
"Edric, kau bohong. Lihat bibirmu ini dengan lancang mengejekku!!" Jerit Deandra mencubit bibir Edric lalu memulasnya.
"Sweetheart apa dosa bibirku," ringis Edric menempelkan bibirnya yang pedas ke pipi Deandra.
"Itu karena bibirmu suka mengejekku, mulutmu memuji aku tapi hatimu menertawakanku!" Cetus Deandra tanpa merasa bersalah sudah membuat bibir Edric jontor.
"Tidak ada seperti itu. Dari mana kau tahu aku ini menertawakanmu," protes Edric.
"Itu barusan kau bilang!" Seru Deandra yang membuat Edric sadar. Dia tidak akan pernah bisa menang melawan istrinya ini.
"Ya sudah aku minta maaf. Tapi aku ini sangat mencintaimu," rayu Edric sambil mengendus-endus kan bibirnya di pipi sang istri.
"Halah sekarang saja kau bilang cinta padaku. Dulu kau mencintai siapa?" Ketus wanita hamil itu, sekali lagi mencubit bibir Edric. Kali ini lebih keras karena membayangkan bibir itu pernah mencumbu wanita lain.
"Sayang sakiiit, kenapa dicubit lagi. Kan sudah minta maaf," pekik Edric langsung mengelus-elus bibirnya.
__ADS_1
"Ini sudah berapa kali mencium bibir perempuan lain hah!" Deandra jadi kesal sendiri saat pikirannya berlarian kemana-mana. Apalagi membayangkan tangan Edric yang sudah mampir dimana saja membuatnya menjerit. "Aku benci kau Edric!!"
"Sayangku, cintaku, hanya kau yang kuinginkan mendampingiku hingga akhir hayat. Cuma Deandra Hansel yang ada di hatiku sekarang. Sudah ya jangan bahas masa lalu lagi," ujar Edric meyakinkan ibu hamilnya yang entah memikirkan apa jadi sampai kesal padanya.
"Kenapa memangnya kau takut kalau aku membahas masa lalu?" Rengut Deandra.
"Iya aku takut. Takut kau merajuk, marah-marah dan aku diusir dari kamar."
"Ya sudah kau tidur diluar saja!" Perempuan hamil itu melemparkan bantal ke arah Edric.
"Ayang jangan sentuh-sentuh!" Tepis Deandra yang menggeliat kegelian. Membuat Edric semakin mengusilinya. Lebih baik tenaga Deandra habis untuk memuaskannya daripada terus marah-marah yang tidak jelas.
"Kalau disini geli juga Sayang," pria itu tersenyum jahat menggigit dan menyesap leher Deandra sampai si empunya bergelinjang.
"Stop Ayang!!" Deandra menggelengkan kepala agar Edric tidak melanjutkannya. Tadi memang dia menginginkannya, tapi sekarang malas mandi lagi.
__ADS_1
"Tadi belum selesaikan. Kita lanjut ya, daripada kepalamu ini berpikiran aneh-aneh dan tidak ada habisnya." Ungkap Edric, yang ada mereka malah bertengkar lagi kalau perdebatan itu diteruskan. Mending gelut daripada debat.
"Sudah, sudah selesai. Duh dedek ngantuk mau bobo." Ucap Deandra asal sambil mengusap perutnya, membuat sang suami tertawa gelak.
"Oh dedek ngantuk ya, sisi Daddy boboin Sayang." Edric semakin menjadi-jadi membuat Deandra panas dingin dengan mengecup basah di perut buncit itu.
"Ayang aku gak mau mandi lagi, dingiin." Rengek Deandra, mana bisa dia menahan diri kalau digoda Edric seperti ini.
"Kita olahraga biar berkeringat Sweetheart, nanti dinginnya hilang." Edric mengedipkan mata dengan bibir tersenyum usil.
"Ayang baik deh, katanya sekali saja kan. Dedek nanti kecapean," rayu Deandra seraya melingkarkan tangan di pinggang sang suami.
"Oke, tapi gak boleh bahas masa lalu lagi. Gak boleh marah-marah dan merajuk lagi. Gak boleh teriak-teriak bilang benci lagi. Gak boleh...."
"Iya-iya, gak boleh ini. Gak boleh itu," Deandra mengangguk cepat sebelum Edric menyelesaikan ucapannya. Wanita hamil itu menyosor lebih dulu bibir sang suami agar berhenti bicara.
__ADS_1
Tentu saja sang pria bersorak girang meladeninya dengan senang hati. Lihatlah yang katanya tidak mau mandi lagi, pasti minta sendiri.