
Ellea terbangun tengah malam karena kedinginan. Gadis itu menyingkirkan benda berat yang menindih perutnya.
"Aaaaaa," pekiknya saat tersadar siapa yang membuat perutnya terasa berat.
Ron yang terkejut langsung bangun, "Sayang ada apa?" Tanyanya khawatir.
"Sayang, sayang kepala peyang. Kenapa kau tidur di kamarku!!" Sentak Ellea galak.
Pria yang nyawanya belum bersatu itu ikut berpikir keras. Tidur di kamar Ellea? Perasaan mereka sedang berada di kamar hotel.
"Kita di hotel Sayang, bukan di kamarmu." Beritahu Ron yang mengira Ellea marah karena mereka tidur di kamar tidak di hotel.
"Apa? hotel?" Ellea bangun menatap Ron sengit, membuat selimutnya melorot. Sejurus membuat gadis itu berteriak tengah malam, untung kamar hotel kedap suara. "Ron kau apakan aku? Kenapa aku gak pakai baju, kau harus tanggung jawab!!"
Ron yang baru tersadar kalau Ellea belum menyadari apa yang terjadi kini mulai mengerti lalu menjelaskan duduk permasalahannya.
"Kau tidur di bathtub jadi aku pindah ke kamar," terang Ron membantu memegangi selimut Ellea. Bukan karena dia baik hati, tapi karena adik kecilnya ikutan bangun dan dia hanya bisa melihat tapi belum boleh menyentuh.
"Ron, kau itu tahu aku malu atau tidak sih." Ucap Ellea lemas setelah sadar posisinya sekarang sebagai istri Ron.
"Terus aku harus apa? Masa aku biarkan kau tidur semalaman sambil berendam, nanti jadi mengembang. Lebih baik aku yang bikin perutmu mengembang." Ron menarik istrinya yang malu-malu dalam pelukan.
"Tadi tutup mata tidak?" Tanya Ellea, Ron menggelengkan kepala membuat wanitanya meringis dengan wajah merona merah.
"Kau tambah cantik kalau malu-malu begini," bisik Ron dengan nakal. Semakin membuat Ellea jadi seperti putri malu.
Bukan Ron namanya kalau menyerah begitu saja. Karena Tuhan sudah memberi jalan untuknya dengan membangunkan Ellea.
__ADS_1
"Aku takut," jujur Ellea. Ia bukan tidak tahu kalau Ron sedang menahan diri untuk tidak menerkamnya.
"Aku akan pelan-pelan," janji Ron yang mengerti kekhawatiran Ellea.
"Janji? Kalau sakit tidak jadi." Ujar Ellea yang tidak dijawab Ron. Karena Ron tidak tahu akan sakit atau tidak. Ia tidak pernah melakukannya.
"Kenapa diam?"
"Aku tidak tahu sakit atau tidak, tapi aku akan melakukannya dengan hati-hati." Ron meyakinkan Ellea, karena tidak ingin gagal membuka tutup botol. Bisa-bisa ia ditertawakan Edric kalau tahu nasibnya tidak beruntung.
"Tidak jadi, aku takut." Ellea kembali membaringkan tubuhnya lalu bergelung dibawah selimut.
"Sayang," rengek Ron yang tidak melepaskan istrinya begitu saja. "Kita cicil ya," rayu Ron tidak kehabisan akal. Menyingkap selimut Ellea yang bagian kepala lalu mengelus bibir mungil sang istri dengan jemarinya.
Ellea yang hanya menggunakan handuk tentu saja sudah tersengat-sengat sejak tadi. Kepala mungil itu mengangguk yang membuat sang suami kegirangan. Hilang sudah rasa kantuk dan lelah yang tadi Ron rasakan.
"Rileks Sayang," bisik Ron yang sudah memimpin permainan. Sampai akhirnya ia bisa menerobos pertahanan Ellea walau dengan banyak drama.
"Ron stop," mohon Ellea sampai menitikkan air mata saat merasakan nyeri yang tak tertahankan. Kuku-kukunya menancap di punggung Ron. Sungguh ia tidak sanggup untuk melanjutkannya.
"Tahan sebentar Sayang," bujuk Ron kembali menyatukan bibirnya untuk mengalihkan rasa sakit yang Ellea rasakan. Walau punggungmya juga sakit karena cakaran sang istri. Sungguh ia tidak rela jika disuruh berhenti di tengah jalan.
Setelah sekali lagi membuat Ellea berteriak kesakitan. Akhirnya Ron bisa membawa istrinya itu mengikuti permainan sampai kelelahan.
"I love you," bisik Ron membawa tubuh Ellea yang terkulai lemas dalam pelukan.
Ellea sudah tidak bisa menyahut karena tubuhnya terasa remuk. Bisa dipastikan besok pagi ia tidak bisa bangun, selain kakinya yang kram karena hampir seharian berdiri. Juga karena perbuatan Ron, yang sialnya ia tidak berdaya untuk menolak.
__ADS_1
Sementara di kamar yang lain Edric tidak mau kalah dengan pengantin baru. Dengan tekad yang kuat ia membawa Deandra menginap di hotel karena ingin memberikan adik untuk Calla. Sedang putrinya di titipkan pada Dad Tian dan Buba Ressa.
Keesokan paginya.
Ellea terpaksa bangun walau tubuhnya terasa remuk sampai ke tulang-tulang. Karena pagi ini sudah dijadwalkan sarapan bersama keluarga besarnya.
Begitu juga dengan Deandra yang tidak kalah tersiksa dari Ellea. Karena Edric membuatnya tidak karuan tidur semalaman.
"Sayang kau kurang tidur?" Tanya Dad Harry pada menantunya. Kalau Ellea wajar kurang tidur karena melakukan ritual pengantin baru.
"Tanya anak Daddy," sahut Deandra lesu yang membuat meja makan jadi riuh. Hanya Ellea yang tidak ikut menertawakan kakak iparnya karena ternyata nasib mereka sama.
"Kalau sudah membuat putriku kelelahan seperti itu tidak jadi juga, kupecat kau jadi menantu!!" Seru Dad Tian.
Sontak Deandra memelototkan mata pada sang daddy karena mendukung Edric untuk punya anak lagi.
"Sweetheart matanya," Edric hanya menanggapi ucapan Dad Tian dengan tersenyum dan mengedipkan mata. "Setelah ini kau istirahat seharian, aku tidak akan mengganggu." Bisiknya pada sang istri sambil mengusap di kepala.
"Dengar Ron, itu juga berlaku untuk kau!! Aku tidak perlu mengulanginya lagi kan?" Ujar Dad Harry ikut-ikutan.
"Yes Dad," sahut Ron semangat. Sementara Ellea menghembuskan napas berat menelungkupkan wajahnya ke meja.
"Lelah bestie," celetuk Deandra dengan tawa gelak. Karena tidak hanya dia sendirian yang diteror untuk produksi cucu. Biarkan dia tertawa untuk menghibur dirinya sendiri walau tidak lucu.
...TAMAT...
Alhamdulillah bisa menyelesaikan cerita ini. Mohon maaf kalau tidak bisa memenuhi ekspektasi para pembaca. Karya ini hanya hasil halu author yang memiliki banyak kekurangan. Jangan ditiru yang buruk dari cerita ini. Terima kasih sudah menemani author sampai di penghujung cerita. Love you semuanya. Sempatkan mampir di karya aku yang lain ya. 🥰🥰🥰
__ADS_1