
"Aku mau itu," tunjuk Deandra pada pasta yang sedang Ellea makan.
Istri Edric itu sampai menelan saliva melihat Ellea yang sangat menikmati pasta. Entah ada apa dengan dirinya, ia merasa heran sendiri. Yang tadinya masih malas menegur Edric malah sangat ingin di manja-manja.
Ellea membulatkan mata, mulutnya masih penuh dengan juntaian pasta. Sejak kapan kakak iparnya itu mau makan bekasan orang lain.
"Makan ini saja Sayang," Edric menunjuk pasta yang ada di hadapannya. Tidak kalah heran dengan Ellea, otaknya langsung menebak-nebak. Apa istrinya ini sedang mengandung Edric junior. Kalau benar, itu artinya sebentar lagi ia akan menjadi seorang Daddy.
"Maunya itu!" Deandra merebut sendok berisi pasta yang hampir masuk ke mulut Ellea.
"Elle kau makan ini saja," Edric terpaksa menukar pasta Ellea dengan yang baru.
"Tapi itu bekasku dan ini sangat ped...,"
"Biarkan saja," potong Edric. Tidak mengganggu wanitanya yang sedang bersemangat makan.
Ellea sampai menganga. Belum selesai bicara, pasta yang tadi miliknya itu sudah menyapa mulut Deandra. Gadis itu sontak bergidik jijik membayangkan makan dari bekasan orang lain.
"Edric pedas, huh hah huh!!" Deandra mengipasi mulutnya dengan tangan karena kepedasan.
__ADS_1
Edric dengan sigap memberikan air putih, panik calon anaknya akan ikut kepedasan di dalam sana. "Kenapa tidak bilang kalau pedas Elle!"
"Kan aku tadi bilang, tapi kau malah memotongnya!" Decak Ellea yang semakin heran dengan tingkah Deandra.
"Edric pedas!" Rengek Deandra sampai meneteskan air mata.
"Minum madu Sweetheart," pria itu cepat ke lemari pendingin mengambilkan madu. Kemudian kembali langsung menyendokkan madu ke mulut sang istri.
"Masih pedas," tangis Deandra semakin kencang. Ellea hanya bisa menatap Deandra cengo, sementara Edric sibuk menenangkan wanita tersayangnya.
"Cup... cup... cup, sini aku tiup biar pedasnya hilang." Edric menangkup pipi Deandra seraya membersihkan air mata yang membasahi pipi cantik itu. Kemudian meniup-niup mulut sang istri, tidak lama setelahnya wanita itu berhenti menangis.
"Kau kemasukan setan apa?" Celetuk Ellea yang mendapatkan tatapan tajam dari Edric. Enak saja istrinya dibilang kemasukan setan. "Jaga bicaramu Elle, lanjutkan makan!" Titahnya.
"Mau makan lagi Sweetheart?" Tanya Edric lembut, Deandra mengangguk pelan menunjuk pasta yang sedang dimakan Ellea lagi.
"Kau makan ini saja!" Edric langsung merebut piring di hadapan Ellea menukarnya dengan pasta yang tadi memang milik gadis itu.
"Hiii, aku tidak mau bekasan orang. Kenapa harus merebut milikku, masih banyak yang lain." Kesal Ellea, menatap geli pada pasta di depannya.
__ADS_1
"Makan saja, jangan banyak protes. Pasta itu juga tadi bekasmu!" Decak Edric mengambil sendok dan mencoba pasta di tangannya terlebih dahulu. Setelah memastikan pasta itu tidak pedas baru ia suapkan pada sang istri.
"Enak Sweetheart," tanyanya sambil melap sudut bibir Deandra.
Wanita itu mengangguk lagi-lagi menunjuk minuman yang ada di depan Ellea.
"Ambil saja semuanya!" Seru Ellea sangat kesal, beranjak dari kursi. Bukan makan sampai kenyang dia malah makan hati dibuat Deandra.
Baru saja Ellea beranjak dari kursi Deandra kembali merengek tidak membolehkan Ellea pergi. Wanita itu tersenyum dalam hati, walau merasa aneh dengan dirinya sendiri tapi dia senang melihat wajah kesal sang ipar.
"Elle duduk!" Perintah Edric karena calon baby-nya itu tidak mau jauh-jauh dari aunty-nya.
"Ck, cepat bawa istrimu ini ke dokter jiwa Edric." Ellea jadi resah karena tingkah kakak iparnya yang berubah sangat aneh.
"Jangan sembarangan Elle, Dea tidak gila!!" Tegur Edric tidak terima wanita tersayangnya dianggap gila hanya karena sedang rewel efek benih unggul yang dia tanam mulai tumbuh di dalam sana.
"Aku tidak bicara sembarangan Edric, itu kenyataannya!"
Deandra tidak mempedulikan perdebatan kakak dan adik itu. Membiarkan Ellea menganggapnya gangguan jiwa, ia sedang senang melihat wajah kesal Ellea.
__ADS_1