
"Sama saja, ulat bulu juga selalu mencari kesempatan!!" Deandra menghempaskan tangan Edric dari pipinya.
"Sstt, jangan marah-marah nanti cepat tua." Edric mengelus puncak kepala sang istri, tidak ingin memperpanjang perdebatan mereka. "Aku kembali ke kantor dulu, kalau perlu apa-apa panggil pelayan wanita."
"Aku mau ikut ke kantor!" Rengek Deandra.
"Lain kali saja, hari ini kau masih belum bisa menggunakan celana." Tunjuk Edric pada paha kiri Deandra yang melepuh.
"Aku bisa pakai dress," sahut Deandra tidak mau ditinggal sendirian di mansion.
"Kau mau lebih lama sembuhnya atau mau kubawa ke rumah sakit saja?" Ucapan Edric membuat Deandra terdiam. Hanya terlihat bibir manyun wanita itu.
"Kalau ditinggal aku akan bertengkar dengan Elle," ancam Deandra setelah berpikir sejenak. Tidak mau dibawa ke rumah sakit, ia hanya ingin ditemani Edric.
"Kau tidak mungkin bertengkar dengan Elle, karena ada Ron yang menjaganya." Beritahu Edric yang lagi-lagi membuat wajah Deandra semakin kecut.
"Ish, kau ini. Aku bosan sendirian disini Edric!" Protes Deandra.
"Kau bisa main game, nonton film atau apapun asal jangan banyak bergerak." Saran Edric yang ditolak Deandra mentah-mentah. "Aku mau pulang ke mansion Dad Tian!"
"Tidak bisa, tetap diam di kamar dan menurut!" Edric berucap dengan tegas, tidak terima protesan istrinya lagi.
__ADS_1
"Aku benci kau Edric Hansel!" Deandra membuang wajahnya dari pandangan Edric.
"Terima kasih sudah benar-benar mencintaiku," sahut Edric menggoda. Memegang wajah Deandra agar menatap ke arahnya.
"Edric!!" Pekik wanita itu kesal.
"Yes Sweetheart," sang pria mengulum senyum melihat kekesalan wanitanya. Semakin garang Deandra, semakin terlihat cantik di matanya.
"Aku marah padamu Edric!" Tegas Deandra, padahal dia tahu marah-marah pada Edric itu tidak ada gunanya karena sang suami akan semakin senang menggodanya.
"Aku tahu," jawab Edric datar berhenti menggoda Deandra. Khawatir istrinya itu benar-benar mengamuk dan dia yang akan kerepotan sendiri. "Tapi kau tetap harus mengikuti peraturan dariku di mansion ini. Mengerti?"
"Terserah kau saja!" Deandra membelakangi Edric. Pemandangan yang pria itu lihat sukses membuatnya menelan saliva dengan kasar.
"Aku berangkat dulu," ujarnya mengusap belakang kepala Deandra kemudian mengecupnya disana. Kalau dia tidak segera pergi bisa-bisa ada acara bercocok tanam kembali.
Deandra tidak menyahut, hanya decakan yang keluar dari bibir mungilnya.
"Dasar tidak peka!" Gerutunya setelah Edric menghilang di balik pintu kamar. Ia bangun dari tiduran dan menatap kulit pahanya yang melepuh.
"Untung tidak sampai matang dan pahaku tidak dimakan Upin Ipin!" Seru Deandra menghibur hati dengan bibir mengerucut tajam sambil mengipas pahanya yang terasa nyeri. "Sakitku tidak jadi hilang kalau kau tinggalkan," gumamnya sedih.
__ADS_1
Sementara di ruang tengah Ellea yang ditemani Ron main ular tangga melihat Edric berjalan dengan terburu-buru. Ia bahkan tidak tahu kapan kakaknya itu pulang ke mansion.
"Edric!" Panggil Ellea nyaring.
Edric menoleh ke arah suara, adiknya itu masih terlihat pucat. "Kau itu sakit kenapa di luar?" Decaknya mendekati Ellea, sedang matanya menatap tajam sang asisten.
"Aku bosan di kamar dan aku tidak mau berduaan dengannya di kamar." Tunjuk Ellea pada Ron, "aku ini bukan balita. Tidak perlu pengasuh Edric."
"Kalau kau tidak mau dengan Ron, terus mau dijaga Pak Man?"
"Aku mau jalan-jalan," Seru Ellea dengan rengekan manja.
"Itu tidak termasuk jawaban yang ku mau!" Sela Edric cepat. "Kembali ke kamar, minum obat dan istirahat."
"Aku mau jalan. Pokoknya aku mau keluar mansion, titik!!" Kekeuh Ellea.
"Kau itu sedang sakit Ellea!" Tegas Edric dengan suara meninggi. "Ron bawa Elle ke rumah sakit," perintahnya.
"Siap Tuan," Ron menganggukkan kepala.
"No Edric! Aku cuma mau keluar sebentar, aku gak mau ke rumah sakit. Aku gak mau diinfus!!" Teriak Ellea histeris.
__ADS_1
"Oke-oke." Pasrah Edric, mengurus dua perempuan sangat merepotkan. "Ingat sebentar saja. Kalau sakitmu tambah parah kau harus menurut dibawa ke rumah sakit!"
Ellea menganggukkan kepala dengan senyuman berbinar. Sementara Edric menghembuskan napas dengan kasar.