Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 28


__ADS_3

"Puas hari ini jalan-jalannya Sayang?" Azmi mengelus puncak kepala gadis kecilnya dengan penuh kasih sayang.


Deandra mengangguk, semenjak menikah dengan Edric dia hanya dikurung di rumah tidak pernah diajak jalan-jalan. Paling mentok pergi ke minimarket membeli keperluan pribadinya, itupun diikuti pengawal.


"Kalau Dea tidak bahagia tinggalkan dia dan menikahlah dengan Om," ucap Azmi serius.


Deandra menoleh sekilas, sampai kapanpun pernikahannya dengan Edric tidak akan berhasil. Suaminya itu bahkan tidak menginginkannya. Sia-sia saja kalau dia bersikeras untuk bertahan. "Om mau menikah dengan Dea?"


"Iya Sayang, Om mau menikah dengan Dea." Edric tersenyum mengusap pipi gadis kesayangannya.


Deandra menarik napas panjang kemudian berucap, "setelah Dea bercerai. Dea akan menikah dengan Om." Putusnya, dia sudah menuruti keinginan Dad Tian. Kegagalan pernikahannya dengan Edric bukanlah kehendaknya. Edric saja yang tidak mau belajar menerima pernikahan ini dan terus menyalahkannya.


"Oke, Om akan menunggu Dea." Azmi mengecup kening Deandra dan memeluknya dengan sayang.


Bersama Om Azmi, Dea mendapatkan seluruh kasih sayang, cinta dan pelukan yang selama menikah ini hilang. Dulu Dad Tian dan Dad Denis selalu memberikannya, tapi tidak dengan Edric yang selalu mengacuhkannya. Ia hanya dianggap sebagai pelayan.


Deandra lelah menjaga hati orang lain. Sedang hatinya sendiri terluka hanya untuk membuat orang tuanya bahagia.


"Ayo kita ke kamar," Azmi menuntun gadisnya yang masih pincang. Tadi sore dia mengajak Deandra jalan-jalan menggunakan kursi roda. Agar kesayangannya ini tidak kelelahan.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


"Mau apa kalian kesini?" Azmi tersenyum mengejek. Tian berhasil masuk ke rumahnya dan melumpuhkan para pengawal.


"Dimana putriku!!" Murka Tian, ia tidak ingin membuang waktu menghajar Azmi. Karena ingin memastikan keadaan putrinya.


Azmi menunjuk ke arah kamarnya. Ya Deandra memang tidur di kamarnya. "Tanyalah dulu orangnya sebelum diajak pulang." Ucapnya kemudian menatap tajam Edric lalu menghajar orang yang sudah menyakiti gadis kesayangannya bertubi-tubi.


Tian dan Denis tidak ingin pusing, membiarkan para pengawal yang mengurus dua orang itu. Mereka langsung masuk ke kamar, Deandra sedang terlelap dengan nyaman.


"Om," gumam Deandra saat pipinya di tepuk-tepuk dengan lembut.


"Dad," Dea tersenyum membalas pelukan Dad Tian. Pelukan yang sangat dirindukannya selama satu bulan ini. "Dea kangen, kenapa Daddy tidak pernah menjenguk Dea."


"Daddy juga kangen," Tian mencium puncak kepala putrinya. "Apa Om menyakitimu?"


Deandra menggeleng, "Om gak menyakiti Dea Daddy." Ucapnya, kemudian menyadari keributan yang terjadi di luar kamar.


"Om," pekik Dea turun dari tempat tidur sambil menyeret kakinya yang masih sakit. Ia membantu Om Azmi yang babak belur tanpa mempedulikan Edric yang juga babak belur.

__ADS_1


Melihat Dea yang lebih peduli pada om-om itu membuat Edric mengepalkan tangan. Menarik Azmi kemudian menghajarnya semakin brutal. Tidak ada pengawal yang berani mendekat melihat Edric yang mengamuk.


"Hentikan Edric Hansel, dan sekarang ceraikan aku!!" Teriak Deandra yang sudah tidak bisa menahan amarah di hatinya. Ia kembali membantu Azmi bangun dan membawa ke kamar.


"Kalian pulanglah, Dea akan tetap disini." Ujar Dea kesal, Dad Tian dan Dad Denis hanya diam melihat Om Azmi dihajar habis-habisan oleh Edric.


Azmi tersenyum penuh kemenangan, dia sengaja tidak melawan Edric, hanya sesekali membalasnya. Inilah yang ingin dia lihat, Deandra memilihnya.


Tian yang butuh penjelasan dari kalimat cerai yang diucapkan Deandra menatap putri dan menantunya bergantian. "Ayo pulang sama Daddy Sayang."


"No Dad," Deandra membantu Azmi duduk di tempat tidur dan membersihkan lukanya dengan pelan.


"Dea pulang sekarang sebelum Daddy marah!!" Berang Tian dengan tatapan semakin tajam.


"Yes Dad," Deandra mengangguk pelan lagi-lagi harus mengalah.


"Om panggil pelayan, Dea pulang dulu." Pamit Deandra, Azmi tersenyum merentangkan tangan minta di peluk.


Dengan senang hati Deandra memeluknya. Tian menghela napas berat, sedang Denis tidak bersuara apa-apa sejak tiba di rumah Azmi.

__ADS_1


Melihat pemandangan itu semakin membuat Edric murka. Dia tidak akan melepaskan Deandra sampai kapanpun. Lupakan rencananya yang ingin menceraikan gadis itu. Dengan perceraian akan membuat Deandra semakin bahagia. Sungguh tidak adil kalau dia harus menelan pahitnya penghianatan sedang Deandra berbahagia dengan om-om itu.


__ADS_2