Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 17


__ADS_3

"Mr. Arrogantku kemana?" Guman Dea yang merubah panggilan untuk manusia angkuhnya itu menjadi Mr. Arrogant agar lebih keren pikirnya.


Sekarang sudah jam sebelas malam lewat tapi Mr. Arrogantnya belum juga pulang. Dea tahu Edric tidak pulang dari pintu kamar yang tidak tertutup rapat dan dia memberanikan diri mengintip namun tidak ada orang disana.


"Punya suami serasa punya musuh," Deandra tertawa geli menutup pintu kamar Edric. Ia tidak mau terlalu meratapi nasib yang membuatnya semakin terluka.


Mungkin Edric pulang ke mansion Hansel atau mendatangi kekasihnya. Membayangkan Edric melakukan itu Deandra menarik napas panjang, kembali ke kamarnya.


Bip... Bip...


Pesan masuk di ponselnya, Deandra langsung membuka karena penasaran siapa yang menghubunginya malam-malam.


Isi pesan itu lagi-lagi membuat Deandra menarik napas panjang dengan dada yang bergemuruh hebat. Tidak hanya pesan yang Edric kirimkan tapi foto sedang bercinta dengan kekasihnya.


Deandra meletakkan ponsel kembali ke atas nakas. Tidak ingin memikirkan Mr. Arogant-nya.

__ADS_1


"Om," gumam Deandra. "Dea tidak bisa memilih takdir cinta Dea sendiri. Bolehkah mengeluh, setelah Dea dipaksa untuk berhenti mencintai sekarang Dea juga harus menerima kenyataan memiliki suami yang tidak menginginkan Dea." Lirihnya dengan air mata yang beruraian lalu tertidur.


Sementara di apartemennya Alice tersenyum puas setelah mengirimkan foto panas dari ponsel Edric. Dia ingin perempuan itu mundur perlahan jadi istri kekasihnya.


"Sayang belum tidur?" Edric terusik karena gerakan Alice.


"Aku mau tidur sambil dielus-elus," ujar Alice sengaja memancing Edric dan menuntun tangan sang kekasih dengan nakal.


"Janji cuma dielus," Edric tetap tidak ingin mencelupkan miliknya sebelum menikahi Alice.


Edric mengecup kening kekasihnya lalu memberikan yang gadisnya mau. Namun Alice tidak tinggal diam membuat kekasihnya panas dingin dan kehilangan kendali.


"Maaf aku gak bisa," Edric mengusap pipi Alice lalu merapikan pakaiannya.


"Babe."

__ADS_1


"Aku pulang, nanti gadis manja itu mengadu pada Dad Harry." Ujar Edric setelah mengecup kening Alice ia langsung pulang tanpa mendengarkan rengekan wanitanya.


"Brengsek, awas saja aku akan menghancurkan istrimu itu!!" Umpat Alice kesal karena rencananya membuat Edric jadi miliknya gagal lagi.


Dalam mobilnya Edric mengumpat kasar. Kenapa dia malah terbayang wajah Deandra saat ingin melakukan hubungan terlarang dengan Alice. Bahkan Edric tidak bisa mengkhianati istri diatas kertasnya itu. Dia sudah berjanji menjaga Dea. Itu artinya dia harus menjaga perasaan Deandra juga seperti menjaga perasaan Mom Linn.


Edric masuk ke apartemen, sepi seperti tidak berpenghuni. Ia masuk ke kamar Deandra sebentar untuk melihat gadis itu. Untuk pertama kalinya Edric mendekati Deandra selain saat istrinya diculik waktu itu.


"Apa yang membuatmu menangis?" Edric masih bisa melihat sisa air mata di pipi gadis itu. Ingin menyentuh pipinya namun Edric urungkan. Matanya terhenti pada ponsel Deandra. Ia penasaran apakah gadis sombongnya ini masih berhubungan dengan om-om itu.


Edric membulatkan mata saat melihat pesan dari dirinya sendiri padahal dia tidak ada menghubungi Deandra. Dan saat membuka isi pesan betapa terkejutnya ia melihat fotonya tengah menikmati buah dada Alice.


"Apa kau menangis karena foto ini?" Tanyanya dalam hati.


"Hanya aku yang boleh menyakitinya, tidak ada yang boleh menyakitinya selain aku." Edric mengepalkan tangan kuat. Tidak menyangka Alice melakukan perbuatan licik seperti ini. Padahal dia sudah menepati janji untuk tidak menyentuh Deandra.

__ADS_1


__ADS_2