Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 59


__ADS_3

"Kak Jo," Ellea tersenyum pada Jovie yang masih berada di ruang perawatan. Selama lima hari ini memang hanya Ellea yang menjaga pria itu ditemani asisten Jovie.


Jovie tidak mau mengabari mom dan dadnya. Karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya susah, pulang ke Indonesia hanya untuk melihatnya yang sakit setelah dihajar Edric. Pasti mereka akan mengintrogasinya habis-habisan.


"Baby," Jovie membalas senyuman Ellea sambil mengusap di pipi.


"Kenapa Kak Jo gak mau mengabari Aunty Desy dan Uncle Johan?" Tanya Ellea, Jovie masuk rumah sakit karena perbuatan kakak kandungnya.


"Karena aku baik-baik saja," Jovie menepuk tempat luang di sampingnya. Meminta Ellea untuk duduk disana.


Gadis cantik itu dengan senang hati duduk di dekat Jovie. Bisa berada berdekatan dengan pria yang dicintainya begini saja Ellea sudah sangat bahagia. Ellea mengamati wajah Jovie dengan lekat, bekas lebam di wajah tampan itu sudah mulai hilang.


"Kau itu cantik kenapa harus mencintaiku yang brengsek ini?" Tanya Jovie serius, dia baru mengetahui Ellea mencintainya dari Edric. Pantas saja gadis ini tidak memberontak saat ia cium dengan mesra. Dan bibir manis itu membuat Jovie ketagihan. Sialnya dia tidak bisa mengulang semua kekhilafan itu lagi.


"Karena cinta tidak butuh alasan dan tidak bisa memilih ingin jatuh cinta dengan siapa Kak." Jawab Ellea lugas, dia tidak kaget kalau Jovie mengetahui perasaannya. Pasti Edric yang sudah memberitahu pria ini.

__ADS_1


Jovie mengangguk, entah kenapa hatinya sangat ingin memeluk Ellea lagi namun ditahannya.


"Tapi aku tidak bisa membalas cintamu, aku mencintai wanita lain." Jawab Jovie jujur, tidak ingin membuat Ellea terluka karena berharap padanya.


"Iya aku tahu, kata orang cinta tidak harus memiliki. Cinta itu bahagia ketika bisa melihat orang yang kita cintai bahagia." Jawab Ellea sambil tersenyum manis, tidak menampakkan sama sekali hatinya yang terluka.


"Mau peluk?" Tawar Jovie bangun dari posisi tidurannya. Sebenarnya dia sudah lebih baik, hari ini sudah diperbolehkan dokter pulang.


Ellea mengangguk ragu, takut terlalu nyaman berada dalam pelukan pria itu. Jovie merengkuh tubuh cantik yang entah sejak kapan membuatnya merasa rindu dengan pelukan ini.


Ellea tidak tahu harus menanggapi apa, saat ini dia sangat ingin menangis. Namun ia tidak boleh lemah di hadapan orang lain.


"Kalau kau menginginkannya aku akan memberikannya," Jovie mengusap lembut bibir Ellea dengan jempolnya.


Gadis itu meneguk saliva dengan kasar. Susah payah menahan diri agar tidak menyosor lebih dulu. Ellea menggeleng, mempertahankan harga dirinya. Dia sudah di tolak, lalu untuk apalagi ciuman itu. Dengan pelan ia melepaskan diri dari pelukan Jovie.

__ADS_1


"Kak Jo istirahatlah, aku siapkan keperluan yang mau dibawa pulang." Ellea berusaha melepaskan diri dari debaran yang membuatnya tersiksa.


"Tidak perlu, biar Fredi yang melakukannya." Jovie menunjuk ke arah sang asisten yang menunggu di luar.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang saja." Ellea ingin meluapkan rasa sakit yang ada di hatinya ini. Tadi siang Edric yang lebih membela Deandra dan sekarang Jovie menolak perasaan cintanya terang-terangan. Siapa yang bisa mengerti perasaannya selain dirinya sendiri.


"Kau marah padaku jadi ingin menghindar?" Jovie dapat merasakan perubahan Ellea setelah ia mengatakan mencintai wanita lain tadi.


"Aku tidak menghindar Kak, sudah seharusnya aku tidak terlalu dekat dengan Kak Jo. Kau hanya menganggapku adik kan." Jawab Ellea masih tetap tenang, walau ada luka yang menganga sedang memberontak di dalam sana.


Jovie tidak suka dengan kalimat yang Ellea ucapkan. Dia merasa akan kehilangan gadis ini, tidak bisa memeluk dan menciuminya lagi. Dari matanya pun Ellea tidak menatapnya penuh cinta lagi, terkesan lebih dingin. "Tapi aku tidak suka kalau kau bersikap seperti ini."


"Aku seperti apa? Aku ini masih seperti Ellea Hansel yang biasanya Kak Jo. Angkuh, judes, kasar dan manja. Kau ini terlalu berlebihan, harusnya aku yang baper karena sudah ditolak kenapa jadi Kak Jo yang baper sih." Ucap Ellea dengan tawa renyah.


Tawa yang menyembunyikan luka, Jovie tahu itu. Dan dia tidak bisa melihat gadis ini terluka, ada apa dengan dirinya ini. Apa yang ia rasakan, apakah perasaan ini murni sebatas kakak yang menyayangi adiknya atau ada bumbu perasaan lain yang tidak bisa Jovie definisikan.

__ADS_1


"Aku bisa jatuh ke dasar lautan kalau mengambil hati dari kalimat yang baru saja kau ucapkan Kak Jo. Kau tidak suka aku menghindar, lalu aku harus bersikap seperti apa untuk mengobati hati ini." Ellea menghela napas panjang agar tidak mengeluarkan tangis di hadapan pria yang dicintainya.


__ADS_2