
"Aaaaa, akhirnya aku bisa bebas!" Pekik Ellea girang karena bisa menikmati hidup tanpa bayang-bayang Edric. Mereka sekarang berada di villa Uncle Tian yang ada di Lembang. Dengan pengawasan khusus tentunya.
"Kau tidak perlu memikirkan kakakku yang bodoh itu lagi. Sekarang saatnya kita menikmati hidup bebas!" Celetuk Ellea pada Deandra yang tidak sesemangat dirinya.
"Bisakah juga aku melarang kau untuk tidak memikirkan Kak Jo-mu itu lagi?" Pertanyaan Deandra membuat gadis yang tadi ceria itu jadi mendadak murung.
"Mana bisa, kemanapun aku pergi dia selalu menempel disini." Ellea memegangi dadanya dengan serius. Senyuman di bibirnya ini hanyalah untuk menutupi kerapuhan hatinya.
"Nah, itulah yang sekarang aku rasakan. Kemanapun aku melangkah dia selalu mengganggu kewarasanku." Deandra beranjak menuju kolam renang, menjulurkan kakinya ke air kolam. Ellea pun mengikuti, entah sejak kapan mereka sudah akrab dan tidak bertengkar lagi.
"Kenapa mereka harus mencintai wanita yang sama? Dan apa hebatnya wanita itu?" Tanya Ellea dengan bibir yang manyun.
"Karena cinta tidak bisa memilih ingin dilabuhkan pada siapa. Tidak seperti perlombaan yang bisa ditentukan pemenangnya. Itulah juga yang terjadi pada mereka," jawab Deandra bijak. Bukan salah Edric kalau tidak bisa mencintainya seperti pria itu mencintai Alice.
__ADS_1
Ellea mengangguk membenarkan ucapan Deandra, "tapi kita kesini bukan untuk menangisi takdir. Kita kesini untuk bersenang-senang, bukan untuk bersedih," gadis itu menarik kakak iparnya sampai mereka tercebur ke kolam bersama-sama.
"Sial aku jadi basah!" Decak Deandra.
"Kalau mau kering berjemur, dimana ada sejarahnya orang tercebur ke air tidak basah." Seru Ellea tertawa gelak, berenang dengan riang Deandra pun mengejar adik iparnya itu.
"Kenapa kita harus bersedih, kita ini masih muda masih banyak yang mau. Dan kau, tidak akan ada yang tahu kalau kau itu sudah menikah. Jadi kita akan menggaet pria-pria tampan malam ini." Teriak Ellea melepaskan segala beban yang ada di kepala dan hatinya.
"Gila!" Desis Deandra saat mendengar ide konyol adik iparnya.
...🌺🌺🌺...
"Tuan, Nona Ellea tidak keluar kamar sejak pagi tadi. Saya sudah berkali-kali mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan." Lapor Pak Man pada Tuan Edric yang baru sampai di mansion.
__ADS_1
"Ambil kunci cadangan Pak Man," perintah Edric. Khawatir adiknya itu sakit lagi jadi mengurung diri.
Pak Man segera mengambilkan kunci cadangan dan memberikannya pada Tuan Edric. Mereka menuju kamar Ellea, "tidak dikunci." Gumam Edric saat mendorong handle pintu. Tapi di dalam sana tidak ada siapa-siapa.
"Tidak ada yang melihat Elle keluar?" Tanya Edric pada Pak Man. Kepala pelayan itu menggelengkan kepala.
Aneh, tadi malam Edric kehilangan Deandra tapi seluruh penghuni mansion tidak ada yang tahu wanitanya itu kemana. Termasuk petugas keamanan yang berjaga di pintu gerbang. Dan sekarang adiknya juga ikutan menghilang. Apa dua wanita itu memiliki ilmu menghilang.
"Pak Man cek semua cctv di mansion," perintah Edric.
"Siap Tuan," sahut Pak Man bergegas melaksanakan perintah Tian Edric.
Edric masuk ke kamarnya, langsung menuju bathroom. Dia perlu berendam untuk mendinginkan kepalanya yang seharian ini panas karena digunakan untuk berpikir mencari keberadaan Deandra.
__ADS_1
Belum lagi istrinya itu ditemukan dan sekarang adiknya juga ikut-ikutan menghilang. Hanya satu orang yang kemungkinan mengetahui keberadaan Ellea, Jovie.