Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 71


__ADS_3

Disinilah mereka sekarang, satu kelas berbondong-bondong ke kantin karena mendapat traktiran dari Sari yang berhasil memalak Deandra.


Dengan wajah masam istri Edric itu memilih bermain ponsel daripada membuang energi meladeni Sari. Sudut bibir Deandra refleks tertarik ke atas kala mendapati Edric mengirimkan pesan. Tumben Mr. Arrogant ingat padanya.


"Kau kenapa? Tadi merengut sekarang senyum-senyum sendiri." Celetuk Sari sambil membawakan semangkok bakso untuk Deandra.


Bruukk


Tiba-tiba tubuhnya terdorong ke depan, membuat mangkok bakso yang di pegangnya tertumpah ke paha Deandra.


"Sariii!!" Jerit Deandra refleks melepaskan ponsel saat kuah panas itu menyapa kulitnya.


"Dea!!" Sari ikut menjerit ketika menyadari apa yang sudah terjadi pada temannya.


"Ups sorry," ucap Alice tanpa dosa berlalu dari sana. "Akhirnya aku bisa melihat wajah kau kesakitan juga."


"Brengsek kau!!" Sari tidak membiarkan Alice selamat begitu saja. Dia menarik rambut wanita itu dengan geram.

__ADS_1


"Lepaskan sialan!!" Teriak Alice menarik kembali rambutnya yang ditarik Sari agar terlepas.


"Sari cukup!!" Tegur Deandra. Ia tidak ingin mengambil resiko temannya itu terkena masalah karena berbuat kekerasan di area kampus.


"Kali ini kau selamat!!" Sari melepaskan tangannya dari rambut Alice. Namun setelahnya ia mendorong wanita itu dengan kasar sampai hampir terjatuh.


"De, are you okay?" Sari mengambil ponsel Deandra yang terjatuh dan memasukkan ke tas wanita itu.


"Kau pikir saja sendiri!!" Andai Sari tidak memaksanya ke kantin, ia tidak akan terkena sial seperti ini. Pahanya terasa panas, apalagi saat ini dia menggunakan celana jeans.


"Nyonya," pria berperawakan besar dengan stelan jas hitam mendekati Deandra. "Ayo kita ke rumah sakit," ajaknya mengambil alih tas Deandra dari tangan Sari.


Sementara Sari dibuat cengo karena Deandra tidak mengucapkan apapun saat meninggalkannya. Kalau saja bukan karenanya Deandra terluka, pasti dia akan memaki wanita itu.


Deandra berjalan dengan pelan, karena gesekan celana jeans membuat kulitnya semakin terasa nyeri. Namun belum sampai ke mobil sudah ada yang mencegat mereka.


"Baby!" Azmi keluar dari mobil mendekati Deandra. Ia memerintahkan pengawalnya untuk mengurus pengawal wanita itu.

__ADS_1


"Om!" Kaget Deandra, belum sempat wanita itu protes Azmi sudah membopongnya ke mobil.


Azmi langsung meluncur ke kampus Deandra saat mendapat laporan ada yang mengusili gadis kesayangannya. Namun belum sampai dia ke kampus sudah mendapat kabar Deandra tersiram kuah bakso yang masih panas.


Dengan perlahan Azmi mendudukkan Deandra di kursi. "Cepat lepas celananya Baby, kulitmu nanti melepuh!" Titahnya.


Deandra menggeleng, tidak berani melakukannya. Dia tidak tahu kenapa Om Azmi masih bisa berkeliaran, setahunya Edric sudah menyekap Om Azmi. Dugaannya benar, mudah saja bagi pria seusia Dad Tian itu untuk lepas dari cengkraman Edric.


"Lepas sendiri atau Om yang melepaskan!" Tegas Azmi. Ia tidak bisa membiarkan kulit Deandra semakin terluka terkena gesekan celana jeans.


"Kita ke rumah sakit aja Om," tolak Deandra.


"Baby, kulitmu bisa matang kalau menunggu sampai rumah sakit." Beritahu Azmi dengan lembut agar gadisnya ini mau menurut. Namun Deandra tetap tidak mau mengikuti perkataannya.


"Om sudah memberitahumu dengan baik-baik!!" Azmi mengambil gunting, menggunting celana Deandra di bagian lutut.


"Om jangan!!" Rengek Deandra menghentikan tangan Azmi agar tidak menggunting celananya sampai paha.

__ADS_1


"Diam Honey, Om gak mau kulitmu melepuh tambah parah. Yang bagian ini saja biar gak melepuh," Azmi meyakinkan gadisnya sekali lagi. Tapi Deandra bersikeras tetap menolak.


"Buka pintunya!!" Edric menggedor pintu mobil di samping Deandra. Ia datang diikuti beberapa pengawal. "Kalau tidak mati si brengsek ini tidak akan berhenti berbuat ulah," umpatnya dalam hati.


__ADS_2