
Kau yakin mau datang?" Edric mengipas-ngipaskan undangan pertunangan Ron yang ada di tangannya. Ia saja kaget mendapatkan undangan tiba-tiba.
"Kenapa harus ragu," Ellea mengangkat sebelah alis. Seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Padahal sejak pagi tidak karuan rasa, hanya mengurung diri di kamar.
Gadis itu mengenakan shoulderless cocktail dress berwarna biru yang menampilkan bahu namun punggungnya tetap tertutup.
"Ya siapa tahu nanti disana kau menangis karena melihat someone special sebentar lagi menikah dengan perempuan lain," Edric sengaja menggoda. Seraya merapikan rambut Ellea yang tergerai agar menutupi bahunya.
"Kak apaan sih, tidak ada someone special di hatiku ini. Sudah mati!!" Sarkas Ellea.
Edric mengendikkan bahu, "tidak ada yang tahu isi hati manusia." Sindirnya dengan senyuman usil.
"Terserah kau saja, asal kau bahagia." Ellea malas menanggapi ucapan sang kakak yang membuat moodnya jadi berantakan.
"Sudah siap princess," sapa Jovie yang baru datang menjemput gadis itu.
"Suami sewaan sudah datang," decak Edric.
"Baby!!" Panggil Ellea pada keponakannya, mengabaikan Edric yang mengejeknya. Demi apa dia sampai meminta Kak Jo untuk menemaninya dan menyogok Calla agar mau ikut bersamanya.
"Yes Aunty, Calla sudah siap. Cantikkan!" Serunya berputar-putar bak model ternama.
"Kau sangat cantik seperti Aunty," jawab Ellea dengan percaya diri. Mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu. "Ingat panggil Aunty Mom dan panggil Uncle Jo Dad, okey." Beritahu Ellea agar keponakannya itu tidak membuatnya malu.
Jovie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil meringis.
__ADS_1
"Siap Aunty."
"Panggil Mom, Calla. Ish, nanti kau lupa lagi." Ellea mendesah frustasi, susahnya anak kecil diajak kerjasama.
"Yes Mom," bocah kecil itu menatap sang daddy penuh tanda tanya. "Daddy kepala Calla pusing, kenapa harus manggil Aunty Mom?" Tanyanya lugu.
"Calla akting sebentar Sayang, malam ini saja." Edric terkekeh geli mengusap kepala putrinya.
"Calla akting jadi artis?" Serunya yang mendapat anggukan dari sang ayah.
"Calla berangkat duluan ya sama Aunty dan Uncle Jo, kita bertemu disana." Ucap Edric seraya membawa sang putri dalam gendongan mengantarkannya sampai ke mobil.
Bocah yang tidak mengerti apa-apa itu hanya menganggukkan kepala.
Bukan tanpa alasan ia mengatakan itu. Putrinya ini tidak bisa diam, kalau dibiarkan bisa kelayapan kemana-mana.
"Iya-iya, aku jaga tidak akan sampai lecet."
"Pintar-pintar ya Sayang," Edric mendudukkan putrinya lalu mengecup di puncak kepala.
"Yes Daddy," jawab Calla dengan wajah cemberut. Ia ingin ikut bersama mom dan dad tapi malah dipaksa ikut Aunty Ellea.
*
*
__ADS_1
*
"Kau yakin?" Jovie memastikan sekali lagi sebelum mereka keluar dari mobil.
"Yakin Kak Jo," jawab Ellea pasti. Ia tidak boleh menjadi pengecut karena tidak berani menghadapi masalalu.
"Tawaranku dulu masih berlaku. Kalau kau ingin menikah denganku," ucap Jovie serius.
"Jangan bodoh Kak Jo, kau sebentar lagi akan menikah. Aku baik-baik saja," sahut Ellea yang sebenarnya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Tapi bagiku kebahagiaan kau lebih penting Elle."
"Cukup Kak Jo, aku tidak ingin mendengar apapun lagi." Seru Ellea geram.
"Okey," pasrah Jovie membukakan pintu mobil untuk gadis itu lalu menggendong Calla.
"Ngantuk Sayang?" Tanyanya pada putri Edric.
"Hoam, kenapa jauh sekali Uncle."
"Karena macet Sayang, jadi terasa jauh." Jawab Jovie, satu tangannya yang lain menggandeng Ellea.
"Kalau sudah tidak kuat bilang," bisik Jovie di telinga Ellea saat mereka memasuki ballroom hotel tempat pertunangan itu diadakan. Ellea menjawab dengan anggukan kepala.
Jovie bisa merasakan tangan Ellea dingin seperti es. Ellea tetaplah gadis polos seperti empat tahun yang lalu. Selama empat tahun ini gadis itu mematikan hatinya dan menutup diri dari para pria.
__ADS_1