Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 191


__ADS_3

"Sayang buka pintunya, Baby Calla mau ketemu Aunty nih." Bujuk Edric di depan kamar sang adik yang uring-uringan tidak jelas sepekan terakhir ini.


"Tidak mau, aku tidak mau bicara dengan kalian!!" Sahut Ellea malas. Ia sedang malas bertemu orang-orang yang hanya kepo dirinya kenapa.


"Buka pintu atau aku lepas sekalian pintunya!!" Ancam Edric dengan garang, tentu saja dia tidak sedang membawa putrinya saat menggedor-gedor pintu kamar Ellea.


"Suka-suka dia!!" Gerutu Ellea menghentak-hentakkan kaki membuka pintu kamar.


"Kenapa sih cemberut terus, belum mandi lagi." Goda Edric mendekati sang adik yang mencak-mencak. "Mandi dulu yok baru main sama baby," bujuknya agar Ellea mau keluar kamar.


"Aku malas Edric. M A L A S !!!" Eja Ellea, kembali menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.


"Sampai kapan kau mau galau seperti ini, kau galau karena Jovie atau Ron!!" Sarkas Edric menahan tubuh Ellea yang ingin membenamkan diri di bawah selimut lagi.


Ellea hanya menjawab dengan dengusan saat nama dua pria yang jadi pengacau hidupnya itu disebutkan.


"Lama kelamaan kau bisa depresi dan dilarikan ke rumah sakit jiwa." Lanjut Edric dengan kekehan membuat Ellea berdecak kesal dan mengusir sang kakak.


"Pergi kau Edric, pergi!! Jangan ganggu hidupku lagi."

__ADS_1


"Kalau aku pergi siapa yang menjagamu, hm." Edric mendudukkan Ellea di sampingnya sambil menyisir rambut acak-acakan gadis itu dengan jemarinya. "Tidak mau siap-siap, kan mau ikut Mom. Atau mau tetap tinggal disini?"


Tetap menanggapi kekesalan Ellea dengan lembut. Tersenyum geli melihat wajah adiknya yang seperti kaset kusut. Ia tahu kalau adiknya ini banyak menangis sampai matanya membengkak. Yang Edric tidak tahu, apa alasan Ellea menangis dan siapa yang menjadi penyebabnya.


"Masih lama Edric!" Ellea masih merengut, menyandarkan kepalanya ke bahu sang kakak.


"Kakak bukan Edric," ralat Edric. Adiknya ini susah sekali diajari untuk jadi anak yang manis.


"Iya kakak-ku tersayang," ulang Ellea dengan bibir mencebik.


"Gitu dong, ayo mandi dulu baru sarapan. Lihat badanmu, baru satu minggu kurang makan sudah seperti pensil alis."


"Sakit Elle!!" Pekik Edric, spontan mengelus-elus perut. "Tangan kau ini mau dipotong hah!" Serunya memukul tangan sang adik yang sudah menyiksanya.


"Potong, biar gak nakal." Gadis itu mengulurkan kedua tangannya dengan suka cita ke hadapan Edric.


"Hei aku bercanda, kenapa sensitifnya ngalahin ibu hamil sih." Daddy Calla itu terkekeh geli membawa sang adik dalam pelukan.


"Mau cerita gak, biar dadanya lega. Jangan dipendam sendirian." Ujar Edric yang sebenarnya kepo penyebab diamnya Ellea selama satu minggu ini.

__ADS_1


"Apa yang mau aku ceritakan, tidak ada apa-apa."


"Tentu saja ada, kau tidak mungkin seperti patung kalau tidak ada masalah. Kau tidak percaya padaku jadi tidak mau bercerita, hm."


Pria itu menatap lembut netra sang adik. Sayangnya ia tidak bisa menghipnotis, coba saja kalau punya ilmunya. Akan Edric buat adiknya ini tertidur dan curhat padanya.


"Aku cuma lagi mager, tidak ada apa-apa." Kekeuh Ellea, untuk apa ia menceritakan hal yang tidak penting. Yang akhirnya nanti akan menyakiti dirinya sendiri, lebih baik ia pendam semuanya sendirian.


"Aku tidak percaya dengan mulut kau ini, tapi aku tidak akan memaksa kau untuk bercerita sekarang. Nanti aku panggil Uya Kuya saja untuk menghipnotis kau agar mau bercerita padaku." Seloroh Edric yang membuat Ellea mengamuk.


"Edric!!!" Teriak Ellea menggelegar, sampai membuat Mom Linn dan Dad Harry datang ke kamarnya. Sedang Edric tertawa gelak sampai sakit perut.


"Sayang ada apa?" Tanya Mom Linn khawatir.


"Usir anak Mommy ini atau aku yang pergi dari sini," geram Ellea.


"Edric, kau apakan lagi adikmu!!" Seru Mom Linn menyeret Edric keluar dari kamar sang putri.


"Aku cuma mau manggil Uya Kuya Mom, biar tahu masalah Elle dan mencarikan solusi supaya dia tidak galau lagi." Jawab Edric ditengah tawanya.

__ADS_1


Sang Daddy yang mendengar hanya bisa menghela napas panjang, mendekati putrinya.


__ADS_2