
"Edric ada apa?" Cemas Deandra pada sang suami yang masuk ke kamar langsung memeluknya. Ia dapat melihat mata Edric yang memerah.
"Daddy tidak sakit parah seperti di sinetron-sinetronkan? Atau Daddy habis ditipu orang? Atau Daddy?" Deandra langsung menutup mulut saat pikiran liarnya dengan lancang membayangkan Dad Harry sedang mengalami sakaratul maut.
"Sayang," Edric mengguncang-guncang tubuh Deandra dengan pelan lalu menyentil di kening. Kesal pada pertanyaan random sang istri yang merusak suasana.
"Jangan kebanyakan nonton drama yang bikin bodoh Sweetheart. Aku tidak mau anakku jadi bodoh karena Mommy-nya terlalu banyak menonton drama yang tidak jelas."
"Kau belum menjawab pertanyaanku Edric!" Wanita hamil itu menatap sang suami tanpa berkedip.
"I love you full Sweetheart," jawab Edric diikuti kecupan pada seluruh wajah Deandra yang sudah membuatnya kesal sekaligus gemas.
"Ish, aku tahu kau sangat mencintai aku yang cantik, sexy dan buncit ini Edric. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku dengan baik dan benar. Daddy kenapa? Dan kenapa matamu ini memerah. Kau sakit mata atau kelilipan mantan!" Pertanyaan terakhir Deandra ucapkan dengan nada naik satu oktaf.
"Hmmm," Edric memilih berdehem daripada bingung harus memberikan jawaban yang bagaimana.
"Jawab Edric, jawab!" Seru Deandra mendorong-dorong bahu prianya.
"Pertanyaannya cuma satu, tapi kenapa anaknya banyak banget ibu dosenku yang cantik." Rayu Edric, lebih baik mengalihkan pembahasan daripada membahas mantan.
__ADS_1
Atmosfernya sudah berubah jadi hawa-hawa panas. Mending kalau panas karena pergulatan panas mereka. Lah ini panas karena perihal mantan yang tidak akan kunjung selesai walau dibahas satu malam.
"Edric, aku sedang tidak ingin mengalihkan hujan dengan bantuan pawang hujan!" Seru Deandra dengan nada ketus saat Edric mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada Sayang, aku hanya terharu pada Daddy jadi mataku merah." Jujur Edric saat bendera perang mulai berkibar.
"Kau tidak bohong?" Selidik Deandra dengan mata menyipit.
"Tidak Sayang."
"Yakin? Kau tidak mau mengatakan padaku kenapa Daddy memanggilmu?" Tekan Deandra.
Edric hanya bisa mendesah berat, istrinya ini tidak akan berhenti berkoar-koar sebelum semua pertanyaannya dijawab sesuai jawaban yang diinginkannya.
"Wijaya Group?" Tanya Deandra dengan pupil mata lebar.
"Kau tahu Wijaya Group?" Edric malah balik bertanya. Ia memang menyelidiki perusahaan itu tapi tidak ada yang aneh. Pemiliknya hanya seorang pria tua.
"Tentu saja, Wijaya Group itu perusahaan keluarga Om Azmi yang dulu sempat di besarkan Om Erfan sahabat Dad Tian." Beritahu Deandra yang membuat Edric mengerti kenapa Alice bisa menjadi tangan kanan Wijaya Group.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau menolak kerjasama dengan Wijaya Group?" Tanya Deandra heran, padahal tadi siang Edric sangat bersemangat ingin bertemu perwakilan perusahaan itu. Sampai ia dititipkan di mansion Dad Tian.
"Karena yang datang mewakili perusahaan itu Alice," jawab Edric dengan sejujurnya.
Mendengar nama wanita itu disebutkan membuat wajah Deandra berubah merah padam. Dengan segala praduga dalam hatinya, dari Edric yang tidak mau membawanya ke kantor sampai pembatalan kerjasama itu.
"Kau senang bertemu dengannya kan?"
"Sayang aku menolak kerjasama ini karena tidak ingin kau salah paham." Sahut Edric cepat menarik Deandra dalam pelukan, takut macan betinanya meronta-ronta.
"Bohong, kau senang bertemu dengannya kan? Dia masih langsing, cantik dan menggoda. Apalah aku yang sudah sudah buncit ini. Dia sudah jadi sarjana sedang aku kuliah saja belum lulus. Kau mau bebas bertemu dengannya diluar sana kan, jadi pura-pura tidak menerima kerjasama dengannya agar aku tidak curiga." Tuduh Deandra diikuti tangisan kesal.
"Sayang, Sayang. Tidak seperti itu Sweetheart," Edric membiarkan saja Deandra meluapkan emosi dalam pelukannya.
Dia yang sudah menolak kerjasama saja masih tertuduh, apalagi kalau mereka sering bertemu. Edric mengulum senyum, bahagia dengan cemburunya Deandra yang berarti sang istri sangat mencintainya.
"Walau kau sedang mengandung kau masih sangat cantik Sayang. Dan walau bukan sarjana kau tetap istriku yang pintar," tutur Edric untuk menyenangkan hati wanitanya.
"Benarkah?" Tanya Deandra antusias, menghapus jejak air matanya dengan kasar.
__ADS_1
"Tentu saja, kau yang paling cantik di hatiku ini. Cintaku, sayangku." Ucap Edric seraya melabuhkan kecupan di kening dan seluruh wajah Deandra.
"Selamat, selamat." Batinnya saat berhasil menjinakkan sang istri.