
Edric berkonsentrasi pada berkas-berkas yang berserakan di depannya. Ia sedang berada di kantor Richland Group. Pikirannya terbagi karena harus bertanggung jawab pada Hansel Group. Apalagi sekarang tidak ada Dad Harry di Indonesia. Inilah konsekuensi yang harus diterimanya saat menentang keinginan Dad Harry.
Dad Harry tidak suka jika ia membangun perusahaan sendiri. Bukan orang lain yang menjadi musuh bisnisnya, tapi Dad-nya sendiri. Dengan terpaksa Edric menuruti keinginan Dad Harry untuk memimpin Hansel group, agar sang daddy berhenti mengganggu perusahaannya yang masih merangkak. Tapi lagi-lagi Dad Harry bertindak sesuka hati. Memaksanya harus menikah jika ingin dua perusahaan itu aman di tangannya dan ia tidak dikeluarkan dari kartu keluarga.
Dengan helaan napas berat Edric menandatangani berkas-berkas di depannya. Ia harus mencari investor minggu-minggu ini agar Richland group yang sedang berada di ujung tanduk bisa diselamatkan.
Dad Harry terkesan tidak peduli padanya, saat ia mendapatkan masalah seperti ini mereka malah pergi. Padahal dia perlu berfokus pada Richland group untuk sementara waktu.
"Tuan, lusa anda harus bertemu investor di Singapura." Ron masuk ke ruang atasannya, membacakan agenda pertemuan penting dalam seminggu ke depan.
"Kau sudah mengurus bajingan itu?" Netra Edric beralih dari berkas yang dibacanya menatap sang asisten dengan tajam.
"Sudah Tuan, sekarang sedang ditahan di markas."
Edric mengangguk kembali pada berkas di hadapannya, "berapa hari kita harus ke Singapura?"
"Dua hari, setelahnya kita lanjut ke Inggris."
__ADS_1
Pria beristri itu menghela napas dengan berat, tidak mungkin dia membawa Deandra untuk urusan pekerjaan. Sedang wanitanya itu harus kuliah.
"Kau urus semuanya, dan berikan pengawal khusus untuk Elle dan Dea selama aku tidak ada di Indonesia."
Ron berdehem kemudian berucap pelan, "boleh saya yang mengawal Nona Ellea Tuan."
"Kau mau jadi pengawal Elle?" Edric menyandarkan punggung di kursi dan menatap Ron dengan tajam.
"Tii-dak Tuan," jawab Ron lebih sayang nyawa. Bagaimana ia berani terang-terangan mendekati Nona Ellea kalau kakaknya seperti singa. Belum lagi Tuan Harry Hansel yang lebih menyeramkan.
"Benarkah? Saya mau Tuan." Jawab Ron cepat dengan perasaan bahagia.
"Bersiaplah," ucap Edric singkat.
"Baik Tuan," Ron tidak dapat menggambarkan kebahagiaan hatinya. Setelah ini dia bisa pendekatan dengan Nona Ellea dan mengambil hatinya.
"Bersiaplah, kau akan ku tenggelamkan ke sungai Nil!!" Ucap Edric dingin kembali berkutat dengan berkas-berkasnya.
__ADS_1
Ron seketika itu juga memucat, "dasar bos tidak ada akhlak!!" Umpatnya dalam hati.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Edric dengan ekor mata menghunus tajam karena Ron tidak juga keluar dari ruangannya.
"Tidak Tuan, saya permisi." Ujar Ron lemas meninggalkan ruangan tuannya yang tidak memiliki perasaan.
Jangan berharap pria blasteran itu memikirkan perasaan orang lain. Saat ini ia tidak memiliki waktu untuk itu. Berjam-jam Edric tenggelam dengan pekerjaannya, menyiapkan materi presentasi untuk menarik perhatian para investor.
Pukul empat sore Edric meninggalkan kantor RG untuk menghadiri meeting di Hansel Group. Sampai larut malam ia berkutat dengan laporan-laporan perusahaan.
"Tuan sudah jam sepuluh lewat lima menit," beritahu Ron yang duduk di meja pojok ruangan sambil memeriksa berkas sebelum diserahkan pada sang bos dengan mata mengantuk.
"Kita pulang," Edric menutup laptop setelah melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Ia sampai lupa waktu karena terlalu sibuk.
Ron mengangguk menyiapkan perlengkapan Tuan Edric yang akan dibawa pulang. Termasuk berkas-berkas yang belum selesai diperiksa.
"Alhamdulillah," gumam Ron dalam hati. Badannya sudah lengket dengan kepala memanas. Mana punya waktu ia untuk memikirkan masalah percintaan. Baru punya kesempatan ingin melangkah maju langsung terpatahkan.
__ADS_1