
“Baby, kau sudah lebih tenang. Apa kita bisa bicara?” Jovie sampai rela meninggalkan pekerjaan demi menemui Ellea.
Pria itu berniat menjemput Ellea, tapi ternyata gadis itu sudah dijemput asisten Edric. Ia sudah bersabar membiarkan Ellea menenangkan diri selama satu minggu ini dengan tidak mengganggunya.
“Apa yang perlu kita bicarakan Kak? Kita tidak punya hubungan apa-apa dan tidak ada masalah apapun yang harus diselesaikan.” Jawab Ellea tanpa ekspresi meninggalkan pria yang menghalangi jalannya masuk ke mobil Ron.
Ron hanya bisa berdecak dalam hati, saingannya untuk mendapatkan hati Nona Ellea berat. Mengingat pria itu sangat dicintai nonanya.
“Tapi aku ingin bicara denganmu,” Jovie menahan pintu yang ingin ditutup Ellea.
“Maaf Tuan, saya harus mengantar Nona Ellea sampai ke mansion tepat waktu. Kalau tidak Nona akan kena hukum,” bohong Ron.
“Aku yang akan mengantar Ellea pulang, kau pulang saja sendiri!” Ucap Jovie dingin pada asisten Edric yang menghalanginya.
“Keluar sendiri atau aku gendong!!” Tatapan mata Jovie beralih pada Ellea. Ia melepaskan seat belt yang sudah terpasang di tubuh gadis itu.
“Ron pulanglah duluan, aku akan pulang sendiri nanti. Bilang pada Edric kalau aku ada kerja kelompok.” Ujar Ellea keluar dari mobil sebelum Jovie menggendongnya dan membuatnya malu.
“Tidak bisa Nona, anda harus pulang bersama saya!!” Ron berucap dengan tegas seraya mencekal tangan Ellea.
“Lepaskan tanganmu Ron!!” Geram Jovie melihat gadisnya disentuh-sentuh asisten Edric. Hanya dia yang boleh menyentuh Ellea.
__ADS_1
“Ron siapa yang pengawal disini?” Ellea menghela napas kasar, menatap Ron tajam. Ia malas menyaksikan dua pria itu berdebat.
“Saya. Tapi saya tidak akan membiarkan Nona Ellea pergi dengan Tuan Jovie.” Jawab Ron dengan tegas. Tidak merasa terintimidasi oleh tatapan Nona Ellea.
“Elle tidak butuh ijin darimu!!” Jovie menghempaskan tangan Ron yang mencengkram pergelangan tangan Ellea. lalu menarik gadisnya dengan lembut menuju mobil. Ia tidak peduli kalau harus adu jotos dengan Edric lagi.
Ellea ikut saja Jovie membawanya kemana. Ia tidak mengeluarkan suara sepatah katapun karena sibuk dengan pikirannya yang bercabang.
Apalagi yang ingin Jovie bicarakan padanya, sedang dia tidak merasa ada hal yang harus dibicarakan lagi. Ia sudah bisa menerima kenyataan kalau Jovie tidak menginginkannya. Meskipun Ellea belum bisa membuang perasaan cintanya ini.
Jovie membawa Ellea ke apartemennya. Agar dia bisa bicara tanpa gangguan. Dan kalau Ellea nanti marah-marah atau menangis itu tidak mengganggu orang lain. Sebenarnya Jovie tidak tahu ingin bicara apa, dia hanya ingin bertemu gadisnya ini.
“Kenapa kesini?” tanya Ellea datar saat mobil sudah terparkir di basement apartemen pria itu. Sejak ikut bersama Jovie Ellea tidak tersenyum sedikit pun.
“Kau lelah, jadi bisa istirahat di apartemenku dulu.” Jovie menggenggam lembut tangan Ellea memasuki lift. Perlakuan lembut Jovie membuat hati rapuh Ellea ketar-ketir. Berdekatannya dengan pria itu saja jantungnya berdebar-debar apalagi diperlakukan seperti ini.
“Kau mau minum apa?” Tanya Jovie setelah mereka sampai di apartemen.
“Aku tidak haus,” jawab Ellea singkat.
“Oke,” Jovie duduk di samping Ellea. Ia kehilangan senyuman yang biasa gadis itu tampakkan, bicara pun hanya seperlunya saja.
__ADS_1
“Maafkan Kak Jo-mu ini,” ucap Jovie tulus. Dia merasa sangat bersalah telah membuat hati gadis kecil yang dianggapnya adik ini terluka.
“Kak Jo tidak perlu minta maaf padaku.”
“Mana Baby-ku yang dulu ceria.” Jovie menangkup pipi Ellea, bibir mungil itu sangat menggodanya. Tapi ia menahan diri untuk tidak berbuat kurang ajar lagi. Jovie tidak ingin Ellea semakin menjauh darinya.
“Aku akan menuruti semua keinginanmu, katakanlah. Jangan menutup diri seperti ini,” bujuk Jovie agar Ellea tidak hanya diam dan bicara kalau ditanya saja.
“Aku tidak ingin apapun dari Kak Jo, aku sudah melupakan perasaan cintaku.” Jawab Ellea tenang, sebisa mungkin tidak menampakkan ekspresi terlukanya.
“Kau bohong, jangan bohongi aku. Kau lupa aku mengenalmu sejak kau masih ingusan.”
“Iya, kau mengenalku sejak masih ingusan, tapi kau tidak pernah melihatku sebagai seorang wanita yang bisa kau cintai.”
“Kalau Kak Jo mengenalku, berarti sudah tahu apa yang keluar dari mulutku maka itulah yang akan aku lakukan.” Ellea melepaskan tangan Jovie dari pipinya.
“Aku pulang,” Ellea tidak ingin mengenang perbuatan manis Jovie yang akan menghambat langkahnya untuk move on.
“Aku antar,” Jovie tidak mendebat Ellea lagi. Gadis itu sedang menjaga jarak darinya.
“Tidak perlu aku bisa naik taxi. Jangan memaksaku kalau Kak Jo masih ingin melihatku!” Ancam Ellea saat Jovie ingin protes.
__ADS_1
Jovie menghela napas dengan kasar, terpaksa menuruti perkataan Ellea.