
"Baby," Jovie langsung bangun dari tubuh Ellea. Menyelimuti gadis itu lalu memeluknya. "Maaf," lirihnya. Walau Ellea tidak menangis tapi ia bisa merasakan sang gadis terluka.
"Ayo kita menikah," ajak Jovie. Sudah banyak kesakitan yang Ellea lalui karenanya.
Gadis itu menggeleng pelan, "Kak Jo cukup biarkan aku pergi. Kau berhak mengejar kebahagiaanmu sendiri, aku tidak ingin memaksamu bersamaku." Ellea tidak mau nasibnya sama seperti Deandra yang hampir ditinggalkan Edric menikah lagi. Mengingat Jovie tidak mencintainya.
"Aku cuma minta Kak Jo jangan menahanku disini," lanjut Ellea dengan memohon.
"Oke," Jovie melepaskan Ellea dari pelukannya. Beranjak mengambilkan kemeja untuk gadis itu, "pakailah dan segera pergi sebelum aku berubah pikiran!"
Ellea segera bangun dan mengambil kemeja yang diberikan padanya. "Tidak apa hatimu sakit Ellea, kau pasti bisa." Ia terus merapalkan kalimat yang membuatnya kuat.
"Aku pergi," ucap Ellea saat Jovie membukakan pintu untuknya. Pria itu tidak menjawab, menatapnya dengan wajah dingin. Ellea tetap tersenyum walau hatinya menjerit, semua ini konsekuensi dari keputusan yang ia pilih.
__ADS_1
...🌷🌷🌷 ...
"Edric, cepat kau cari Elle!" Bukan tanpa alasan Deandra mengkhawatirkan adik iparnya itu.
"Elle sudah besar Sweetheart. Dia tahu arah jalan mana yang ke kanan dan mana yang ke kiri," jawab Edric malas.
"Ck, bicara dengan kau ini sama saja aku mengajak kucing bicara!!" Kesal Deandra mengambil ponsel lalu menghubungi Dad Tian.
"Elle itu adikku, kau tidak perlu ikut campur!" Edric langsung merebut ponsel Deandra sebelum tersambung pada Dad Tian.
"Sayang," Edric mendesah berat karena salah bicara. Dari tadi siang yang mereka ributkan hanya perihal Ellea.
"Aku akan cari Elle. Kau kerjakan tugas saja dulu," bujuk Edric melirik pada laptop dan buku-buka yang berserakan di atas meja. Benda-benda itu tidak tersentuh oleh wanitanya karena sibuk mengomel.
__ADS_1
"Kau itu berpikir tidak sih Edric, Elle tidur dimana malam ini!" Gemas Deandra. Ia sampai lelah mengajak Edric bicara. Tangannya sudah gatal ingin mencakar-cakar wajah tampan suaminya itu.
"Oke-oke, aku suruh Ron mencari Elle sekarang." Putus Edric mengalah daripada mereka perang dunia lagi.
"Kau lupa, kalau Ron sudah bukan asistenmu lagi?" Sinis Deandra semakin geram.
"Tanpa aku suruh pun Ron pasti sudah mencari Elle, Sayang. Makanya aku tidak pusing memikirkannya." Beritahu Edric pelan, tentu saja dia khawatir pada adik tersayangnya itu.
"Kau itu terlalu mengandalkan orang lain Edric!" Deandra masih saja mengomel, hatinya belum bisa lega kalau belum mendapat kabar dari Ellea.
Edric mendengus, kesabarannya sudah mulai menipis menghadapi sang istri. "Oke aku cari Elle sekarang." Pria itu beranjak dari tempat duduknya. Kalau dia meladeni Deandra tidak akan ada selesainya.
Disaat pasangan suami istri itu terus berdebat karena Ellea. Si empunya malah tersenyum bahagia di kereta api. Waktu yang ia lalui hari ini terasa begitu lama dan sangat melelahkan.
__ADS_1
Walau tidak pernah hidup susah tapi Ellea tidak ingin menjadi wanita lemah yang bisanya hanya menangisi hidup tanpa berusaha keluar dari derita hidup yang menerpa. Ia akan membuktikan kalau masih bisa hidup tanpa bantuan keluarganya.