
"Kau sudah makan?" Ron menjemput Ellea di cafe tempat gadis itu bekerja.
"Sudah," bohong Ellea padahal dia tidak punya pegangan uang lagi. Tadi pagi tidak ke kampus jadi tidak dapat uang saku dari Ron. Semua kebutuhannya pria itulah yang mengaturnya.
"Jangan bohong, darimana kau punya uang?" Selidiknya seraya membukakan pintu mobil.
"Uang sisa kemarin," jawab Ellea asal.
Pria itu berdecak, uang seratus ribu cukup apa. Ya, Ellea dibatasi hanya dikasih uang saku seratus ribu sehari. Untuk gadis seperti Ellea uang satu lembar itu tidak ada artinya.
"Berhenti berbohong atau aku lapor Edric, kau tidak akan bisa bekerja lagi!"
"Ron, kau juga mau ikutan jahat padaku. Kalian itu memang sesuka hati, lebih baik aku jadi gembel saja sekalian." Kesal Ellea, sudah tahu dia tidak punya uang malah ditanyain makan.
__ADS_1
"Itu karena kau susah diatur!!" Sahut Rom geram, dia tidak suka Ellea bekerja sambil kuliah.
Sang gadis tidak menanggapi. Tubuhnya sudah lelah, jadi malas berdebat.
Dulu hidupnya tidak semenyedihkan ini, apapun yang diinginkan selalu bisa terbeli. Tapi sekarang sudah berbeda. Untuk makan saja ia harus berhemat, tidak bisa makan di restoran lagi. Mau bagaimanapun tetap saja dia yang salah. Di apartemen Edric ia hanyalah menumpang, sedang di mansion sudah terusir. Kemana lagi ia harus mengadu kalau Ron ikut-ikutan mengatur hidupnya.
"Aku cuma bercanda," ucap Ron saat melihat raut sedih Ellea. "Kita makan dulu baru pulang, malam ini Edric tidak pulang ke apartemen." Pria itu mencari restoran terdekat.
Ellea tidak menjawab, mengikuti saja apa yang sudah Ron atur.
Ellea yang baru keluar dari mobil mematung, sudah lama dia tidak melihat wajah Jovie walau hanya lewat foto. Karena ponselnya dipegang Ron.
"Hai Baby," Jovie tersenyum menepuk pipi gadis yang menatapnya kosong. Gadis yang mengacaukan pikirannya akhir-akhir ini. Ia sudah menolak apa yang dirasakannya ini, tapi hatinya semakin rindu. Bahkan Alice yang kembali padanya tidak mampu mengobati rasa rindunya pada Ellea.
__ADS_1
"Lea ayo kita makan," Ron sengaja memanggil Ellea seperti itu untuk mempertegas kalau dia tidak hanya sebagai pengawal.
Ellea yang sudah sadar dari keterkejutannya mengangguk kecil, mengambil tangan Ron untuk digandeng. Walau sangat merindukan pria itu tapi dia tidak boleh gagal move on. Rasanya Ellea ingin berlari ke dalam pelukan Jovie melepaskan seluruh rasa rindu yang terpendam.
"Elle," Jovie menahan tangan kiri Ellea. Selama ini dia berusaha mengabaikan apa yang terjadi pada Ellea walau tahu kalau gadis itu sedang dihukum Edric karena dirinya.
"Lepaskan!" Ron menatap Jovie dengan kilat marah, tangannya mencengkram pria itu agar melepaskan tangan Ellea.
Bukan melepaskan, Jovie malah semakin kuat menggenggam tangan Ellea. Sang gadis sampai meringis kesakitan, tangannya bisa remuk kalau dibiarkan.
"Sakit, kalian kenapa seperti anak kecil. Ini tangan bukan kayu!!" Geram Ellea, Ron dan Jovie sontak melepaskan tangan sang gadis bersamaan.
"I'm Sorry Baby," Jovie lebih dulu mengambil tangan Ellea lalu mengelus-elusnya.
__ADS_1
"Lea kita makan," Ron menarik paksa Ellea untuk mengikutinya. Dia tidak ingin gadis itu kembali luluh pada Jovie. Kalau itu terjadi, perjuangannya mendapatkan hati sang gadis akan sia-sia.
"Elle akan ikut denganku!" Jovie menarik Ellea yang ingin mengikuti Ron dalam pelukan. Dia tidak akan membiarkan gadisnya ini lepas dari pelukannya.