
“Kenapa kau malah membuat masalah dengan istri Edric!!” Omel Jovie. Ia langsung menjemput Alice, saat wanita itu mengadu kesakitan karena mendapat tendangan dari Deandra.
“Aku tidak suka wanita asing itu dekat-dekat dengan Edric. Apalagi tadi dia menyebutku ulat bulu!!” Seru Alice yang masih kesal karena Edric meninggalkannya.
“Wanita yang kau sebut asing itu istri sah Edric." Jovie mengingatkan, "kau tidak bisa melarangnya dekat dengan Edric. Dan ingat, dia itu keturunan Adley. Orang yang sangat berpengaruh.”
“Aku tidak peduli, anak haram itu hanya menumpang nama Adley saja!!”
“Terserah kau, aku sudah mengingatkan. Aku tidak akan membantumu lagi kalau kau mendapatkan masalah dengan Edric,” tegas Jovie.
“Jov, kau jahat padaku!!” rengek Alice. Siapa yang membantunya kalau bukan Jovie, karena pria itu tidak kalah kaya dan berpengaruh dari Edric.
“Berhentilah bertingkah seperti anak kecil Alice. Siapa yang selalu ada untukmu saat kau kesusahan kalau bukan aku.” Kesal Jovie karena Alice tidak pernah menghargainya.
“Tapi aku selalu memuaskanmu bahkan itu tidak pernah diberikan oleh kekasihmu,” rengut Alice.
Jovie menghela napas pelan, ia paling tidak bisa melihat wanitanya bersedih.
“Lupakan Edric, kau akan mengalami masalah kalau terus mengejarnya.” Nasehat Jovie mengusap kepala Alice dengan lembut.
“Tidak, aku akan tetap mengambil Edric kembali!!” Kekeuh Alice.
Jovie geleng-geleng kepala dengan kekerasan hati wanita di sampingnya ini. "Kau ini kenapa sangat susah dikasih tahu dan menurut padaku. Bisanya hanya menyusahkan saja!!"
__ADS_1
Alice hanya mendengarkan omelan Jovie tanpa menanggapi. Karena dia sudah biasa diomeli oleh pria itu.
...🌹🌹🌹 ...
Edric tahu Deandra pasti sangat marah padanya sampai meninggalkan kuliah. Padahal istrinya itu sangat anti yang namanya membolos. Satu hari setelah pernikahan mereka saja Deandra tetap masuk kuliah.
Setelah pekerjaannya selesai Edric langsung pulang ke apartemen. Dia dapat info dari pengawal kalau Deandra sudah pulang dari kantor Dad Tian. Ia bisa bekerja dengan tenang saat tahu istrinya itu mendatangi Dad Tian.
“De,” Edric membuka pintu kamar Deandra karena tidak ada di kamarnya. Padahal dia susah memindahkan barang-barang Deandra ke kamar utama.
Deandra tidak menyahut, membaca buku dengan serius. Selain tidak ingin diganggu dia juga masih kesal dengan Edric yang lebih memilih mantan kekasihnya.
Karena tidak direspon, Edric mengambil buku tebal di tangan Deandra. Meletakkannya ke atas nakas, "masih marah?” tanyanya.
“Kau pikir saja sendiri, kan punya otak!!” Gerutu Deandra turun dari pembaringan.
“Kalau kau tidak bisa berpikir karena melihat tubuhku, lihat saja tubuh kekasihmu itu!!” Deandra membanting pintu dengan kasar setelah keluar kamar.
“Astaga, kenapa sekarang dia yang lebih galak!!” Keluh Edric menyusul Deandra yang sudah duduk di ruang tengah.
“Maaf,” ucap Edric memeluk Deandra. Dia yakin kata ajaib ini bisa melunakkan hati sang istri.
“Minggir, atau kau mau ku tendang juga. Aku tidak sudi dipeluk bekas ulat bulu!!” Sarkas Deandra.
__ADS_1
Edric menghela napas pelan, bukannya menjauh ia malah semakin menguatkan pelukan sambil mengelus-ngelus pipi Deandra agar tenang.
“Aku sudah mandi, dan pakaiannya sudah ku buang. Aku khawatir padamu bukan pada ulat bulu itu. Aku tidak mau kalau istriku yang cantik ini dilaporkan ke pihak berwajib karena melakukan tindakan kekerasan makanya menjauhkan ulat bulu itu darimu.” Jelas Edric pelan, “aku tidak menyusulmu ke kantor Dad Tian karena ada meeting. Kamu tahukan perusahaanku sedang dalam masalah.”
Deandra menganggukkan kepala, terisak dalam pelukan Edrik meluapkan kekesalannya yang sejak pagi belum habis tersalurkan.
“Ups, istriku yang garang ini menangis.” Goda Edric tanpa melepaskan pelukannya.
“Kau membuatku kesal, ulat bulu itu juga membuatku kesal.”
Edric tersenyum bahagia karena itu artinya Deandra cemburu pada Alice. Dia hanya perlu membuat wanitanya ini terbiasa dengan kehadirannya agar melupakan si manusia brengsek itu.
“Ulat bulu itu punya nama De, namanya Alice. Keren kan?” Edric menggoda Deandra kembali.
“Edric, kau itu baru minta maaf padaku dan sekarang membuatku kesal lagi!!” Rajuk Deandra.
“Aku bercanda, kau ini sensitif sekali kayak orang datang bulan saja.” Edric tertawa geli mencubit gemas pipi Deandra.
“Aku pikir Mr. Arrogant tidak bisa bercanda!" Ketus Deandra.
“Aku pikir Mrs. Arrogant tidak bisa menangis.” Edric membalas ucapan sang istri dengan gelak tawa.
“Aku masih marah, Edric!!” Deandra memukul dada bidang Edric sekuat tenaga.
__ADS_1
“Aku tahu kau masih marah," Edric menahan tangan Deandra lalu mengecupnya.
"Tanganmu nanti sakit, lebih baik ini digunakan untuk memanjakan dia." Bisik Edric sensual, yang sontak membuat otak mesum Deandra melanglang buana dengan pipi memerah.