
Sesampainya di apartemen Edric membaringkan Deandra ke tempat tidur. Wanitanya itu seperti tidak memiliki tenaga, berjalan saja sempoyongan.
"Mau aku bantu ganti pakaian Sweetheart?" Tanya Edric seraya melepaskan alas kaki sang istri.
"Aku bisa sendiri."
Walau Deandra bersikap dingin tapi Edric tidak terpancing emosi. Tetap memperhatikan wanitanya itu dengan sabar. "Istirahatlah dulu, aku buatkan minuman hangat."
"Aku tidak mau minum," ketus Deandra. Dia itu inginnya di peluk, entah kenapa saat berada dalam gendongan Edric tadi rasanya sangat nyaman. Pusingnya juga hilang, aroma tubuh Edric membuatnya jadi tenang. Tapi ia gengsi untuk mengatakannya.
"Kau ini masih sakit, marah-marahnya dipending dulu. Nanti tenagamu semakin terkuras," Edric tertawa kecil mengusap kening Deandra yang berkeringat.
Hanya sentuhan kecil seperti itu sudah membuat tubuh Deandra tersengat arus listrik. Tanpa sadar wanita itu beringsut gelisah mencari kenyamanan di tubuh Edric yang duduk di sisi tempat tidur. Membuat si empunya mengerutkan kening.
"Mau di peluk Sweetheart," Edric dengan sigap membawa Deandra dalam pelukan. Tubuh yang tadi gelisah itu langsung jadi lebih tenang.
"Dia ini kenapa?" Pria itu dibuat semakin bingung.
__ADS_1
"Pijat disini!" Perintah Deandra setelah mendapat posisi ternyaman dalam pelukan sang suami. Menarik tangan Edric ke bagian punggungnya. Padahal minta dielus tapi gengsi mengucapkan.
"Begini?" Tanya Edric memijat-mijat pelan punggung sang istri.
"Salah!" Dengus Deandra menggerakkan tangan Edric untuk mencontohkan.
"Ini bukan pijat, tapi dielus." Gumam Edric, tapi hanya dalam hati. Bakal tambah merajuk bayi besarnya ini kalau mendengar dia berkata seperti itu.
Belum sampai satu menit Edric mengelus-elus punggung Deandra wanitanya itu menunjuk area yang lain lagi.
"Gatal disini!"
"Bukan Edric!"
"Terus dimana Sayang?" Tanya Edric yang ingin tertawa melihat kekesalan Deandra. "Rupanya kau juga tidak tahan puasa lama."
Deandra menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan lenguhan saat Edric memberikan sentuhan di tempat yang ia inginkan.
__ADS_1
"Kau menginginkannya?" Edric baru menyadari kalau kadar gengsi istrinya ini selangit.
"Tidak!" Ucap mulut Deandra sangat berbeda dengan yang tubuhnya inginkan.
"Tapi dia menginginkannya," bisik Edric yang membuat Deandra bergelinjang karena tidak bisa membohongi reaksi tubuhnya saat sang pria memanjakannya.
"Edric, aku tidak mau!" Pekik Deandra saat Edric membaringkannya dan bersiap untuk menyantapnya.
"Aku tahu kau masih marah Sweetheart. Aku tidak akan melakukannya," Edric bangun dari tempat tidur beranjak ke bathroom. Tidak ingin melakukannya saat sang wanita menolak.
Deandra menggulung tubuhnya dengan selimut saat Edric menjauh darinya. Wanita itu menangis tanpa sebab, ia bahkan tidak tahu apa yang membuatnya kesal.
"Sayang," Edric yang keluar dari bathroom menarik selimut saat mendengar suara sesenggukan.
"Aku tidak akan melakukannya kalau kau tidak mau, jangan menangis." Pria itu dibuat semakin bingung karena Deandra menangis bertambah kencang.
"Sweetheart kau mau apa?" Edric menangkup pipi yang basah dengan air mata itu. Kenapa wajah wanitanya itu malah terlihat lucu bukan menyedihkan.
__ADS_1
"Peluk," rengek Deandra. Edric dengan sigap memeluknya dan wanita itu langsung berhenti menangis.
"Kau ini kenapa?" Edric menghela napas panjang tidak tahu apa yang terjadi dengan wanitanya ini.