
"Om perkosa Dea?" Tanyanya hampir menangis.
"Enggak Sayang, kalau Om melakukan pasti sakit. Dea merasakan sakit gak?" Azmi menenangkan Dea agar tidak ketakutan. Gadis itu menggeleng pelan.
"Itu karena Om gak melakukannya, Om hanya menyapanya Sayang. Pegangin sebentar ya. Setelah ini Om gak bisa ketemu Dea lagi."
"Om mau kemana?" Tanya Deandra sendu sambil mengikuti arahan Azmi.
"Om pamit ya, mungkin kita akan lama gak ketemu. Setelah bebas, Om akan mencari kamu." Azmi tersenyum memasangkan kalung ke leher Dea. "Hadiah buat kamu Sayang."
"Jangan tinggalin Dea, Om."
"Om akan jemput Dea kalau sudah besar oke, jangan menangis." Azmi mengecup singkat bibir Dea.
"Om...!!" Rengek Dea.
"Dea mau apa Sayang? Om akan penuhi sekarang," sebenarnya Azmi juga tidak rela berpisah dengan si kecil ini.
"Temani Dea sebentar, masih kangen." Deandra naik ke atas tubuh lelaki dewasa itu.
Azmi tersenyum menyesap lembut bibir kecil Deandra sambil mengelus punggungnya. "Bisakah Dea janji menjaga semua ini buat Om. Jangan sampai ada yang menyentuhnya." Azmi menempelkan jemarinya di bibir Dea kemudian menyentuhnya di bawah. "Dan ini." Katanya seraya mengusap di sana.
"Janji, asal Om datang mencari Dea lagi."
Azmi mengangguk, "percayalah, Om akan cari Dea lagi. Sekarang Om harus pergi Sayang. Jaga diri baik-baik." Sekali lagi lelaki dewasa itu menyesap leher Dea yang membuat Dea tidak ingin melepaskannya.
__ADS_1
"Hati-hati, Om jangan jadi orang jahat lagi." Pesan Dea, Azmi mengangguk. Melepaskan Dea setelah puas menciumi gadis kecilnya itu.
"Sekarang kau milikku, tidak perlu menepati janji itu lagi." Edric memeluk Deandra sangat erat karena sudah berjanji tidak akan marah. Walau hatinya sangatlah marah, bagaimana bisa gadis berusia dua belas tahun dilecehkan seperti itu.
"Aku ini kotorkan?" Tanya Deandra pelan. Pertanyaan yang selama ini tidak pernah berani dia ungkapkan pada siapapun. Perasaan yang selama ini disimpannya sendirian.
"Tidak, kau tidak kotor. Ini bukan salahmu, aku minta maaf sudah ikut andil menyakiti perasaanmu." Ucap Edric tulus karena pernah memandang jijik Deandra tanpa tahu perasaannya.
Ia tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta disaat belum mengerti arti cinta dan diperlakukan seperti itu. Sampai dipaksa berpisah dan menikah dengan dirinya. Tapi wanitanya ini menutupi semua kerapuhannya dengan keangkuhan dan pura-pura kuat.
"Jangan mengejutkanku saat tidur lagi," pinta Deandra untuk menghindari salah sebut nama saat tidak sadar.
"Kau masih mencintainya?" Edric menatap lekat netra Deandra. Wanita itu terdiam sejenak, bimbang dengan perasaannya sendiri.
"Aku hanya bertanya, cukup kau jawab iya atau tidak. Kenapa jawabannya jadi panjang seperti rel kereta api," Edric menyahut dengan kekehan kecil.
"Karena kau meragukan aku," sungut Deandra dengan bibir maju ke depan. Apalagi saat Edric mentertawakannya, dia serius merasa cemas sang suami malah bercanda.
"Kapan aku berkata meragukan kau," Edric jadi gemas sendiri. "Kepalanya masih pusing?" Meskipun lelah ia berniat menghabiskan malam ini bersama Deandra. Ingin mengulang kembali percintaan diantara mereka.
Deandra mengangguk menjadikan lengan Edric sebagai bantal, "boleh aku tidur seperti ini?" Izinnya.
"Tidak ada yang melarang, kau boleh melakukan apapun sesuka hatimu." Edric memijat lembut belakang kepala Deandra. Jika mencintai wanita yang kita nikahi adalah kewajiban, maka Edric akan melakukannya.
"Benarkah? Boleh kalau kau aku sunat dua kali." Deandra yang sudah memejamkan mata membuka netranya kembali.
__ADS_1
"Boleh, kalau kau mau Edric junior ini disentuh orang lain." Pria itu balas menggoda, Deandra langsung merengut masam.
"Biar aku yang sunat sendiri. Kau itu suka sekali kalau disentuh-sentuh orang," decak Deandra.
"Uh possesifnya, sayang jugakan sama junior." Edric semakin menggoda, menarik Deandra dalam dekapan hangat.
"Bukan possesif, aku kasihan kalau mereka bintitan karena melihat juniormu." Jawab Deandra asal, mana mungkin dia mau mengakui kalau tidak rela Edric disentuh siapapun.
"Kalau Alice yang memanjakannya bagaimana?" Pancing Edric sambil mengulum senyum. Sudah tengah malam tapi mereka masih membicarakan hal-hal yang tidak jelas.
"Aku bakar ulat bulu itu!" Sahut Deandra menggebu-gebu. Membayangkan Edric di dekati Alice saja sisi liarnya meronta-ronta.
Tawa Edric langsung pecah tidak peduli kalau ini sudah tengah malam.
"Edric!!" Jerit Deandra kesal karena di tertawakan.
"Yes Sweetheart, aku tahu kau marah. Tidak perlu bilang," potong Edric yang masih tertawa.
"Kau itu kenapa menyebalkan sekali Mr. Arrogant!"
"Benarkah aku ini menyebalkan," Edric memainkan alis.
"Sangat menyebalkan," sahut Deandra sambil memejamkan mata kembali. Tapi Edric tidak akan membiarkan istrinya tidur dengan tenang malam ini.
"Kalau aku menyebalkan, kau itu apa." Edric terkekeh geli, beberapa detik kemudian sudah membungkam bibir Deandra dengan lembut. Menuntaskan rasa rindunya, entah sejak kapan wanita ini mengisi relung hatinya.
__ADS_1