Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 113


__ADS_3

Ellea yang sudah kelelahan berjalan tanpa arah dan tujuan dibawah terik matahari berhenti di sebuah halte. Ia tidak tahu harus memulai dari mana agar bisa mendapatkan pekerjaan.


Apa pekerjaan yang ia bisa selain menghambur-hamburkan uang. Selama ini Ellea hanya tahu cara menghabiskan uang.


Gadis itu tersenyum manis saat melihat cincin yang melingkar di jarinya. Cincin pemberian Dad Harry saat ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu. Ini bisa ia gunakan untuk bertahan hidup selama satu bulan dan menyewa kos-kosan sambil mencari kerja.


Tidak patah harapan Ellea mendatangi toko perhiasan. Walaupun pakaiannya bermerk tetap saja ia terlihat seperti gembel karena terpanggang matahari dan terkena debu sejak pagi.


Bungsu Hansel itu tersenyum bahagia setelah mendapatkan sejumlah uang yang cukup untuknya bertahan hidup selama satu bulan asal berhemat. Ellea mampir ke restoran untuk makan siang dan membersihkan dirinya yang berantakan. Tidak apa siang ini ia makan enak, setelahnya mungkin harus berhemat.


"Baby," panggil Jovie yang baru selesai meeting dengan klien. Pria itu meminta asistennya untuk pulang duluan setelah melihat Ellea yang sedang makan siang sendirian.

__ADS_1


"Kak Jo," kaget Ellea. Untung dia sudah membersihkan wajah dan penampilannya yang seperti gembel. Hanya kulit wajahnya saja yang masih memerah karena kepanasan.


"Kau kenapa seperti habis di jemur di tengah lapangan sambil hormat bendera?" Kepo Jovie sambil terkekeh lucu ketika melihat Ellea yang sudah menandaskan satu gelas orange jus dan air mineral. Tapi gadis itu masih seperti orang kehausan yang baru saja selesai lomba lari marathon.


"Aku habis dihukum karena tidak mengerjakan tugas kuliah." Bohong Ellea sambil terkekeh kecil, mana mungkin dia jujur pada pria yang dicintainya itu.


Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan Jovie yang merupakan sumber kesengsaraannya. Walau tidak bisa tinggal di mansion lagi. Ellea akan tetap membuktikan kalau ia masih bisa bertahan hidup dan juga melupakan Jovie.


"Kau jangan bohong, dalam waktu kurang dari tiga menit pun aku bisa tahu apa masalahmu," gertak Jovie.


"Baby, katakan kau kenapa?" Jovie mengusap lembut pipi Ellea, bisa melihat kesedihan di mata gadis yang sok tegar itu. Dia tidak hanya setahun dua tahun kenal gadis ini, jadi sangat hapal dengan segala tingkah polahnya.

__ADS_1


Ellea dengan cepat menyingkirkan tangan Jovie dari pipinya. Sebelum hatinya meleleh seperti cokelat yang terkena panas, lumer. "Aku kenapa? Aku ini baik-baik saja. Kak Jo tidak lihat kalau aku tidak terluka atau apapun," jawabnya dengan tersenyum manis.


"Kau tidak bisa membohongiku Ellea Hansel!" Tegas Jovie, gadis di depannya ini tidak bisa diajak bicara baik-baik.


"Aku duluan," pamit Ellea. Tidak berniat menghabiskan makan siangnya. Lebih baik dia pergi agar Jovie berhenti mengintrogasi dirinya.


"Selesaikan makanmu, kalau memang ada yang harus pergi dari sini maka akulah orangnya." Jovie cepat mencegah Ellea yang ingin beranjak dari duduk. Tidak sengaja matanya melihat kaki Ellea yang lecet. Dugaannya benar, ada yang tidak beres pada gadis ini. Jovie langsung mengirimkan pesan pada Fredi untuk menyelidiki apa yang terjadi dengan Ellea.


"Aku sudah kenyang Kak. Aku duluan," keukeuh Ellea.


"Ellea Hansel, habiskan makanmu kalau kau tidak ingin aku membuat keributan disini!" Jovie menatap tajam gadis yang sangat keras kepala. Apa harus diancam dulu agar gadisnya itu mau menurut.

__ADS_1


Ellea mendesah berat, terpaksa duduk kembali karena tidak ingin Jovie membuat keributan yang membuatnya malu. Atau lebih parahnya kalau dia disuruh mengganti semua kerugian yang terjadi nanti.


Gadis itu menyantap makan siangnya dengan lahap. Perutnya memang sangatlah lapar, "mungkin aku harus pergi dari kota ini agar bisa move on." Pikir Ellea dalam hati. Ia tidak mau terus terbelenggu pada cinta yang membuatnya lelah dan semakin terluka.


__ADS_2