
Edric yang baru keluar dari bathroom langsung naik ke tempat tidur saat melihat Deandra yang gelisah. Pria itu langsung memeluk sang istri yang mencari keberadaannya.
__ADS_1
"Aku disini," gumam Edric pelan di samping telinga Deandra.
Wanita itu semakin beringsut dalam pelukan Edric mencari posisi ternyamannya.
Edric mengelus-elus punggung wanitanya, membuat tidur Deandra semakin nyenyak. Untung dia tetap memilih tinggal walau berulang kali diusir sang istri, karena tahu wanitanya ini pasti tidak bisa tidur dengan nyenyak kalau tidak berada di pelukannya. Meskipun lagi-lagi Edric harus menahan hasratnya untuk menyentuh Deandra. Tidak ingin istrinya itu semakin membencinya.
"Kapan kau bisa menyadari kalau aku sangat mencintaimu Sayang," gumam Edric sebelum ikut terlelap di samping Deandra. Ia bahagia wanitanya itu cemburu, tapi sangat berlebihan kalau marah sampai berminggu-minggu padanya. Demi menebus kesalahannya Edric akan bersabar menghadapi calon ibu mudanya ini.
Deandra melenguh, perlahan membuka netranya. Pantas saja tidurnya sangat nyaman ternyata lagi-lagi dia tertidur dalam pelukan Edric. Tidak hanya satu kali ia tertidur dalam pelukan suaminya ini, tapi setiap malam. Ya, Deandra mengetahuinya.
"Sweetheart," gerakan tubuh Deandra membuat Edric ikut terbangun.
"Kenapa kau disini, aku sudah menyuruhmu pulang?" Tanya Deandra dengan tatapan mengintimidasi, sangat berbeda dengan yang hatinya ucapkan. Dia ingin Edric tetap memeluknya.
"Maaf, aku pulang kalau kau ingin aku pulang." Edric mengalah, tidak ingin membuat Deandra marah malam-malam lagi. Pria itu bangkit dari tidur menuruti keinginan wanitanya.
"Good night Sayang," Edric mencium kening Deandra sebelum keluar kamar. Walau berat membiarkan istrinya itu tidur sendirian tapi Edric kasihan kalau emosi wanita hamil itu dikuras lagi.
__ADS_1