Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 199


__ADS_3

Ballroom hotel dihebohkan dengan menghilangnya Ron yang tadi sedang menyapa rekan-rekannya. Acara penyematan cincin tertunda karena tidak ada pihak pria.


Deandra yang membawa sang putri kembali ke ballroom ikut memasang wajah kebingungan. Tidak lama setelahnya Edric dan Jovie menyusulnya.


"Ulah kalian nih," sindir Deandra. Memberikan putrinya yang mengantuk pada sang suami.


"Kok kami?" Sahut Jovie pura-pura bodoh. Mengambil segelas air lalu duduk sambil mengamati disekitarnya.


"Terus siapa lagi? Aku." Judes Deandra, "kalian bisa mempertemukan mereka sebelum ini tapi malah membiarkannya bertengkar disini."


"Bukan bertengkar Sayang. Elle lari dan Ron mengejar, salahnya dimana. Lagian kalau diajak ketemuan, bicara baik-baik emang Elle mau." Ujar Edric yang membuat Deandra terdiam dengan wajah cemberut.


Demi untuk mengimbangi suasana ballroom yang heboh, dua pria itu ikut menyapa orang-orang yang mereka kenal.


Sementara di luar hotel Ron masih mengikuti Ellea. Gadis itu sudah kelelahan berlari, berjalan pun tertatih-tatih karena tidak menggunakan alas kaki.


"Capekkan, lari-lari sih. Kita bisa bicarakan ini sama-sama, gak perlu kabur-kaburan." Ron mengeluarkan kunci mobil di saku jas. Lalu membawa Ellea yang sudah tidak memberontak lagi ke mobil.


"Udahan nangisnya dong," Ron tersenyum geli melihat wajah berantakan Ellea. Pria itu menggelung rambut sang gadis lalu melepaskan jasnya dan menyampirkan di bahu Ellea yang terbuka.


"Sakit," rengek Ellea menunjuk kakinya dengan suara serak karena kebanyakan menangis.


"Sini aku lihat," dengan sabar Ron mengangkat kedua kaki Ellea ke pangkuannya lalu membersihkan dengan tisu. Ia sudah paham dengan tingkah manja gadisnya ini jadi tidak kaget lagi.

__ADS_1


"Masih marah?" Tanya Ron gemas setelah selesai membersihkan kaki gadis itu.


"Masih!!" Seru Ellea membuang wajah cemberut.


"Aku antar pulang, kita bicara kalau kau sudah berhenti marah." Ron menyalakan mobil, tidak ada gunanya mengajak bicara wanita yang sedang emosi. Hanya membuang energi.


Drt... drt... drt...


Dering ponsel di saku jas Ron membuat Ellea melemparkan jas itu pada pemiliknya.


Ron menghela napas panjang mengambil ponsel dan melihat siapa orang yang menelponnya.


"Will you marry me?" Tanya Ron sebelum membuat keputusan besar.


"Okey kalau itu yang kau mau." Ron menepikan mobil untuk menjawab telepon. Satu tangannya memegang Ellea agar tidak kabur lagi.


"Aaron kau dimana? Jangan bikin malu orang tua." Suara melengking perempuan paruh baya menyapa telinga Ron.


"Aku sedang di luar ada keperluan mendesak," jawab Ron sambil melirik Ellea yang masih terisak. Tangannya membelai lembut pipi gadis itu namun ditepis Ellea.


"Cepat kembali atau aku pecat jadi anak!!" Sentak sang ibu membuat Ron mendesah berat.


"Iya, nanti aku kembali." Tapi tidak sekarang, lanjut Ron dalam hati. Mana mungkin dia membiarkan Ellea pulang sendirian.

__ADS_1


"Sudah selesai?" Tanya Ellea yang diangguki Ron. Gadis itu membuka pintu mobil, namun segera Ron tahan.


"Kembalilah Ron, tidak ada gunanya kau membuang waktu denganku disini. Semua orang sudah menunggumu."


"Tidak, aku tidak mau. Aku ingin bersama kau disini malam ini." Ucap Ron membawa sang gadis dalam pelukan, seraya membenamkan wajah di ceruk leher Ellea. Aroma tubuh gadis itu membangunkan sesuatu dalam dirinya.


Sementara Ellea menegang saat Ron mengendus-endus lehernya. Ingin memberontak namun menikmati pelukan itu. Pelukan yang mungkin tidak akan pernah ia rasakan lagi nanti.


"Aku tidak bisa Ron, kau sebentar lagi jadi milik orang lain." Ellea berujar yang terdengar seperti bujukan.


"Aku merindukanmu, sangat rindu Lea." Lirih Ron yang terdengar sangat menggelitik di telinga sang gadis.


"Kau harus jadi milikku, tidak boleh ada penolakan lagi." Tegas Ron yang sudah berpindah mengungkung tubuh Ellea.


"Ron jangan," Ellea menutup matanya sambil menggeleng. Ia takut bagaimana dulu Jovie pernah memaksanya seperti ini.


"Kenapa kau tidak mau menurut padaku. Harus dengan cara apalagi aku membuatmu agar menjadi milikku. Empat tahun Lea, empat tahun aku menunggumu." Ron menekan miliknya yang ingin menerobos keluar. Ia tidak mungkin memiliki Ellea dengan cara kotor.


"Kenapa kau selalu memintaku dengan wanita lain, sedang yang ku inginkan itu kau." Ungkap Ron dengan segala rasa sesak di dadanya. Sesak akibat rasa sakit oleh penolakan Ellea.


"Karena aku takut tidak bisa membahagiakanmu," jawab Ellea yang membuat Ron membawa tubuh mungil itu dalam pelukannya.


"Cukup ada kau disisiku aku sudah bahagia, apalagi yang kau takutkan Sayang." Pria itu mengeratkan pelukan, mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Ellea untuk menghancurkan dinding keraguan di hati sang gadis.

__ADS_1


__ADS_2