
"Brengsek Jovie!" Umpat Edric saat menerima kabar dari anak buahnya kalau Ellea dibawa paksa Jovie. Tanpa sadar suaranya membangunkan bayi besarnya yang baru saja terlelap.
"Edric berisik!" Deandra membekap mulut sang suami menggunakan tangannya dengan mata yang masih terpejam.
"De tanganmu bekas iler, jorok!" Edric menyingkirkan tangan Deandra dari mulutnya, dengan usil menempelkan tepat di hidung sang istri.
"Edric!!" Pekik Deandra membuka mata sambil mencubit tangan sang pria. "Kau mau membuatku mati, hah!" Serunya dramatis setelah menyingkirkan tangan Edric yang menahan tangannya. Padahal pria itu hanya menempelkan tangan saja tidak menekannya.
"Uh dramaqueen," mencubit pelan hidung Deandra. "Ayo kita jemput Aunty Elle," ajaknya setelah mengecup di perut menyapa sang calon buah hati.
"Beneran?" Tanya Deandra dengan wajah berbinar langsung melompat dari kursi.
"Pelan-pelan Sweetheart!" Pekik Edric menahan Deandra agar baby yang masih dalam rahim istrinya itu tidak kesakitan.
"Kau ini tidak bisa hati-hati kalau Baby terjatuh bagaimana!" Omel Edric yang membuat Deandra membulatkan mata sambil mengelus perutnya.
"Baby bisa terjatuh?" Tanyanya polos yang diangguki Edric.
"Makanya harus hati-hati. Kalau Baby jatuh nanti Momnya menangis, susah dibujuk." Sindir Edric, selalu kewalahan kalau menghadapi Deandra yang sedang rewel. Untung ia paham kalau sang istri rewel karena bawaan janin dalam kandungannya.
__ADS_1
"Edric, kau bilang aku cengeng!" Seru Deandra cemberut.
"Hei, aku tidak bilang kau cengeng!" Sela Edric cepat sebelum bayi besarnya mengamuk.
"Tadi kau bilang apa!!"
"Itukan Baby Sayang, bukan kau. "Ayo kita berangkat," Edric cepat mengalihkan perhatian Deandra. Merangkul bahu ibu hamilnya dengan mesra.
Sesampainya di apartemen Jovie, apartemen itu di jaga ketat para pengawal. "Buka pintunya!" Perintah Edric, tidak ingin membuat keributan karena sedang membawa Deandra. Apalagi wanitanya itu sedang hamil muda.
"Maaf Tuan, tidak ada yang boleh masuk!" Cegah anak buah Jovie yang berdiri tepat di depan pintu.
Sementara di dalam apartemen, Jovie yang sedang mengikat tangan Ellea dengan dasi berdecak mendengar suara bel yang tiada henti.
"Jovie lepaskan, aku ini bukan binatang peliharaan!!" Teriak Ellea mencoba melepaskan diri dari ikatan yang Jovie buat.
"Kalau kau menurut aku tidak akan membuatmu seperti ini," Jovie terpaksa mengikat Ellea agar tidak berpikir untuk melarikan diri lagi.
"JOVIE AKU BENCI KAU!!!" Teriak Ellea menggelegar, kenapa perasaannya harus dipermainkan seperti ini. Kalau Jovie tidak menginginkannya, kenapa harus memaksanya untuk ikut.
__ADS_1
"I'm sorry Baby, apapun yang kau mau akan aku turuti asal jangan menghindar dariku lagi." Lirih Jovie, memeluk Ellea tanpa melepaskan ikatan tangannya. Mengabaikan suara bel yang terus berbunyi.
"Kau tidak boleh lemah. Kau Ellea Hansel. Tidak boleh terluka oleh orang yang sama lagi! Tanpa cinta pun kau masih bisa hidup!" Teriak Ellea mengingatkan dirinya sendiri. Tidak boleh terlena oleh rasa nyaman yang pria ini berikan. Tapi sayang, hati dan pikirannya bekerja berlainan arah. Pikirannya mengatakan untuk cepat berlari menjauh, sedang hatinya ingin tetap tinggal. Menikmati pelukan dari pria yang sangat diinginkannya.
"Aku tahu kau nyaman dalam pelukanku," bisik Jovie saat Ellea berhenti memberontak.
Suara sensual itu membuat jantung Ellea berdebar-debar dengan detakan yang lebih cepat. Sial, reaksi tubuhnya tidak bisa berbohong, pipinya merona merah apalagi saat Jovie semakin mendekati wajahnya sampai dapat merasakan napas pria itu, tubuhnya dibuat semakin ingin dimanjakan.
Beberapa detik kemudian.
"Arrkh!!" Pekik Jovie saat Ellea menggigit hidungnya. "Kau, nakal ya!!" Geram Jovie menghempaskan tubuh sang gadis ke tempat tidur dengan pelan lalu menindihnya.
"Kak Jo, kau mau apa?" Teriak Ellea ketakutan.
"Apa aku harus melakukannya sekarang agar kau tidak nakal lagi, hm?" Bisik Jovie yang hanya ingin menakut-nakuti Ellea. Gadis itu menggelengkan kepala semakin ketakutan.
"Jangan Kak Jo, please jangan!" Mohon Ellea dengan air mata beruraian.
"Diamlah, kalau kau tidak ingin aku terpaksa melakukannya." Pria itu cepat menyeka air mata Ellea, lalu mengecupinya di pipi.
__ADS_1
Ellea hanya bisa diam menurut, dengan perasaan yang tak bisa terlukiskan. Karena pria ini hidupnya menderita dan sekarang? Entahlah. Percuma saja dia melawan takdir yang membuatnya semakin sengsara.