
“Tuan, Nyonya Dea kenapa?” tanya Ron saat tiba di apartemen mewah tuannya bersama dokter dan pelayan.
Dokter langsung memeriksa keadaan Deandra sedang pelayan membersihkan kamar Edric.
“Kau tidak lihat dia pingsan!" Ketus Edric.
"Aku juga tahu nyonya pingsan, maksud pertanyaanku itu apa penyebab pingsannya?" Ucap Ron yang hanya tersimpan dalam hati.
“Tangannya tidak mau diobati sekalian Tuan.” Ron mengalihkan pembicaraan.
“Tanpa diobati pun tanganku akan sembuh sendiri!” Jawabnya sombong, lalu masuk ke kamar Deandra. Dokter sudah selesai memperban lukanya agar Dea tidak ketakutan lagi.
"Luka di tangan anda memang akan sembuh. Tapi luka di hati, aku tidak yakin akan sembuh secepatnya." Lagi-lagi Ron hanya berani bergumam dalam hati. Sebenarnya dia kasihan melihat tuannya yang dikhianati Nona Alice.
Ron memang sudah lama mengetahui pengkhianatan itu. Namun tidak berani mengatakan langsung pada tuannya. Tuan Edric tidak akan percaya kalau tidak melihat langsung dengan mata dan kepalanya sendiri. Jadi dia lebih memilih melaporkannya pada Tuan Harry karena tidak rela melihat tuannya dimanfaatkan. Tuan Edric akan melakukan apapun untuk Nona Alice karena sangat mencintainya.
"Ron, mulai besok minta pelayan untuk membersihkan apartemenku lagi dan menyiapkan segala keperluan Dea." Ucap Edric setelah dokter dan pelayan pulang lebih dulu.
__ADS_1
Sejak Dea tinggal di apartemen ia memang melarang pelayan untuk datang karena ingin mengerjai istri sombongnya itu.
"Baik Tuan, kalau tidak ada lagi saya permisi." Pamit Ron dengan sejuta tanya dalam hatinya.
Edric mengangguk lalu kembali ke kamar Deandra. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
“Hei bangun, kenapa lama sekali pingsannya.” Edric menepuk-nepuk pipi Deandra.
“Aku tidur bukan pingsan," jawab Deandra lalu bangun melihat kakinya dengan wajah cemberut.
“Aku tahu kau kaya, kalau mau ganti cermin gak perlu dipecahkan dulu. Kan kakiku yang jadi korbannya, masa aku besok kuliah harus pakai kursi roda.” Gumam Deandra yang terdengar lucu di telinga Edric.
“Daripada kau terus menyiksaku lebih baik pulangkan aku. Aku tidak konsen belajar kalau dimarahi terus.”
“Aku tidak akan memulangkanmu, karena kau harus membereskan semua kekacauan ini.” Edric berucap dingin, Deandra menundukkan kepala sambil memilin-milin jemarinya.
"Pernikahan ini bukan karena kesalahanku, harusnya kita sama-sama membereskannya. Kau menjalani hidupmu seperti biasa dan aku menjalani hidupku seperti biasa. Jangan saling menyalahkan dan jangan selalu mencari kesalahan." Ucap Dea pelan karena dia lelah berteriak tapi tidak di dengarkan juga.
__ADS_1
"Kau tahu, aku membencimu. Membenci pernikahan ini dan aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang!!" Edric berucap tegas lalu meninggalkan kamar Deandra.
Deandra menarik napas pelan, percuma dia mengajak Edric bicara. Pria itu tidak mengerti bahasa manusia.
...🐥🐥🐥...
Keesokan paginya
"Lukanya tidak banyak tapi tetap saja jalanku pincang," gerutu Deandra. Karena rasa mengganjal di telapak kakinya membuat tidak enak dibawa jalan.
"Perlu keranda mayat biar Ron siapkan!!" Ketus Edric menatap Ron yang sudah berdiri di depan pintu apartemen.
Deandra menggembungkan pipi, menyimpan suara emasnya. Memang sih hari ini dia tidak dijadikan pembantu karena ada pelayan yang membersihkan apartemen dan menyiapkan sarapan untuk mereka. Tapi tetap saja suara kumbang itu menyapa telinganya.
"Kau itu pemarah sekali, istri sakit bukannya dimanja malah dimarahi!"
"Kau salah menikah denganku kalau ingin dimanja!!" Sarkas Edric berjalan lebih dulu meninggalkan apartemen diikuti Ron.
__ADS_1
"Tentu saja salah, kalau benar aku tidak akan menikah denganmu." Deandra berbicara sendiri, "perempuan lain disayang-sayang. Istri sendiri ditendang-tendang!" Gerutunya kesal. Hanya sesekali ia bisa bermanja-manja dengan Edric dan itupun tidak pernah ditanggapi.