
"No Dad. Deandra pulang!" Edric berdiri dari duduknya lalu menarik Deandra dengan kasar. Dia tidak boleh melepaskan gadis ini kalau tidak ingin diusir oleh orang tua kandungnya sekarang. Karena bekalnya masih belum cukup.
Karena satu kakinya masih sakit membuat Deandra yang ditarik Edric hilang keseimbangan.
"Edric!!" Teriak Harry. Dengan cepat menangkap pinggang menantunya agar tidak terjatuh.
"Ada di depan Dad saja kau bersifat kasar seperti ini apalagi kalau di apartemen. Mulai sekarang kalian tinggal di mansion!"
"No. Aku tidak mau tinggal di mansion!" Bantah Edric.
"Terserah, jangan pernah pulang cari Mom dan Dadmu lagi. Daddy tetap akan membawa Dea ke mansion," sengit Harry.
"Kau ini manja sekali!!" Kesal Edric pada Deandra yang menggunakan kesempatan untuk memojokkannya.
"Aku gak papa Dad," Deandra tersenyum menahan sakit di kakinya. "Dea pulang dulu," pamitnya menyalami Harry lalu berjalan mendahului Edric dengan kaki yang pincang.
Edric dapat melihat Deandra yang menahan sakit saat berjalan, tapi ia lebih memilih tidak peduli.
"Dad akan pastikan kau menyesal sudah menyia-nyiakannya!!" Harry tersenyum miring pada Edric lalu kembali ke meja kerjanya.
"Tidak ada yang sangat aku sesali dalam hidup kecuali PERNIKAHAN ini!!" Ucap Edric dengan penuh penekanan dan senyuman kecut kemudian meninggalkan ruang kerja sang daddy menyusul Deandra.
__ADS_1
Selama ini dia mempertahan Deandra karena ingin menyiksanya. Tidak boleh ada yang menghentikan kesenangannya untuk menyiksa gadis itu sampai waktu perpisahan yang sudah ia siapkan tiba. Walau harus diusir itu tidak jadi masalah untuknya, asal bukan sekarang.
"Kau jangan senang dulu karena aku tidak akan pernah menghamilimu!!" Seru Edric saat mereka sudah berada dalam mobil.
"Iya aku tahu, hanya kekasihmu yang pantas mengandung keturunanmu!!" Jawab Deandra ketus sambil memijat kakinya yang sakit, kemungkinan terkilir.
"Ya itu dulu, tapi sekarang sudah tidak." Jawab Edric dalam hati, mengingat perselingkuhan Alice membuat dadanya sesak. Setelahnya tidak ada yang berbicara lagi, suasana mobil hening.
Sesampainya di apartemen Deandra langsung masuk ke kamar memberanikan diri membuka perban sendiri, lalu membersihkan lukanya yang berdarah lagi. Juga membaluri kakinya dengan minyak kayu putih sambil memijat agar rasa sakitnya berkurang.
Pikirannya menerawang jauh, kalau dulu dia bisa selalu bercerita dengan buba setiap apa yang dirasakannya. Tapi sekarang Deandra harus menjaga perasaan bubanya juga agar tidak bersedih.
Padahal Deandra sudah berusaha belajar menerima Edric. Dan sekarang hanya tinggal menunggu Edric menceraikannya. Kalau itu yang terbaik, ia akan menerima perceraian ini dengan senang hati.
Karena dilanda lapar, Deandra mencari makanan yang bisa dimakan di dapur. Ternyata di meja makan sudah ada makan siang yang disiapkan pelayan. Pelayan itu pulang setelah membersihkan apartemen dan menyiapkan keperluan mereka.
Deandra makan sendirian. Dia rindu pada keluarganya yang selama satu bulan terakhir ini tidak pernah bertemu lagi. Dad Tian bahkan tidak berniat mengunjunginya sama sekali.
Sampai malam Deandra tidak melihat batang hidung suaminya pulang. Ia ragu untuk melihat keadaan Edric di kamar. Tapi kalau suaminya itu kenapa-kenapa bagaimana.
Setelah berpikir panjang dan penuh pertimbangan Deandra kembali ke kamar. Dia sedang tidak ingin mendengar ucapan pedas Edric.
__ADS_1
Keesokan paginya Deandra berangkat kuliah diantar supir. Dan dia masih belum melihat penampakan Mr. arrogant-nya itu.
"Terima kasih Pak," ucap Deandra pada Pak Supir sambil tersenyum. Supir yang mendapatkan senyuman dari Nyonya Hansel mengangguk ramah.
Deandra langsung menuju kelas setelah mobil yang ditumpanginya menjauh pergi.
"Baby, kakinya kenapa?" Azmi yang mencegat Deandra langsung menggendongnya ke mobil.
"Om, kenapa bisa ada di kampus lagi?" Padahal Edric sudah menjaganya agar Om Azmi tidak bisa menemuinya. "Dimana anak buah Edric sekarang," gumamnya cemas.
"Dea bilang, siapa yang menyakiti Dea Sayang?" Azmi sangat khawatir melihat gadis kesayangannya terluka.
Deandra menggeleng, lagi-lagi dia tidak bisa menahan kesedihannya saat berada di pelukan orang yang sangat dicintainya.
"Ikut Om ya Sayang," Azmi langsung memerintahkan supir untuk membawa mereka pulang. "Jangan menangis," Azmi mengusap lembut pipi gadis kesayangannya.
"Jangan biarkan ada yang masuk ke rumah ini." Perintah Azmi setelah sampai di rumahnya. Ia menggendong Deandra yang tertidur ke kamar. Dan ikut berbaring memeluk gadis kecil kesayangannya.
"Om," lirih Deandra semakin beringsut dalam pelukan Azmi.
"Iya Om disini Sayang, Om janji gak akan menyakiti Dea lagi." Azmi menciumi pipi Deandra dengan sayang, membawanya dalam pelukan.
__ADS_1