Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 84


__ADS_3

"Kau betah sekali menginap di rumah sakit, aku rindu memalak uangmu!" Seru Sari kala mengunjungi Deandra yang sudah tiga hari ini tidak masuk kuliah.


"Kau itu harusnya bertanggungjawab karena sudah membuat pahaku jadi mumi!" Sahut Deandra dengan decakan.


"Untuk apa aku bertanggung jawab, kan sudah ada Mr. Arrogant-mu yang bertanggung jawab." Sari mengerling genit pada pria yang tampak acuh sejak dia datang tadi.


Sayang sekali wajah tampan itu sedatar triplek. Kalau dihiasi sedikit senyuman mungkin akan menambah kadar ketampanannya.


"Jaga mata jelalatanmu itu kalau tidak mau aku congkel!" Geram Deandra melihat Sari yang terpesona pada suaminya.


Prianya yang sedari tadi fokus pada laptop di pangkuannya itu menyipitkan mata. Kalau saja tidak ada teman sang istri, Edric pasti sudah menggoda habis-habisan wanitanya ini.


"Ron ambilkan earphone, berisik sekali!" Sindir Ellea nyaring, merasa terganggu dengan suara cempreng tamu tak diundang.


Edric menoleh pada adiknya diikuti helaan napas panjang, "mulai lagi!" Gumamnya. Selama tiga hari berada dalam satu ruangan, tidak seharipun dua wanitanya itu absen berdebat. Ia sampai pusing menengahi, kalau tidak Deandra yang merajuk maka Ellea yang akan merajuk akhirnya.


"Siapa dia? Inikan ruang VVIP kenapa kau berbagi kamar?" Tanya Sari. Baru pertama kali bertemu saja dia langsung tidak suka pada gadis angkuh itu.


Deandra hanya menjawab dengan isyarat mata yang melirik pada Edric.


Sari langsung mengerti, "pantas saja sama-sama angkuh." Celetuknya tanpa peduli orang yang disindir mendengar ucapannya.


"Hei, berani sekali mulutmu itu menghinaku. Tidak pernah sekolah ya!!" Sambar Ellea geram.


"Nona, jangan dengarkan perkataannya." Ron langsung memasang earphone ke telinga Ellea, agar terhindar dari mulut gesrek teman istri tuannya itu.

__ADS_1


"Ck, manja sekali!" Sari sengaja berdecak dengan nyaring agar gadis itu mendengar.


"Pantas saja istriku mulutnya tidak bisa diatur, ada gurunya ternyata."  Gumam Edric, kalau saja gadis itu bukan teman Deandra sudah dia beri pelajaran.


"Mulutnya lemes banget!!" Deandra mencubit bibir Sari.


"Kenyataannya begitu bagaimana!" Jawab Sari acuh.


"Edric, usir dia. Aku tidak suka melihatnya ada disini!!" Pekik Ellea bertambah kesal.


"Aku menginap disini," Sari menyahut tanpa dosa. Sengaja ingin membuat gadis menyebalkan itu marah. Semoga saja dia tidak punya adik ipar yang angkuh seperti adik ipar Deandra ini.


"Sari cukup!! Kau itu tidak tahu tempat, siapa saja diajak bertengkar," omel Deandra.


"Ron antarkan Sari pulang," pinta Deandra.


"Aku lagi yang kena!" Ron mendesah dalam hati. Kenapa harus dia yang mengurus hal-hal merepotkan seperti ini.


"Kau mengusirku?" Sari melotot pada Deandra, dia baru sampai sudah disuruh pulang.


"Lebih baik kau ku usir daripada membuat kepalaku semakin pusing disini." Decak Deandra mengambil dompetnya di laci nakas lalu mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribuan. "Ini buat ganti ongkos mu berangkat tadi, sekarang pulangnya diantar Ron."


"Ck, ini cuma cukup buat beli seblak!" Tolak Sari tidak tahu diri.


"Kau ini suka memerasku. Kena azab dapat suami pelit baru tahu rasa," kesal Deandra. Kenapa dia punya teman yang matrenya nauzubillah seperti Sari ini.

__ADS_1


"Heh mulutmu, mendoakanku itu yang baik-baik. Agar aku tidak memeras kau lagi!" Sekarang Sari yang balas mencubit bibir Deandra.


"Ralat, semoga kau dapat suami yang kaya, tampan dan mapan." Ucap Deandra judes menghempaskan tangan Sari yang mengapit bibirnya seperti kepiting. Ia menambah dua lembar uang lima puluh ribuan lagi agar temannya itu cepat pergi.


"Gitu dong, kan aku jadi makin sayang." Ujar Sari sumringah turun dari brankar pasien mendekati Ron.


"Ayo antar aku pulang." Katanya seraya menarik tangan Ron untuk mengantarnya pulang.


"Jangan pegang-pegang!" Ucap Ron dingin. Ia tidak suka ada wanita yang memegangnya kecuali Nona Ellea.


"Dasar gatal!!" Maki Ellea.


"Ish kalian itu keturunan apa sih, judes semua!!" Sari semakin mengeratkan pegangan tangannya pada pria itu.


"Astaga, dia itu perempuan jenis apa!" Deandra menggelengkan kepala. Kenapa dia punya teman memalukan seperti Sari.


"Dia itu spesies wanita aneh sepertimu," Edric yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. Pria itu bangkit dari sofa merapikan selimut Deandra.


"Oh ya, kalau aku aneh maka kau lebih aneh!!" Tukas Deandra tidak mau kalah, enak saja dia dibilang aneh.


"Aku tidak apa kalau kau yang mengatakan aneh," Edric mengerling nakal mendekati bibir Deandra.


"Sstt, nanti Elle mengamuk lagi. Aku tidur saja," Deandra meletakkan jari telunjuknya di bibir Edric lalu mendorongnya pelan.


Edric mengangguk, "selamat tidur." Ucapnya tersenyum lalu mengusap puncak kepala Deandra. Setelahnya ia mendekati Ellea yang memasang wajah ditekuk. Adiknya itu sekarang sangat sensitif apalagi kalau melihatnya bermesraan dengan Deandra.

__ADS_1


__ADS_2