
"Ulat bulu kenapa bisa ada disini?" Deandra membelalakkan mata. "Dan Om Azmi?" Tanyanya dalam hati, istri Edric itu menarik Ellea untuk segera pergi.
"Kau tutup wajah saja, aku masih ingin melihat bagaimana cacing kremi itu menggoda om-om." Tolak Ellea karena penasaran dengan ilmu yang Alice gunakan untuk menjerat para pria tampan.
"Sangatlah tidak adil kalau wanita yang masuk dalam spesies Enterobius vermicularis itu berkeliaran dimana-mana. Tapi wajar sih, karena kacing kremi memang tersebar hampir di seluruh dunia." Celetuk Ellea dengan raut kesal.
"Astaga, kau menghina makhluk ciptaan Tuhan Elle. Dia itu bukan cacing kremi yang bisa menyebabkan infeksi usus. Tapi ulat bulu yang bikin aku elergi," sanggah Deandra.
"Ck, kau tidak sadar kalau juga sedang menghinanya," decak Ellea.
"Tidak. Aku tidak sedang menghinanya. Aku ini sedang kalah saing dengan ulat bulu, makanya frustasi. Kita tidak perlu sampai meliputnya kan?" Desis Deandra meninggalkan Ellea, daripada hatinya yang menjadi korban dan semakin alergi pada ulat bulu.
"Ish, kau ini. Ini kesempatan tahu, kita bisa menjadikannya sebagai bukti agar Edric membatalkan niatnya menikahi cacing kremi itu." Tukas Ellea, tidak mengerti dengan jalan pikiran Deandra padahal kesempatan bagus ada di depan mata.
__ADS_1
"Tidak perlu Elle, Edric bahkan sudah mengenal om-om itu." Ucap Deandra yang membuat Ellea menganga.
"Jangan bilang kalau itu om-om yang sangat kau cintai?" Tebaknya yang diangguki Deandra dengan lemas.
"Sungguh malang nasib percintaanmu!" Ujar Ellea, bukan rasa iba tapi lebih kepada ejekan.
Deandra menghela napas dengan kasar membenarkan perkataan Ellea. Nasib percintaannya memang sangat malang, setelah Edric mendeklarasikan diri ingin menikahi Alice. Sekarang wanita itu bersama Om Azmi. Harga dirinya terasa nyungsep, dia merasa kalah tanpa berperang dengan ulat bulu.
"Maaf saya tidak kenal anda!" Ucap Deandra dingin, menghempaskan tangan Om Azmi. Dia tidak ingin Alice besar kepala karena berhasil mengambil hati pria yang pernah bertahta di hatinya.
"Seriously kau tidak mengenal Om?" Azmi terkekeh kecil mengusap puncak kepala Deandra dengan sayang.
Pemandangan itu disaksikan Alice dan Ellea, tatapan penuh cinta yang pria dewasa itu pancarkan.
__ADS_1
Sejenak Deandra tidak menjawab, Om Azmi selalu bisa membuat dirinya merasa nyaman. Andai pria yang menjadi suaminya itu orang yang dulu sangat ia cintai ini. Tapi dia tidak boleh berandai-andai karena jodohnya sudah tertulis dan itu takdir hidupnya.
"Tentu saja!!" Wanita itu menyingkirkan tangan Azmi dari kepalanya lalu berjalan menjauh dengan ekspresi yang tidak terbaca.
Tentu saja Ellea mengejar kakak iparnya. Setelah bertemu dengan pria dewasa yang memanggil Deandra Baby itu, ia bisa memastikan kalau posisi Edric sedang terancam. Entah kenapa hatinya tidak rela. Walau dia yang memberikan ide untuk Deandra meninggalkan Edric, tetap saja Ellea sangat mencintai kakaknya itu. Dia membawa Deandra pergi hanya untuk membuat Edric sadar kalau mencintai Deandra. Bukan untuk membuat kakak iparnya kembali dalam pelukan cinta pertamanya.
"Kau boleh tidak mengenal Om, tapi Om mengenalmu." Mudah bagi Azmi untuk mengejar langkah gadis kesayangannya. Ia menarik tangan Deandra sampai menabrak dada bidangnya.
"I miss you Honey, I really miss you." Bisik Azmi di telinga Deandra yang sudah berhasil masuk dalam dekapannya.
Deandra membeku tapi hatinya meleleh. Setiap berada dalam pelukan Om Azmi kenapa hatinya selalu jadi melankolis. Ada rasa ingin mengadukan seluruh rasa sakitnya pada pria dewasa ini.
"Excuse me Uncle, anda salah orang. Dia ini kakak ipar saya, dan tolong jaga sikap di tempat umum karena anda sedang membawa istri. Jangan sampai ada yang mengira kakak ipar saya seorang pelakor." Ellea berujar dengan penuh penekanan, sengaja untuk menyindir Alice. Ia menarik Deandra sampai terlepas dari pelukan om-om itu.
__ADS_1