Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 35


__ADS_3

"Ron, kau sudah meminta supir mengantar Dea ke rumah sakit?" Tanya Edric tanpa mengalihkan pandangannya dari ipad. Ia sedang menuju kantor Hansel group, kemungkinan sampai malam baru pulang ke apartemen.


Tadi pagi kaki Deandra masih bengkak. Dia khawatir gadis itu kesulitan berjalan di kampus.


"Sudah Tuan, sekarang Nyonya sudah pulang ke apartemen." Jawab Ron sambil menyetir.


"Kau perintahkan pengawal menjaga istriku dengan baik. Jangan sampai manusia brengsek itu membawa kabur lagi!"


Mengingat perbuatan si manusia brengsek itu membuat kepala Edric mendidih panas.


"Siap Tuan, akan saya laksanakan."


"Kerjakan Ron, jangan siap-siap saja!!! Sekali lagi kau membuat kesalahan akan ku tenggelamkan di sungai Nil!" Ancam Edric, karena sangat tahu asistennya itu takut air dan tidak bisa berenang.


"Baik Tuan." Ron bergidik ngeri membayangkan dirinya tenggelam. Jangankan tenggelam melihat aliran air sungai yang deras saja dia ketakutan karena tidak bisa berenang.


Apalagi sungai Nil yang merupakan salah satu sungai berbahaya dan terpanjang di dunia. Aliran airnya melewati sebelas negara, selain panjang sungai Nil juga menjadi tempat berkembang biaknya sejumlah hewan mematikan.

__ADS_1


"Kau kenapa?" Edric melirik ke arah asistennya yang memucat.


"Aku membayangkan diterkam buaya sungai Nil yang dapat bergerak sekitar 30 mil per jam dan telah membunuh kurang lebih 200 orang per tahun." Sahut Ron lemas dengan satu tarikan napas.


"Makanya jangan berani membangkang lagi. Kalau tidak, kau langsung ku kirim ke Mesir. Apalagi sampai mengadu pada Dad Harry masalah rumah tanggaku!!" Tegas Edric dengan raut dingin, menandakan dia sedang serius.


Dalam hatinya ingin sekali mentertawakan asisten bodoh yang sayangnya pintar itu. Ron menganggukkan kepala semakin lemas.


Sampai malam Edric berada di kantor Hansel group. Saat pulang ke apartemen Deandra sudah tertidur. Setelah membersihkan diri ia mendatangi kamar Deandra.


"Kau itu sangat cantik walaupun kadang judes," Edric tersenyum membelai lembut pipi Deandra yang tidak pernah dia manjakan. Tidak dapat dipungkiri ada rasa bahagia ketika mengingat gadis itu mempertanyakan kenapa dia ingin mencari kekasih dan tidak belajar mencintainya saja.


"Ed, sudah pulang?" Deandra bangun dengan mata yang masih mengantuk, bersandar di headboard. Dia baru saja memejamkan mata, karena menunggu Edric tidak pulang-pulang akhirnya tidur duluan.


"Kalau aku disini berarti sudah pulang, kau ini bertanya hal yang bodoh!" Edric menyentil pelan kening Dea. Hilang sudah niatnya yang tadi ingin romantis.


"Kau ini sehari saja tidak menyiksaku tidak bisa ya?" Sungut Deandra ngegas sambil mengusap keningnya.

__ADS_1


"Kau ini kalau tidak bikin kesal satu hari saja bisa tidak?" Balas Edric tidak mau kalah.


"Aku ngantuk," Deandra beringsut kembali merebahkan tubuhnya daripada buang-buang energi meladeni Edric.


"Hei, aku belum selesai bicara!!" Seru Edric menarik selimut Dea.


"Hm," jawab Dea malas.


"Sekarang saatnya penilaian," Edric memaksa Dea bangun dan membawa berpindah ke kamarnya.


"Ed kau mau apa?" Rengut Dea masih belum connect dengan apa yang Edric katakan barusan.


"Katanya mau aku jatuh cinta, sekarang aku akan memberikan penilain padamu. Kau pantas atau tidak untuk membuatku jatuh cinta." Edric tersenyum licik mendudukkan Dea di tempat tidurnya.


Deandra membulatkan mata, menyadari apa maksud Edric membawanya ke kamar. Lidahnya tercekat untuk melakukan protes. Jangankan protes, untuk menelan saliva saja susah. Jantungnya sudah main kejar-kejaran.


"Kau kenapa pucat, kan sudah berpengalaman!" Ledek Edric menuntun Deandra untuk berbaring.

__ADS_1


Deandra merasakan lututnya lemas dan jantungnya seakan berhenti berdetak saat Edric membaringkannya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya karena dia tidak bisa melakukan perlawanan.


__ADS_2