
"Edric!" Deandra membuka pintu dan tanpa sadar melompat keluar mobil seperti tidak sedang merasakan sakit, saking senangnya melihat Edric datang.
"Yes Sweetheart. Pelan-pelan, kakimu itu sedang sakit." Edric menyambut Deandra yang menghambur ke pelukannya. Bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan pada Azmi yang memberikan tatapan membunuh padanya.
"Ini hanya permulaan, aku akan membuat gadis kesayanganmu ini tak bisa berpaling dariku lagi!" Ucapnya dalam hati.
Azmi keluar dari mobil membanting pintu dengan kasar. Tidak suka melihat gadis kesayangannya memeluk pria lain.
"Baby!" Panggil Azmi dengan suara berat. Dua pria itu saling beradu tatapan mata. Sementara Deandra tidak berani bergerak dari pelukan Edric.
"Kita pulang," ucap Edric. Wanita itu mengangguk takut. Ia takut Om Azmi melukai Edric.
"Kau tidak bisa membawanya pergi dariku!!" Azmi mencengkram tangan Deandra yang mau dibawa Edric pergi. "Come on Baby," pria itu menatap netra gadisnya dengan lembut.
"Maaf," Deandra menggelengkan kepala dan berucap sangat pelan.
__ADS_1
Melihat penolakan Deandra kembali membuat Azmi murka. Ia menarik gadis itu namun kalah cepat dengan Edric yang sudah berhasil menggendong tubuh Deandra.
"Urus dia, jangan sampai mengganggu istriku lagi!" Perintah Edric pada pengawalnya. Ia tidak bisa membuang waktu meladeni Azmi. Pria itu dengan gagah menggendong istrinya ke mobil.
"Shiitt!" Umpat Azmi karena gagal membawa Deandra dan jadi repot mengurus pengawal Edric yang menyerangnya.
Sementara Edric sudah mengemudikan mobil seperti orang kesetanan. Hanya dalam waktu sepuluh menit mereka sampai mansion. Dengan hati-hati ia menggendong Deandra ke kamar.
"Lepas celananya pelan-pelan," Edric membantu Deandra melepaskan celana jeans ketatnya.
Edric mengambil gunting, memotong vertikal celana jeans Deandra. Setelahnya ia membawa sang istri ke bathroom dan mengaliri kulit yang melepuh dan kemerahan itu dengan air mengalir.
Setelah mengguyur hampir dua puluh menit kulit yang terkena air panas itu Edric membawa Deandra kembali ke kamar. Di dalam kamar Pak Man sudah menyiapkan salep dan obat untuk luka bakar.
Pria itu mengoleskan di kulit Deandra yang melepuh dengan pelan setelah membaringkannya. Sebisa mungkin otaknya tidak berpikiran mesum. Karena sejak tadi paha mulus satunya itu seperti memanggil-manggil minta dibelai.
__ADS_1
Deandra tidak bersuara apa-apa. Hanya menampakkan wajah datar.
"Wajahnya jangan ditekuk terus dong," Edric menepuk pipi Deandra seraya merapikan anak rambut ke belakang telinga wanitanya.
"Gara-gara pacar kesayangan kau itu aku jadi seperti ini," rengut Deandra merasa sangat tersiksa karena tidak bisa banyak bergerak. Bukan karena luka itu sangat sakit, tapi karena tidak bisa menggunakan celana. Otomatis dia tidak bisa keluar dari kamar.
"Ralat, bukan pacar lagi." Edric meluruskan, ia memang harus menjauhkan Deandra dari Alice. Pilihannya hanya dua, Deandra yang berhenti dari kampus itu atau Alice yang harus dia asingkan.
"Ck, sama saja!" Deandra berdecak, ulat bulu itu selalu membuatnya repot.
"Beda, aku tidak pernah berhubungan dengannya lagi." Ingin Edric membandingkan kasusnya dengan pria tua yang selalu mencari kesempatan itu. Tapi ia tidak ingin memancing emosi Deandra kembali.
"Jadi kau pikir aku masih berhubungan dengan Om Azmi!!" Tukas Deandra.
Edric menarik napas dengan kasar, dia tidak mengatakan apa-apa saja wanitanya ini sudah tersinggung. "Bukan kau, tapi pria tua itu yang selalu mencari kesempatan." Ucapnya dengan menangkup kedua pipi Deandra sambil mengelusnya lembut.
__ADS_1
"Sama saja, ulat bulu juga selalu mencari kesempatan!!" Deandra menghempaskan tangan Edric dari pipinya.