
"Oh Tuhan," pria itu mengusap wajah gusar. "Terserah kau saja Sweetheart," ujar Edric lelah menghadapi ibu hamilnya ini.
"Daddy merajuk!" Seru Deandra tertawa geli menciumi pipi sang suami setelah berhasil membuat prianya emosi.
"Sayang, jangan mengerjaiku seperti ini. Aku pusing menghadapi kau yang selalu merajuk tidak jelas." Ungkap Edric jujur, balas menciumi pipi Deandra sambil mengunyel-unyelnya gemas. Ingin marah tapi tidak bisa.
"Aku merajuk karena kau itu sangat menyebalkan!" Deandra berpindah duduk ke pangkuan sang suami.
"Aku ini tampan, menyebalkan dari sisi yang mana Sayang?" Edric mengerutkan kening menggoda.
"Ish, kau ini tidak ada tampan-tampannya." Seru Deandra memegangi dagu Edric, lalu mengarahkan ke kanan dan kiri sambil mencebikkan bibir.
"Jadi suamimu ini jelek?" Tanya Edric yang dijawab Deandra cepat, "tidak."
"Lalu?" Pria itu menaikkan sebelah alis menunggu jawaban.
__ADS_1
"Kau tidak tampan, tapi sangat tampan." Ujar Deandra menggoda dengan mata mengerling genit.
"Hm, tampan mana antara aku dan Dad Tian?"
"Jelas tampan Dad Tian," jawab Deandra dengan yakin membuat si empunya melotot tajam.
"Eh tampan suamiku ini," ralat Deandra dengan tawa gelak.
"Berani kau bilang aku tidak tampan, kupecat kau jadi istri!" Seru Edric menciumi gemas pipi Deandra. Wanitanya ini selalu membuat tangannya gatal ingin mengunyel-unyel.
"Ku pecat juga kau jadi suami dan Daddy," balas Deandra tidak mau kalah. Memainkan alisnya turun naik.
"Tentu saja, kami berdua sedang kau sendirian." Wanita hamil itu tersenyum penuh kemenangan, mengalungkan tangannya ke leher sang suami.
"Tidak apa Daddy mengalah, asal kalian jangan rewel terus." Ujar Edric mengecup lama di kening sang istri.
__ADS_1
Ya, sekarang dia lebih memilih mengalah daripada melampiaskan emosinya pada Deandra. Karena ada saja tingkah ibu hamilnya ini yang membuat kesal setiap hari.
...🌹🌹🌹 ...
"Damn it!" Umpat Azmi karena tidak memiliki kesempatan lagi untuk bertemu Deandra. Gadis kesayangannya itu tidak pernah berpisah dari Edric, membuat hatinya panas saja.
Hatinya tambah mendidih saat mengetahui Deandra tengah hamil muda. Ia bisa tidur dengan banyak wanita, tapi hanya satu gadis yang diinginkannya. Deandra Adley, gadis yang sudah menarik perhatiannya sejak berusia dua belas tahun. Gadis itu sudah membuatnya tidak bisa berpaling ke lain hati.
"Bawa adik Edric kemari, jadikan sebagai sandera!" Perintah Azmi pada anak buahnya melalui sambungan telepon. Gara-gara gadis itu ia kehilangan Deandra, padahal sedikit lagi dia bisa memiliki gadis kesayangannya.
"Dan kau!" Azmi menatap tajam pada Alice yang terus menunduk, tidak berani buka suara sedikitpun. "Aku memerintahkan kau untuk membuat Edric kembali padamu. Kenapa kau malah kembali pada Jovie!" Teriaknya murka.
Alice yang diteriaki hanya diam sambil memainkan ujung kemeja dengan tangan bergetar ketakutan.
"Kau tidak punya mulut, hah!" Azmi semakin murka melihat Alice yang tidak menjawab. Pria itu mencengkram rahang Alice dengan kuat sampai si empunya meringis kesakitan. Ia baru tahu sisi kejam pria yang mengamuk di hadapannya ini.
__ADS_1
"Kalau mendapat tugas kau harus mengerjakannya dengan benar, mengerti!" Teriak Azmi melepaskan tangannya dari rahang Alice yang memerah saat wanita itu mengangguk mengerti.
Azmi tidak terima kekalahan ini. Dengan cara apapun ia harus bisa memiliki Deandra. Tidak peduli kalau gadisnya itu sudah berpindah kelain hati. Cepat atau lambat ia akan membawa Deandra hidup bersamanya.