
Dengan sangat terpaksa Edric menuruti kemauan Deandra. Apa saja yang wanitanya ini inginkan ia selalu berusaha memenuhinya.
"Sudahkan nontonnya Sayang, kita pulang. Ini sudah larut malam nanti baby kedinginan." Bujuk Edric pada ibu hamilnya yang tidak lelah mengajak berkeliling Mall.
Sementara Ellea yang mengikuti kemana-mana memasang wajah gusar. Untung Ron super sabar menghadapi kegabutan sang gadis.
Deandra menganggukkan kepala, sudah lelah mengerjai Ellea. Membuat pasangan itu tidak bisa berduaan.
"Kami pulang duluan, kalian lanjut saja ngedatenya." Ujar Edric yang paham kalau adiknya kesal karena harus ikut-ikutan menuruti keinginan Deandra.
Tadi mereka berangkat bareng, Deandra ngotot ingin ikut Ellea dan Ron kemanapun pergi. Sekarang mereka pulang di jemput supir lebih dulu, membiarkan Ellea memiliki waktu bersama Ron.
"Sana-sana hus mengganggu orang pacaran saja!" Usir Ellea dengan senyuman sumringah bisa bebas dari kakak iparnya yang menyebalkan.
Ron dengan cepat membekap mulut sang gadis. Tidak membiarkan Deandra melihat senyuman Ellea. Istri Edric itu bisa-bisa tidak jadi pulang kalau melihat Ellea yang berbahagia.
"Hati-hati," ujarnya basa-basi membawa Ellea berbalik arah.
__ADS_1
"Ron aku tidak bisa bernapas!!" Protes Ellea melepaskan bekapan tangan Ron dari mulutnya dengan kesal.
"Kau ini suka sekali meladeni ibu hamil itu, nanti repot sendiri kalau tidak jadi pulang. Dea paling tidak suka melihat kau tersenyum, jadi jangan tersenyum di depannya lagi." Ron membuat asumsi sendiri dari kebiasaan Deandra saat mengerjai Ellea.
"Aku lupa karena terlalu senang melihatnya pulang." Sahut Ellea, menggandeng tangan Ron dengan manja.
Walau belum mencintai pria itu tapi ia bisa bermanja sesuka hati pada Ron. Lupakan perasaan cintanya, karena tidak akan pernah terwujud juga sampai kapanpun. Biar ia simpan rasa ini sendiri, tidak perlu ada yang tahu kalau hatinya tersiksa. Bagaimana tidak tersiksa, pura-pura bahagia bersama orang yang tidak dicintainya.
Setelah Ellea puas berbelanja, calon pengantin itu akhirnya pulang.
Pria itu menempelkan kedua tangan di pipi Ellea lalu mengeluskan jempolnya dengan lembut. "Aku ingin selalu melihat kau bahagia walau tanpa aku. Aku sangat mencintaimu," ungkap Ron dengan tulus.
Ellea yang masih tidak mengerti ada apa dengan pria itu terdiam.
"Hanya kau satu-satunya wanita yang ingin kumiliki," lanjutnya mengecup lama kening Ellea.
Ellea bukannya senang tapi malah merinding, tidak tahu apa yang terjadi pada Ron sampai berkata seperti itu. Wajar memang kalau Ron mengungkapkan perasaannya. Tapi hatinya mendadak tidak enak, merasa pria itu akan pergi menjauhinya.
__ADS_1
"Kau kenapa, sekarang sadar kalau aku ini bukan yang terbaik untukmu dan ragu ingin menikah denganku?" Tanya Ellea akhirnya.
"Tidak. Aku hanya ingin kau tahu isi hatiku. Mana mungkin aku ragu denganmu," ucap Ron dengan tersenyum manis. Menjalankan mobilnya keluar dari parkiran pusat perbelanjaan.
"Kau itu malah membuatku takut Ron, seperti ingin pergi meninggalkanku saja. Kalau kau pergi lalu aku menikah sama siapa?" Rengut Ellea, berusaha mengabaikan perasaan tidak enak yang tiba-tiba menghampirinya.
"Aku tidak akan pergi darimu. Kau sekarang sudah takut kehilanganku, hm." Goda Ron terkekeh geli mengacak puncak kepala Ellea.
"Ish, aku cuma tidak mau ditinggalkan calon mempelai pria sendirian di pelaminan karena kau menyesal menikah denganku!" Kesal Ellea mencubiti perut Ron.
"Lea, hentikan Sayang!!" Teriak Ron yang mulai kehilangan fokus.
"Ron!!" Pekik Ellea melepaskan tangannya dari perut sang pria saat menyadari mobil truk melaju dengan kencang dari arah belakang. Dan seketika itu juga Ron tidak bisa mengendalikan mobilnya yang keluar dari jalur.
Braaakkkk... Cittt...
Hantaman mobil truk pada mobil yang Ron kendarai tidak bisa dihindari.
__ADS_1