Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 43


__ADS_3

"Baby are you okay?" Jovie membantu Ellea bangun dan memberikan susu hangat langsung ke bibirnya. Karena tangan Ellea terbungkus selimut.


Melihat Ellea minum saja Jovie menelan saliva. Bagaimana bibir mungil yang basah itu mengecap-ngecap susu cokelat seperti bayi karena tangannya tidak bisa bergerak.


Dia yakin ciuman tadi itu merupakan ciuman pertama Ellea, karena gadis itu sangat kaku melakukannya. Jovie mengusap bibir Ellea yang basah dengan jempolnya. Karena sangat menggoda Jovie menyesap benda kenyal itu dengan lembut. Ellea tidak melakukan penolakan malah menikmatinya.


"Bibirmu sangat manis Baby," gumam Jovie kemudian mengulangnya kembali sampai Ellea kesusahan bernapas baru mengakhirinya.


"Tidurlah disini," Jovie tersenyum menepuk pipi Ellea lembut kemudian membaringkannya. Setelahnya Jovie merendam diri di bathtub. Dia tidak boleh menyakiti Ellea, gadis itu sudah seperti adiknya sendiri.


Ellea merasakan sangat bahagia karena bisa menyentuh bibir yang sangat ia idamkan selama ini. Kupu-kupu berterbangan dengan riang di perutnya.


Sudah lama Ellea menunggu momen dimana Jovie khilaf padanya. Ya walaupun dia tidak bisa memiliki Jovie, setidaknya bisa mengecap betapa manisnya bibir pria itu. Karena sejak dulu Jovie hanya menganggapnya sebagai adik tidak lebih.


"Belum tidur?" Tanya Jovie saat keluar dari bathroom, padahal dia berendam cukup lama.


Penampakan Jovie yang hanya menggunakan celana pendek dengan dada polos tak tertutup apapun sukses membuat Ellea kesulitan menelan saliva.


"Aku susah bernapas," Ellea hanya bisa menggerakkan kepala ke kanan dan kiri. Dia merasakan sangat pengap diperam dalam selimut tebal.

__ADS_1


Jovie terkekeh geli mendekati Ellea, "kau seperti bayi baru lahir." Sebutnya seraya melonggarkan selimut sang gadis.


"Kalau aku bayi tidak mungkin berjodoh dengan Kak Jo dong," ucap Ellea.


"Tentu saja, mana mungkin aku berjodoh dengan anak kecil seperti kau yang masih dalam bedongan ini." Jovie mencubit gemas pipi Ellea lalu menciumnya seperti anak kecil.


"Haha, siapa tahu Kak Jo mau menungguku!" Seru Ellea kemudian tertawa gelak, "padahal aku mencintaimu sejak dulu." Lanjutnya dalam hati.


Salahkah kalau Ellea mencintai sahabat kakaknya. Karena Jovie adalah pria yang dikenalnya pertama kali selain Dad Harry dan sang kakak.


"Sampai kapanpun kau tetap Babyku. Jadi daripada memikirkan jodoh lebih baik kau belajar yang benar, fokus kuliah." Jovie menepuk puncak kepala Ellea.


"Selamat tidur tuan putri," Jovie mengecup kening Ellea kemudian berpindah ke bibir memberikan kecupan singkat. Setelahnya ia keluar kamar.


Ellea melonggarkan selimut menyentuh bibir dan keningnya yang di kecup Kak Jo.


"Apa semua ini hanya karena kau menyayangiku sebagai adik? Lalu apa ada seorang kakak yang mencium adiknya dengan penuh gairah?"


Gadis itu memegangi dadanya yang terasa nyeri. "Apa benar Alice sering tidur denganmu?" Ellea bertanya pada dirinya sendiri mengingat ucapan Alice. Dengan helaan napas berat Ellea bangun dari tempat tidur mengambil pakaian Jovie yang bisa dia gunakan.

__ADS_1


Sementara di kamar sampingnya Jovie tidak bisa memejamkan mata terus terbayang kemolekan tubuh Ellea dan ciuman panas yang mereka lakukan.


"Shiitt, kalau kau bukan adik Edric yang sudah ku anggap adik sendiri. Sudah ku hepaskan kau ke tempat tidur!!" Jovie mendesah frustasi mengusap wajahnya dengan kasar.


Semalaman dia tidak bisa tertidur karena terganggu oleh bayang-bayang Ellea.


Paginya Jovie sudah berada di pantry membuat kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya yang baru muncul di pagi hari. Tapi saat ia ingin terpejam bayang-bayang Ellea hadir seperti hantu.


"Sudah bangun," sapa Jovie pada gadis yang sedang mengambil air putih. Penampilannya sangat lucu, menggunakan kaos dan celana kebesaran miliknya.


Ellea terjingkat kaget karena tidak tahu Kak Jo juga ada di pantry. "Kak Jo, jantungku sudah lari-lari."


"Lari-lari," Jovie terkekeh kecil meletakkan gelas ke meja lalu mendekati Ellea.


"Tidurnya nyenyak Baby?" Tanyanya memeluk Ellea dari belakang dan mengecup di pipi.


Ellea menghela napas pelan dengan jantung yang berdetak lebih cepat. Ia mengangguk kemudian minum air putih di tangannya. Susah payah air itu masuk ke tenggorokan Ellea karena Jovie semakin mengeratkan pelukannya.


"Dia ini bilang hanya menganggapku adik, tapi kenapa suka sekali menciumiku. Hati aku yang lemah ini kan jadinya baper."

__ADS_1


__ADS_2