Love You Mr. Arrogant

Love You Mr. Arrogant
Part 93


__ADS_3

"De, are you okay?" Tanya Ellea ketika melihat Deandra menangis keluar dari kamar. Pemandangan sangat langka melihat wanita yang angkuh sama sepertinya itu menangis. Tentu saja gengsi kalau ketahuan orang menangis.


Pasti ada yang tidak beres, dia pikir pasangan itu hanya bertengkar biasa. Ellea menarik tangan kakak iparnya untuk masuk ke kamarnya.


Istri Edric itu menggeleng, "katakan bagaimana caranya aku bisa baik-baik saja saat Edric ingin menikahi wanita yang dicintainya tapi tidak mau menceraikanku?" Tanya Deandra dengan suara yang terserbu tangisan.


"Awalnya aku memang tidak mencintainya, tapi aku berusaha melakukannya karena dia sekarang adalah suaminya. Tapi hanya luka yang aku dapat," ungkap Deandra meluapkan kesakitannya dalam dada. Tidak peduli kalau dia curhat pada orang yang memang menginginkan hubungannya kandas.


"Sekarang kau senangkan melihat aku seperti ini?" Deandra menghapus air matanya dengan kasar. Kenapa dia sangat cengeng kalau masalah hati.


Ellea sekarang paham dengan apa yang terjadi, "brengsek berani-beraninya dia ingin merebut Edric lagi!" Umpat gadis itu dalam hati. Tentu saja dia tidak setuju wanita yang dicintai Jovie itu menikah dengan kakaknya.


Ellea menggeleng, "kau tahu. Semua itu tidak akan pernah bisa terjadi," untuk pertama kalinya Ellea memeluk kakak iparnya yang selama ini menjadi teman bertengkarnya. Dia memang tidak suka dengan Deandra. Tapi melihat wanita itu serapuh ini, ia mana tega.


"Walau itu tidak terjadi tetap saja hatinya bukan untukku."


Ellea membenarkan perkataan Deandra. sangat menyakitkan memang kalau pria yang kita cintai menyimpan nama wanita lain di hatinya. Gadis itu tidak dapat berkata apa-apa, hanya mengusap punggung Deandra agar lebih tenang.

__ADS_1


Setelah puas menangis dan meluapkan isi hatinya Deandra tertidur di kamar Ellea. Ellea tidak mencegahnya, ia menyelimuti wanita yang matanya sembab dan memerah itu.


Ia tahu bagaimana sakitnya saat mengetahui orang yang dicintai tidak balas mencintai. Dia yang bukan siapa-siapa saja sampai sakit saat Jovie menolaknya. Apalagi Deandra yang yang statusnya sebagai istri.


"Aku akan membantumu pergi dari sini dan menemukan kebahagiaanmu kalau itu yang terbaik." Janji Ellea, daripada melihat Deandra terluka karena Edric yang bodoh. Sudah diselingkuhi masih saja ingin menikahinya. Sungguh kakaknya itu spesies buaya yang paling bodoh.


Keesokan paginya.


"Kau jangan keluar dari kamarku. Biar saja buaya bodoh itu kelimpungan mencarimu," beritahu Ellea.


Tadi malam Edric mengacak-acak seluruh kamar di mansion untuk mencari Deandra. Pria itu tidak mencari ke kamarnya karena tahu dia tidak akur dengan Deandra. Ellea membiarkan saja, biar kakaknya itu tahu rasa.


Mata Deandra membengkak seperti bola ping pong mana bisa dia kuliah hari ini. Meskipun ada perasaan heran kenapa Ellea mau membantunya bersembunyi dari Edric tanpa diminta. Mengingat gadis itu tidak suka dengan dirinya.


"Kita akan pergi setelah Edric berangkat ke kantor." Tutur Ellea, ingin memberikan kakaknya itu kejutan menarik.


"Kemana?" Tanya Deandra penasaran.

__ADS_1


"Entahlah," gadis itu mengedikkan bahu tidak tahu dimana tempat yang tidak bisa ditemukan Edric. "Kita pergi saja dulu, biar buaya spesies langka itu tahu rasa. Enak saja dia mau menikahi wanita rubah itu," decak Ellea.


"Oh, jadi dia membantuku karena tidak suka kalau Edric menikah dengan Alice!" Sekarang Deandra mengerti dengan benang merah yang saling terhubung ini.


Edric mencintai Alice, Jovie mencintai Alice dan Ellea mencintai Jovie. Jadilah gadis itu tidak mau Edric sampai menikahi Alice.


"Tidak ada tempat yang bisa untukku bersembunyi, Dad Tian dan Dad Denis pasti akan menemukanku." Ujar Deandra, berapa kali dia dibawa Om Azmi pergi. Dad Tian selalu bisa menemukannya dengan cepat.


"Benar juga, kalau begitu kita ajak saja Uncle Tian kerja sama. Itu lebih bagus, karena Edric tidak mudah menemukan kita. Biar aku yang bicara pada Dad-mu," ucap Ellea bersemangat.


"Kita masih kuliah Elle," Deandra masih bisa berpikir jernih walau hatinya berantakan seperti ini. Tidak mungkin dia mempertaruhkan masa depannya hanya karena lelaki yang tidak mencintainya.


"Kuliah dipikir nanti saja, aku ingin Edric seperti cacing kremi kepanasan kehilangan kita. Biar dia lupa tujuannya menikahi Alice. Dia pasti tidak akan mengira kalau kita pergi sama-sama."


"Terserah kau saja," sahut Deandra karena Ellea benar. Hati kecilnya juga menginginkan Edric mencarinya dan melupakan pencariannya pada Alice.


"Sekarang lihat, Edric sudah pergi atau belum. Kalau sudah kau masuk ke kamarnya lalu matikan kamera tersembunyi yang ada di saklar lampu. Biar aku bisa ambil pakain ganti." Aba-aba Deandra, tentu saja dia tahu otak licik Edric yang selama ini memasang kamera tersembunyi di kamar mereka.

__ADS_1


"Siap," Ellea mengangkat jari telunjuk dan jempolnya isyarat mengerti. "Rasakan saja bagaimana pusingnya kau kehilangan istrimu tercinta dan aku, Edric!"


Ya, Ellea tahu kakaknya itu sudah mencintai Deandra. Hanya saja belum menyadari. Kalau tidak, mana mungkin terjadi penggeledahan kamar tadi malam di mansion.


__ADS_2