
"Hai gadis kecil," sapa Azmi pada Ellea dengan senyuman yang sangat manis.
"Gila, senyumannya bisa menghipnotis pantas saja Dea tergila-gila!" Decak Ellea dalam hati, berusaha menjaga otaknya agar tetap waras.
"Terima kasih sudah membawa kakak iparmu kabur," bisik Azmi tepat di telinga Ellea dengan seringaian tipis.
Hembusan napas pria dewasa itu menyapa lehernya. Membuat Ellea menegang, namun gadis itu masih bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Yeach you're welcome, memang sudah seharusnya anda berterima kasih pada saya karena sudah membawa Dea kabur dari buaya bodoh itu dan bertemu dengan buaya kesepian seperti Uncle." Sarkas Ellea dengan berani tanpa takut menatap tajam om-om yang penuh pesona itu.
Azmi mengernyitkan alis, dia suka dengan keberanian gadis di depannya ini. "Sangat bodoh lelaki yang sudah menolak cintamu," ujarnya menepuk pipi Ellea pelan.
Deandra menghela napas berat, khawatir Om Azmi menyakiti Ellea. Si empunya mana peduli, gadis itu tersenyum dengan angkuh.
"Seluruh dunia pun tahu kalau dia itu bodoh. Sampai mengejar mati-matian cacing kremi. Dan Uncle juga sama bodohnya." Ellea mengibaskan rambut meninggalkan Azmi yang dibuat melotot.
Sementara Alice ingin sekali mencakar wajah angkuh yang sedari tadi menyindirnya.
__ADS_1
Deandra sampai menahan napas mendengar kata-kata pedas yang keluar dari bibir mungil Ellea. Gadis itu seperti tidak mengenal rasa takut.
"Kau gila, jangan cari masalah dengannya!!" Peringat Deandra setelah mereka sampai di mobil.
"Aku tidak takut!" Jawab Ellea acuh.
"Kau mungkin tidak takut, tapi perbuatan kau ini bisa berimbas pada Edric!!" Deandra sangat tahu bagaimana kejamnya Om Azmi. Pria dewasa itu hanya bersikap lembut kepadanya, tapi di belakangnya sangatlah mengerikan.
"Lebih bagus kalau Edric yang terkena imbasnya!!" Seru Ellea dengan gelak tawa. Dia sangat senang kalau bisa melihat kakaknya itu tersiksa.
"Mana mungkin aku mau kakakku tersayang itu celaka. Emang apa yang bisa om-om itu lakukan," decak Ellea.
Istri Edric itu menghela napas lelah, baru seharian penuh bersama Ellea sudah membuat otaknya pening.
"Tidak ada gunanya aku menjelaskan padamu, kau tidak akan mengerti juga!"
"Aku ini bukan orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa!!" Pekik Ellea geram.
__ADS_1
"Sttt," Deandra menempelkan jari telunjuknya di bibir Ellea. Kepalanya semakin pusing mendengar suara cempreng adik iparnya itu. Walaupun umur mereka hanya selisih beberapa bulan tapi bisa dilihat kalau Deandra lebih dewasa dibanding Ellea.
"Jalan Pak," suruh Deandra pada Pak supir agar membawa mereka pulang ke villa. Ia tahu Om Azmi tidak akan melepaskannya begitu saja. Tapi setidaknya villa lebih aman daripada dia berada di luar.
"Kita ke mall dulu sebelum pulang," pinta Ellea.
"No, kita langsung pulang. Edric bisa dengan mudah menemukan keberadaan kita kalau terlalu lama berada diluar villa."
"De, aku belum puas jalan-jalan. Gara-gara Om kau itu kita jadi pulang sebelum waktunya."
"Kau itu lupa ya kalau kita ini borunan. Lebih baik kita kembali saja ke mansion kalau kau mau berkeliaran," ujar Deandra lelah.
"Baru sehari masa kita sudah pulang, bukannya Edric sadar yang ada dia malah tertawa," desis Ellea.
"Edric sedang mencari Alice, kalau anak buahnya menemukan ulat bulu itu disini kemungkinan persembunyian kita juga bisa ketahuan jika tetap berkeliaran," Deandra memberikan pengertian pada adik iparnya. Wanita itu menyandarkan punggung sambil memejamkan mata.
"Dasar cacing kremi, menyusahkan saja!! Aku kesini mau bersenang-senang malah terkurung di villa!" Umpat Ellea yang hanya didengarkan Deandra.
__ADS_1